Rangking Atlet Indonesia (6 Agustus 2009)
Setali tiga uang dengan bulan Juni, Juli pun merupakan bulan penuh turnamen, walaupun dengan level yang berbeda. Putra-putri Indonesia berlaga di Filipina Grand Prix Gold, Thailand Grand Prix Gold, Australia Grand Prix, serta Selandia Baru Grand Prix sepanjang bulan Juli.
Perbandingan sebulan terakhir terbagi menjadi dua kubu: lompatan ekstrim atau stagnan adem ayem.
Tunggal Putra
4. Taufik Hidayat
6. Sony Dwi Kuncoro
14. Simon Santoso (13) -
16. Andre Kurniawan Tedjono (17) +
51. Dionysius Hayom Rumbaka (73) + + + +
65. Tommy Sugiarto (55) – -
77. Ari Yuli Wahyu Hartanto (76) -
81. Alamsyah Yunus (new)
Tunggal Putri
19. Maria Kristin Yulianti (18) -
22. Adriyanti Firdasari (21) -
25. Maria Febe Kusumastuti (47) + + + +
57. Rosaria Yusfin Pungkasari (58) +
70. Fransiska Ratnasari (new)
82. Maria Elfira Christina (76) -
Ganda Putra
1. Markis Kido/Hendra Setiawan
7. Muhammad Ahsan/Bona Septano (10) +
11. Alvent Yulianto/Hendra Gunawan (21) + +
13. Yonatan Suryatama Dasuki/Rian Sukmawan (16) +
29. Fernando Kurniawan/Lingga Lie (36) + +
37. Fran Kurniawan/Rendra Wijaya
42. Tony Gunawan/Candra Wijaya (41) -
49. Hendra Gunawan/Joko Riyadi
53. Wifqi Windarto/Afiat Yuris Wirawan (46) -
90. Joko Riyadi/Candra Wijaya (87) -
Ganda Putri
9. Shendy Puspa Irawati/Meiliana Jauhari
10. Greysia Polii/Nitya Krishinda Maheswari
35. Jo Novita/Rani Mundiastuti (31) -
53. Endang Nursugianti/Lita Nurlita (59) +
41. Annisa Wahyuni/Anneke Feinya Agustin (60) + + +
56. Debby Susanto/Pia Zebadiah Bernadeth (NEW)
73. Nadya Melati/Natalia Christine Poluakan (66) -
Ganda Campuran
2. Nova Widianto/Lilyana Natsir
16. Devin Lahardi Fitriawan/Lita Nurlita
30. Flandy Limpele/Anastasia Russkikh (INA/RUS/41) + +
47. Flandy Limpele/Vita Marissa (45) -
55. Muhammad Rijal/Debby Susanto (90) + + + + +
61. Tantowi Ahmad/Puspita Richi Dili (83) + + + +
75. Fran Kurniawan/Pia Zebadiah Bernadeth (NEW)
90. Anggun Nugroho/Endang Nursugianti (88) -
3 comments 10 Agustus 2009
Rangking Atlit Indonesia Top 100 (2 Juli 2009)
Vakumnya tim PB Djarum di banyak perhelatan internasional membuat peringkat para atlitnya tergelincir, bahkan sampai jauh ke bawah. Ganda putri menunjukkan perkembangan yang baik, tetapi ganda campuran yang selama ini menjadi salah satu tumpuan perlu dicermati dengan hati-hati karena jurang kembali terlihat.
Tunggal putri sendiri belum memberikan gempuran berarti sampai saat ini. Maria Kristin masih berkutat dengan cederanya, sedangkan Maria Febe walaupun berpotensi tetapi masih belum cukup matang. Amunisi perlu segera diperbanyak dan dipoles.
Tunggal Putra
4. Taufik Hidayat (5) +
6. Sony Dwi Kuncoro
13. Simon Santoso (8) -
17. Andre Kurniawan Tedjono
55. Tommy Sugiarto (44) – -
73. Dionysius Hayom Rumbaka (69) -
76. Ari Yuli Wahyu Hartanto (45) – - – - -
Tunggal Putri
18. Maria Kristin Yulianti (15) -
21. Adriyanti Firdasari (20) -
35. Pia Zebadiah Bernadet (30)
47. Maria Febe Kusumastuti (46) +
58. Rosaria Yusfin Pungkasari (55) -
76. Maria Elfira Christina (44) – - – - -
Ganda Putra
1. Markis Kido/Hendra Setiawan
10. Muhammad Ahsan/Bona Septano (8) -
16. Yonatan Suryatama Dasuki/Rian Sukmawan (11) -
21. Alvent Yulianto/Hendra Gunawan (42) + + +
36. Fernando Kurniawan/Lingga Lie (22) – -
37. Fran Kurniawan/Rendra Wijaya (18) – - -
41. Tony Gunawan/Candra Wijaya (25) – - -
46. Wifqi Windarto/Afiat Yuris Wirawan (54) + +
49. Hendra Gunawan/Joko Riyadi (53) +
87. Joko Riyadi/Candra Wijaya (91) +
Ganda Putri
9. Shendy Puspa Irawati/Meiliana Jauhari (8) -
10. Greysia Polii/Nitya Krishinda Maheswari (25) + + +
31. Jo Novita/Rani Mundiastuti (35) +
53. Endang Nursugianti/Lita Nurlita (59) +
60. Annisa Wahyuni/Anneke Feinya Agustin (NEW!) + + + + +
66. Nadya Melati/Natalia Christine Poluakan
86. Dewi Komala/Debby Susanto (89) +
Ganda Campuran
2. Nova Widianto/Lilyana Natsir (1) -
16. Devin Lahardi Fitriawan/Lita Nurlita (21) +
37. Fran Kurniawan/Shendy Puspa Irawaty (15) – - – -
40. Rendra Wijaya/Meiliana Jauhari (23) – - -
41. Flandy Limpele/Anastasia Russkikh (INA/RUS/55) + +
45. Flandy Limpele/Vita Marissa (27) – - -
83. Tantowi Ahmad/Puspita Richi Dili (90) +
88. Anggun Nugroho/Endang Nursugianti (60) – - – -
90. Muhammad Rijal/Debby Susanto (NEW!)
Add comment 7 Juli 2009
Febe Target Masuk Pelatnas Tahun Ini
Foto: PB DjarumFebe atau Maria Febe Kusumastuti menarik perhatian masyarakat saat menjadi wakil tunggal putri yang bertahan paling akhir di Djarum Indonesia Open Super Series 2009, yakni sampai di perempat final. Di babak pertama ia menundukkan unggulan kelima dari Perancis, Pi Hongyan lalu menyerakkan pemain India, Aditi Mutatkar di babak kedua sebelum akhirnya tumbang di tangan unggulan ketiga, Wang Lin dari Tiongkok.
Dengan “hanya” bertinggi badan 162 cm, Febe terlihat mungil di atas lapangan. Tetapi jangan terkecoh dengan badannya yang mungil tersebut, karena Febe sangat lincah dan benteng pertahanannya tergolong kokoh.
Lahir di Boyolali, Jawa Tengah, 30 September 1989, Febe menemukan cintanya pada bulutangkis karena sering bermain bersama keluarganya. Sejak berusia tujuh tahun, ia mulai ikut pertandingan dan pada usia 12 tahun ia bergabung dengan PB Djarum sampai saat ini.
Febe sudah pernah dipanggil untuk masuk pelatnas, tetapi saat itu ia merasa belum matang secara teknik sehingga memilih untuk lebih menempa dirinya di klubnya yang sekarang. Setelah itu ia pernah dipanggil lagi, tetapi ia tidak dapat memenuhi panggilan tersebut karena sakit.
“[Target saya tahun ini] ingin masuk pelatnas,” kata Febe. Ia ingin membela tanah air di perhelatan yang membawa tim negara seperti Piala Sudirman dan Piala Uber.
Ditunggu kehadirannya di Pelatnas ya, Jeng. Tetap semangat!
Prestasi Febe
Perempat finalis Indonesia Open Super Series 2009
Semifinalis Vietnam Internasional 2009
Juara Sirnas Kalimantan 2009
Juara Bitburger Open Grand Prix 2008
Juara Beregu Piala Gubernur Kudus 2008
Juara Dutch (Belanda) Junior 2007
Juara Brazil international Coris Corporate 2006
Add comment 22 Juni 2009
Catatan Pinggir Lapangan: Indonesia Open 2009
BLETAK! Kepala Bona pun Tersambit
Saat pengembalian bola dari tim Inggris (Anthony Clark/Nathan Robertson) yang mengarah ke garis belakang kanan Mohammad Ahsan/Bona Septano yang tidak terjaga, Ahsan langsung berlari ke titik tersebut. Penonton menahan nafasnya, “AKKKKKH!,” karena mengira bola tidak akan terkejar. Lalu penonton bersorak, “YEEEEEE!,” karena Ahsan berhasil mengambil bola tersebut. Lalu penonton terhenyak sebentar, “HE?” lalu terbahak-bahak, “HAHAHAHAHAHAHAHA!” karena drive keras Ahsan tersebut ternyata menyambit bagian belakang kepala pasangannya sendiri, Bona. Bona pun termanyun-manyun sambil mengusap-usap belakang kepalanya yang nyaris licin itu. Ahsan pun hanya dapat tersenyum kecut.
Demam Lee Yong Dae

Jika tahun lalu yang menjadi bintang adalah Bao Chunlai, kali ini yang menjadi bintang adalah Lee Yong Dae (dan tentunya Taufik Hidayat). Si belia berusia 21 tahun dan berparas apik ini selalu mendapat dukungan luar biasa dari publik Istora. Ditambah lagi dengan permainannya yang mengundang decak kagum. Tak heran ia rela melepas kaosnya dan menerbangkannya ke arah penonton yang berteriak-teriak histeris. “Saya paling suka main di Indonesia,” tukasnya sembari tersenyum.
LHOOO???? Angka Kok Bisa Kena Korupsi
Di pertandingan final penutup antara Lee Yong Dae/Jung Jae Sung dan Fu Haifeng/Cai Yun sempat terjadi keributan. Pasalnya, saat angka seharusnya bergerak naik dari 11-9 (untuk kemenangan Tiongkok) ke 11-10, ternyata sang wasit lupa mencet. Alhasil proteslah Lee/Jung ke wasit yang awalnya sempat tidak ngeh dan memaksa melanjutkan pertandingan. Begitu para pemain menunjuk-nunjuk papan skor, barulah dia sadar dan mulai mengutik-utik layar monitor kecil di depannya. Trek! papan skor pun berubah … jadi 10-10. LHOOOO???? Kok nilainya Fu/Cai malah turun?! Sontak para pemain dan penonton melancarkan aksi protes yang mungkin membuat sang wasit semakin grogi. Angka pun berubah kembali menjadi … 11-9. LHOOOOO???? Setelah sekian lama, barulah akhirnya sang wasit berbalik ke jalan yang benar ke angka 11-10, dan akhirnya pertandingan kembali berjalan. Piye to mas…
Lempar Yuk Lempar
Tingginya tingkat persaingan di Indonesia Open tahun ini membuat hati para pemenang suatu pertandingan bergejolak gembira luar biasa. Dan biasanya, mereka ini lalu akan melemparkan sesuatu (bisa tunggal atau jamak) ke arah penonton: dari wrist band sampai raket!
Mau dong… siapa tahu kecipratan ilmunya…
Merokok Nggak Merokok?
Di dalam gedung Istora, terbentang spanduk besar yang ditempelkan pada bagian atas tembok tengah yang bertuliskan: “DILARANG MEROKOK! NO SMOKING!” dengan dua gambar rokok yang dicoret. Lucunya, satu spanduk itu “tenggelam” di tengah-tengah spanduk-spanduk dan umbul-umbul DJARUM SUPER sebagai sponsor utama perhelatan ini. Tahu sendiri dong Djarum jualannya apa?
Indonesia vs Malaysia: Lapangan dan Politik
Isu garis perbatasan negara, pengakuan keaslian kebudayaan, dan Manohara ternyata berimbas ke lapangan. Setiap atlit Malaysia yang disebutkan namanya akan menerima sorakan merendahkan: “HUUUUUUUU!!!!!” Dan bahkan teriakan, “MALING PULANG! MALING PULANG!”
Padahal lapangan bulutangkis (dan olahraga pada umumnya) adalah daerah steril yang bebas dari masalah politik dan teman-temannya. Yang ada adalah semangat sportifitas yang mengandalkan kemampuan, kekuatan fisik dan mental, serta kecermatan otak dan mata.
Lagipula, atlit bukanlah politikus dan pelaku kejahatan. Tidakkah sebagai tuan rumah seharusnya kita menjamu siapa pun yang bertandang ke negeri kita dengan baik, ramah, dan sopan?
Dan saya pun hanya dapat mengelus dada dan dalam hati meminta maaf pada segenap atlit Malaysia saat segerombolan penonton di tribun atas Lee Chong Wei yang awalnya meneriaki “Maling Pulang!” kemudian meminta Chong Wei melemparkan sesuatu kepada mereka setelah kemenangannya atas Park Sung Hwan (KOR) di semifinal…
6 comments 21 Juni 2009
Indonesia Open 2009: Persaingan Ketat, Nihil Gelar
Tahun ini Indonesia harus gigit jari karena tidak ada gelar yang jatuh ke tangan sendiri di perhelatan Djarum Indonesia Open Super Series 2009. Tunggal putra jatuh ke Malaysia, tunggal putri ke Indonesia, ganda putra ke Korea (Selatan), ganda putri ke Malaysia (lagi), dan ganda campuran ke Tiongkok.
PBSI akan melakukan evaluasi. Tetapi secara garis besar, memang persaingan tahun ini luar biasa menekan. Sekitar 80% dari pemain 10 besar dunia dari kelima partai turut serta di ajang ini. Tentu saja ini berbeda jauh dari Indonesia Open tahun lalu dimana banyak pemain papan atas yang absen karena berkonsentrasi untuk persiapan Olimpiade Beijing.
Lalu apakah ini berarti Indonesia tidak siap?
Tidak juga. Banyak faktor yang mempengaruhi. Tingkat persaingan. Cedera. Usia. Mental. Konsentrasi. Angin. Keberuntungan…
Contohnya, Markis Kido/Hendra Setiawan yang melawan Lee Yong Dae/Jung Jae Sung di semifinal partai ganda putra. Kedua pasangan sama hebatnya, sama kuatnya, sama kokohnya. Tetapi Kido yang sempat mengalami cedera lutut parah tidak dapat melakukan jumping smash sebanyak dan sekuat yang dulu pernah ia lakukan. Ditambah lagi mereka sempat melakukan rotasi formasi: Kido di depan (biasanya di belakang) dan Hendra di belakang (biasanya di depan). Dari dua faktor ini saja sudah cukup membuat posisi Markis/Hendra melemah dibandingkan Lee/Jung yang prima.
Atau Nova Widianto/Lilyana Natsir yang gugur di tangan sang juara, Zheng Bo/Ma Jin karena faktor stamina Nova yang tergerus usia. “Umur tidak bisa dibohongi,” kata Nova.
Atau Adrianti Firdasari yang bermain begitu apik dan prima, tetapi akhirnya harus menyerah pada cedera ankle kaki kanannya; setali tiga uang dengan Mohammad Ahsan (ganda putra) yang mengalami cedera punggung padahal ia bermain begitu dahsyat di awal pertandingan babak pertama tersebut.
Satu hal yang pasti, para pemain kita sudah memberikan yang terbaik.
Dan satu kabar baiknya adalah … pssst … Tiongkok hanya mampu merebut satu gelar juara padahal memiliki finalis di empat partai. Tanda-tanda keruntuhan dominasi Tiongkok kah?
Hasil Djarum Indonesia Open Super Series 2009
Tunggal putra: Lee Chong Wei (MAS/1) bt Taufik Hidayat (INA/5)
Tunggal putri: Saina Nehwal (IND/6) bt Wang Lin (CHN/3)
Ganda putra: Lee Yong Dae/Jung Jae Sung (KOR/6) bt Fu Haifeng/Cai Yun (CHN/5)
Ganda putri: Wong Pei Tty/Chin Eei Hui (MAS/1) bt Cheng Shu/Zhao Yunlei (CHN/2)
Ganda campuran: Zheng Bo/Ma Jin (CHN/5) bt Lee Yong Dae/Lee Hyo Jung (KOR/2)
10 comments 21 Juni 2009
Yang Bisa Mencuri Perhatian di Senayan
(oleh Elina Ciptadi, Singapura)
Catatan ga penting dari saya yang bukan pengamat bulutangkis …
Berdasarkan penampilan mereka di Singapore Open Super Series 2009 dan beberapa turnamen lainnya dua tahun belakangan ini, siapa kira-kira pemain yang bisa mencuri perhatian kita di Indonesia Open 2009, sekaligus menjadi jagal bagi pemain-pemain unggulan? Berikut beberapa di antaranya yang perlu dicermati:
Salakjit Ponsana (Tunggal Putri, Thailand)
Mungkin bakat bulutangkis menurun di keluarga ini. Adik pemain tunggal putra Boonsak Ponsana ini menghentikan unggulan keempat Wang Chen (Hong Kong) di babak pertama Singapore Open 2009. Sebelumnya, dia sempat membuat Zhang Ning (China) kerepotan di Olimpiade Beijing 2008, sebelum akhirnya menyerah rubber set setelah bertarung lebih dari satu jam. Di Indonesia Open kali ini, dia sudah harus bertemu unggulan ketiga Wang Lin (China) di babak pertama. Kalau menang, dia kemungkinan bertemu Adrianti Firdasari di babak kedua. Kita tunggu apakah pemain easy going yang sekarang bertengger di peringkat 20 dunia ini bisa melewati babak pertama.
Tien Minh Nguyen (Tunggal Putra, Vietnam)
Tien Minh Nguyen sudah jadi bahan berita tahun 2007 ketika dia mengalahkan Taufik Hidayat di Philippines Open. Tapi dia makin menunjukkan taringnya setelah itu. Minggu lalu, pemain yang ulet dan memiliki kombinasi pukulan yang lengkap ini baru saja mengalahkan pemain nomor satu dunia Lee Chong Wei di babak kedua Singapore Open Super Series. Sempat bertahun-tahun berlatih tanpa dana dan perlengkapan memadai, pemain yang sering terlihat tanpa pelatih dan berkaos butut ini sekarang bertengger di peringkat 11 dunia dan sudah memiliki sponsor untuk perlengkapan serta mendanai kehadirannya di turnamen-turnamen.
Hendri Kurniawan Saputra / Hendra Wijaya (Ganda Putra, Singapura)
Ganda peringkat 53 dunia ini mengalahkan unggulan kedelapan Tan Fook Choong / Lee Wah Wah dari Malaysia di Singapore Open SS 2009. Di babak berikutnya, mereka mengalahkan satu lagi ganda putra Malaysia Chew Choon Eng / Chan Chong Ming – peringkat 11 dunia. Di perempat final, mereka memberi perlawanan sengit terhadap Markis Kido / Hendra Setiawan, dan nyaris mengalahkan pasangan terbaik Indonesia ini. Perlu dicatat bahwa mereka pernah mengalahkan Kido/Hendra di tahun 2007. Secara teknis, kecepatan dan kekompakan, Hendri/Hendra setara dengan pemain top dunia manapun dan bisa memberi kejutan, apalagi bermain di Senayan yang merupakan “tempat main” mereka sebelum hijrah ke Singapura.
Anup Sridhar (Tunggal Putra, India)
Pemain yang sampai tahun lalu masih sempat menulis sendiri di blog-nya ini harus melewati babak kualifikasi untuk bisa bertanding di babak utama Indonesia Open 2009. Demikian pula kisahnya di Singapore Open 2009. Tapi harus dicatat bahwa atlet peringkat 39 dunia inilah yang mengalahkan Peter Gade di babak kedua Singapore Open Super Series serta pernah mengungguli Taufik Hidayat di tahun 2007. Sejalan dengan semakin meningkatnya prestasinya, dia sekarang sudah tidak ada waktu untuk menulis di blog-nya ….
Add comment 17 Juni 2009
Kuburan Korea di Singapura
Foto: Greysia Polii melakukan servis di semifinal Singapura Terbuka Super Series 2009 saat melawan pasangan Denmark, Kamilla Rytter Juhl/Lena Frier Kristiansen, Sabtu (13/6) (Elina Ciptadi)
Semua wakil negeri ginseng di semifinal Singapura Terbuka Super Series 2009 yang berlangsung sejak Selasa (9/6) kemarin gugur hari ini di medan stadium tertutup Singapura, padahal dua dari tiga wakil ini menjadi harapan utama negeri tersebut. Setengah kursi final esok hari telah di-booking negeri panda, dan Indonesia meloloskan dua dari tiga wakilnya di semifinal ke final.
Kesedihan Korea (Selatan) berawal dari kekalahan unggulan kedua ganda campuran, Lee Yong Dae/Lee Hyo Jung dari pasangan Tiongkok, Zheng Bo/Ma Jin (unggulan kelima). Kedua pasangan yang setaraf ini bermain cermat dan baik, hanya saja entah mengapa pasangan Korea terasa sulit melewati benteng Zheng/Ma terutama dengan permainan net cantik Ma Jin yang seringkali membuat pasangan Korea tak berkutik. Mereka pun keok 14-21, 18-21 setelah berjuang selama 42 menit.
Harapan finalis kemudian turun ke atlit tunggal putra yang mengalahkan harapan Indonesia, Sony Dwi Kuncoro, di perempat final kemarin, Park Sung Hwan yang melawan Boonsak Ponsana (Thailand).
Sekilas tampak Sung Hwan unggul karena permainan net Boonsak seringkali kurang cermat dan tanggung, tetapi pengembalian net tanggung dari Boonsak tersebut jarang disambar oleh Sung Hwan sehingga memberi kesempatan bagi Boonsak untuk memulihkan posisinya. Sung Hwan sendiri terlalu sering melakukan kesalahan sendiri, baik bola keluar lapangan maupun membentur dinding net.
Boonsak yang tidak memiliki ekspresi dan bermain seakan seadanya itu –bergerak seakan tanpa gairah, banyak membiarkan bola yang jatuh di dekat garis dan baru memukulnya saat melihat bola akan masuk, menunggu bola turun– akhirnya mendapat kesempatan untuk menekan Sung Hwan. Apalagi Boonsak memiliki senjata luar biasa: drive cepat, tajam, dan menekan lawan serta smes cepat dan tajam yang beberapa kali membuat Sung Hwan tak berkutik sama sekali.
Seakan hilang akal dan karenanya menjadi semakin grogi, Sung Hwan bermain tidak seprima saat ia melawan Sony, dan ketika akhirnya pengembalian Sung Hwan keluar lapangan, Boonsak yang tanpa ekspresi itu tiba-tiba berteriak dan melempar raketnya, tersungkur girang. Sung Hwan kalah 21-19, 18-21, 13-21.
Asa terakhir Korea Selatan yang bermain prima, pasangan ganda putri Ha Jung Eun/Kim Min Jung, yang melawan pasangan senior Tiongkok, Zhao Tingting/Zhang Yawen juga akhirnya harus mengakui kelebihan Zhao/Zhang setelah bertarung selama 50 menit dan melewati banyak reli-reli panjang yang menahan nafas penontonnya. Ha/Kim kalah 20-22, 18-21.
Dan habislah sudah prajurit Korea di Singapura.
Di final esok hari, 10 tiket final jatuh ke Tiongkok (lima wakil: tunggal putra, tunggal putri, ganda putri, dan dua ganda campuran), Indonesia (dua wakil: ganda putra dan putri), dan sisanya jatuh ke tangan Thailand (tunggal putra), Inggris (ganda putra), dan Hongkong (tunggal putri).
Disiarkan langsung oleh stasiun TV swasta lokal, Global TV, final esok hari akan dimulai pukul 12 siang hari waktu Indonesia bagian barat (WIB), dimulai dengan ganda putri Indonesia.
Hasil Semifinal Atlit Indonesia
Nova/Lilyana (1) vs Xie Zhongbo/Zhang Yawen (CHN/6): 20-22, 20-22 (42’)
Grace/Nitya vs Lena Frier Kristiansen/Kamilla Rytter Juhl (DEN/8): 22-20, 21-12 (35’)
Markis/Hendra (1) vs Lars Paaske/Jonas Rasmussen (DEN/4): 21-12, 21-16 (29’)
Jadwal Final Mulai pukul 12:00 WIB
WD: Nitya/Greysia vs Zhang Yawen/Zhao Tingting (CHN/5)
WS: Zhou Mi (HKG/1) vs Xie Xingfang (CHN/8)
MD: Markis/Hendra (INA/1) vs Anthony Clark/Nathan Robertson (ENG)
XD: Xie Zhongbo/Zhang Yawen (CHN/6) vs Zheng Bo/Ma Jin (CHN/5)
MS: Bao Chunlai (CHN) vs Boonsak Ponsana (THA)
2 comments 13 Juni 2009
Berondong Kejutan dari Singapura

Foto: Pasangan ganda putri Indonesia yang lolos ke perempat final Singapura Terbuka Super Series 2009, Nitya Krishinda Maheswari/Greysia Polii (Getty Images)
Kekalahan Simon disusul unggulan pertama dan kedua, Lee Chong Wei dan Peter Gade
Setelah pesta kemenangan tim Indonesia di babak pertama Singapura Terbuka Super Series 2009 yang dimulai Selasa (9/6) kemarin, hari ini ternyata penonton memperoleh banyak kejutan, terutama dari sektor tunggal putra. Kita tidak akan lagi melihat aksi Simon Santoso, Lee Chong Wei, Peter Gade, dan Koo Kien Keat sepanjang minggu tersisa ini.
Unggulan pertama dan kedua tunggal putra ternyata hari ini tumbang mengenaskan. Lee Chong Wei (MAS/1) dipersulit oleh atlit profesional cekatan dan bertekad kuat, Tien Minh Nguyen. Bermain rubber, kedua atlit harus memeras peluh selama satu jam. Tien Minh menang 24-22, 20-22, 21-19, angka yang super ketat.
Tien Minh banyak bermain bertahan dan berhati-hati dalam mengembalikan bola di set pertama dan ketiga – set yang dia menangkan. Strategi ini tergolong tepat dipakai karena Chong Wei terlihat bermain lebih beringas dan agresif dengan sambaran-sambaran smes pada saat kapan pun memungkinkan.
Tertinggal jauh pun tidak mematahkan semangat Tien Minh. Di set pertama, setelah tertinggal 3-9, ia mampu membuat Chong Wei grogi dengan memimpin 17-14; memborong enam angka sekaligus. Set kedua berlangsung super ketat karena kedua angka tidak pernah tertaut lebih dari dua angka. Pada set ketiga, Tien Minh sempat tertinggal jauh di angka menjelang kritis, yakni 9-14. Tapi, bukan Tien Minh namanya jika hilang semangat. Dengan sabar, telaten, tetap cekatan walaupun telah penuh peluh, angka Tien Minh mengejar dengan agresif, dan tiba-tiba saja Tien Minh telah memimpin 20-18. Chong Wei pun tak kuasa membendung pemain Vietnam bertubuh kecil ini. Setelah menabung satu angka tambahan, sorakan Tien Minh pun membahana di stadium indoor Singapura, dan penonton pun tertegun dan bersorak.
Kejutan kedua adalah tumbangnya Peter Gade, unggulan kedua dari Denmark, dan siapakah yang mengalahkannya?
Seorang Anup Sridhar dari India yang merangkak dari babak kualifikasi!
Anup juga menang dengan susah payah, lewat rubber set, 21-19, 16-21, 21-13. Walaupun tidak seketat pertarungan Chong Wei-Tien Minh, tetapi tetap saja perang keduanya berlangsung seru, jgua selama satu jam. Pada babak penentuan, keduanya sangat berimbang sampai Gade kehilangan fokus dan tertahan di angka 13. Anup pun terbang menapaki angka 21 pada set penentuan tersebut.
Sebelum Chong Wei dan Peter, atlit merah-putih yang bermain apik kala bersua Lin Dan di Piala Sudirman tahun ini, Simon Santoso, telah meruntuhkan hati para penggemarnya terlebih dahulu. Unggulan keenam ini kalah dari atlit terbaik Thailand, Boonsak Ponsana, 11-21, 7-21.
Harapan pada Empat Wakil ”Saja”
Pada putaran perempat final, Indonesia hanya akan diwakili oleh empat wakil di empat partai, dari awalnya sembilan wakil. Harapan itu bertumpu pada Sony Dwi Kuncoro (tunggal putra, unggulan ketiga), Markis Kido/Hendra Setiawan (ganda putra, unggulan pertama), Nitya Krishinda Maheswari/Greysia Polii (ganda putri), dan Nova Widianto/Lilyana Natsir (ganda campuran, unggulan pertama).
Dari keempat wakil tersebut, hanya Nitya/Greysia yang tampak gamang karena pesaing-pesaing di depannya tergolong tangguh. Di perempat final besok hari, mereka akan bersua dengan pasangan nomor satu dunia asal negeri jiran, Chin Eei Hui/Wong Pei Tty. Pasangan Malaysia ini baru sekali mencicipi gelar juara, yakni, di Denmark Super Series tahun lalu. Jika mampu lolos dari cobaan yang satu ini, pasangan tangguh Tiongkok atau Denmark sudah akan bersiap menghadapi mereka: Pan Pan/Tian Qing atau Lena Frier Kristiansen/Kamilla Rytter-Juhl (unggulan kedelapan).
Sedangkan, bagi ketiga wakil lainnya, peta persaingan tampak cukup jernih bagi mereka untuk melaju ke babak final.
Selain Simon, yang gugur hari ini adalah Adrianti Firdasari dari pemain muda penuh potensi India, Saina Nehwal; pasangan ganda putra, Rian Sukmawan/Yonatan Suryatama Dasuki dari pasangan Denmark unggulan keempat, Lars Paaske/Jonas Rasmussen; dan pasangan ganda campuran, Devin Lahardi Fitriawan/Lita Nurlita yang juga ditundukkan oleh pasangan Denmark unggulan keempat, Joachim Fischer Nielsen/Christinna Pedersen.
Hasil Babak Kedua Atlit Indonesia
Sony Dwi Kuncoro (3) vs Hsieh Yu Hsing (TPE): 21-15, 21-15
Simon Santoso (6) vs Boonsak Ponsana (THA): 11-21, 7-21
Adrianti Firdasari vs Saina Nehwal (IND/6): 18-21, 21-17, 17-21
Markis/Hendra (1) vs Kristof Hopp/Johannes Schoettler (GER/Q): 21-16, 19-21, 21-9
Rian/Yonatan vs Lars Paaske/Jonas Rasmussen (DEN/4): 30-28, 12-21, 17-21
Nitya/Greysia vs Shinta Mulia Sari/Yao Lei (SIN): 21-12, 21-17
Nova/Lilyana (1) vs Anthony Clark/Donna Kellogg (ENG): 21-18, 21-11
Devin/Lita vs Joachim Fischer Nielsen/Christinna Pedersen (DEN/4): 9-21, 21-17, 10-21
Jadwal Perempat Final Atlit Indonesia
Berurutan mulai dari pukul 15:20 Waktu Indonesia bagian Barat (WIB)
Nova/Lilyana (1) vs Robert Mateusiak/Nadiezda Kostiuczyk (POL)
Sony Dwi Kuncoro (3) vs Park Sung Hwan (KOR)
Nitya/Greysia vs Chin Eei Hui/Wong Pei Tty (MAS/1)
Markis/Hendra (1) vs Hendri Kurniawan Saputra/Hendra Wijaya (SIN)
Add comment 11 Juni 2009
Ahsan, Putra Kebanggaan Palembang

Mohammad Ahsan/Bona Septano berlaga melawan pasangan Inggris di kualifikasi kejuaraan Piala Sudirman 2009
Sejak debutnya di layar kaca Global TV kala bertanding di kejuaraan piala Sudirman pekan lalu, nama Mohammad Ahsan langsung melejit tinggi. Berpasangan dengan Hendra Setiawan untuk menggantikan Markis Kido yang cedera, Ahsan memperlihatkan permainan yang matang. Siapakah sebenarnya Ahsan?
Ahsan lahir di Palembang, 7 September, 22 tahun yang lalu. Diarahkan untuk bermain serius di bulutangkis oleh orangtuanya, Ahsan beserta dengan kakaknya hijrah ke Jakarta setelah lulus SMP di Palembang. Sembari bersekolah dan berlatih bulutangkis, Ahsan akhirnya bergabung dengan Bona Septano untuk memperkuat partai ganda putra merah-putih sejak tahun 2005.
Kiprah Ahsan/Bona cukup mengejutkan masyarakat dalam maupun luar negeri karena tiba-tiba sudah muncul saja di papan 10 besar dunia dan menjadi pasangan pelapis ganda utama Indonesia, Markis Kido/Hendra Setiawan. Ditambah lagi penampilannya yang cukup memukau pada saat berpasangan dengan Hendra di babak kualifikasi melawan Tiongkok dan semifinal melawan Korea Selatan – terlihat bahwa ia mampu mengimbangi permainan kelas dunia Hendra maupun lawan-lawannya.
Memang sejak Indonesia Super Series tahun lalu (2008), pelatih utama pelatnas, Christian Hadinata, mengatakan bahwa pelatnas mempersiapkan Ahsan/Bona sebagai pelapis Markis/Hendra karena mereka dianggap yang paling siap dan mumpuni. Dan, terbukti sekarang dengan keberadaan mereka di peringkat delapan dunia dengan prestasi terbaik menjadi runner up di Jepang Super Series 2008.
Gaya permainan Ahsan ini sedikit mengingatkan kita pada salah satu pahlawan bulutangkis era sebelum ini, yakni, Sigit Budiarto. Ahsan memiliki pertahanan yang kuat, pukulan yang cukup menekan walaupun tidak sembarang jedar-jeder, dan yang paling memikat hati penonton adalah cukup seringnya ia melakukan gaya akrobatik, baik “pertunjukan” pertahanannya dari gempuran smes bertubi-tubi ataupun mengambil bola dari balik badan atau dari antara kedua kaki.
“Saya selalu berusaha dengan bekerja keras untuk mewujudkan apa yang saya cita-citakan,” ujarnya kepada klub Djarum. “Dan tidak lupa agar selalu berdoa.”
Apa sih cita-citanya?
Pengagum Tony Gunawan ini masih bercita-cita menjuarai pertandingan Super Series dan menjadi peringkat satu dunia.
Semoga berhasil
14 comments 18 Mei 2009
Satu Lagi yang Rontok dari Pelatnas

Setelah banyak mantan atlit berprestasi Indonesia yang hijrah ke negara lain untuk menjadi pelatih maupun atlit profesional, kali ini Indonesia kembali akan kehilangan salah satu pelatih terbaiknya, Hendrawan. Pelatih tunggal putra dan putri pelatnas ini memilih menjadi pelatih profesional di Malaysia dan menitip pesan agar nasionalismenya tidak dipertanyakan karena keputusan ini semata didasarkan pada maksud menyejahterakan keluarganya.
“Ini keputusan yang berat karena selama ini saya selalu berjuang untuk Indonesia,” tukas Hendrawan di Guangzhou, Minggu (17/5). “Selanjutnya saya sudah harus profesional, memikirkan masa depan keluarga.”
Ayah dua anak ini melatih di pelatnas sejak tahun 2004 tanpa kontrak dengan PBSI, dan selama lima tahun mengabdi, telah lahir atlit-atlit berpotensi seperti Sony Dwi Kuncoro, Simon Santoso, dan Maria Kristin Yulianti.
Banyak yang menyayangkan mengapa dari banyaknya pilihan yang ada, Hendrawan memilih ke Malaysia, apalagi Malaysia telah memiliki Rexy Mainaky, mantan atlit ganda putra Indonesia terbaik dunia pada masanya.
Tetapi mungkin sebagai seorang ayah dan kepala keluarga, Malaysia menjadi pilihan yang apik. Selain bahasa Melayunya tidak terlalu berbeda dengan bahasa Indonesia sehingga memudahkan adaptasi bagi seluruh anggota keluarganya, jaraknya juga tidak terlalu jauh dari negara handai taulan. Apalagi jika melihat penghargaan pemerintah Malaysia kepada Rexy, yaitu status penduduk tetap yang sangat sulit didapat kecuali memiliki pasangan atau keluarga berkebangsaan Malaysia.
Jadi, jika diulur, adakah kurangnya penghargaan negara kepada para pelatih kita?
Mari kita renungkan bersama.

3 comments 18 Mei 2009