Thomas/Uber Cup 2008

Putaran Final Piala Thomas dan Uber 2008
Istora Senayan, Gelora Bung Karno
Jakarta, Indonesia

11-18 Mei 2008

JADWAL

11 Mei 2008

8 a.m. THO Jerman vs Thailand; THO China vs Nigeria; UBE China vs AS; UBE Malaysia vs Selandia Baru
1 p.m. THO Denmark vs Selandia Baru; THO Malaysia vs Inggris (TV); UBE Jepang vs Indonesia (TV); UBE Korea vs Rusia
6 p.m. THO Indonesia vs Thailand (TV); THO Kanada vs Nigeria; UBE Denmark vs Selandia Baru (TV); UBE Jerman vs AS

12 Mei 2008

8 a.m. THO Jepang vs Selandia Baru; UBE Jepang vs Belanda; THO Korea vs Inggris; UBE Hong Kong vs Rusia
1 p.m. THO China vs Kanada; THO Indonesia vs Jerman (TV); UBE China vs Jerman (TV); UBE Malasyia vs Denmark
6 p.m. UBE Korea vs Hong Kong; UBE Indonesia vs Belanda (TV); THO Denmark vs Jepang (TV); THO Malaysia vs Korea

13 Mei 2008: Perempat final mulai dari pukul 13:00

14 Mei 2008: Perempat final mulai dari pukul 13:00

15 Mei 2008: Semifinal Piala Uber mulai dari pukul 13:00

16 Mei 2008: Semifinal Piala Thomas mulai dari pukul 13:00

17 Mei 2008: Final Piala Uber mulai dari pukul 18:00

18 Mei 2008: Final Piala Thomas mulai dari pukul 18:00

Tiket dapat dibeli langsung di Istora Senayan atau dengan menggunakan kartu kredit atau debet BRI dapat membeli di BRI cabang-cabang utama (Sudirman, Mall Artha Gading, Kelapa Gading, dan loket BRi Istora Senayan) dan mendapatkan bonus buy 1 get 1 dengan maksimal pembelian tiga tiket (berarti total enam tiket).

Untuk tiket pensyisihan tanggal 11-12 Mei, sudah mulai dapat dibeli dari satu hari sebelumnya. Untuk tiket 13-18 Mei, tiket dapat dibeli pada hari H mulai dari pukul 10 pagi.

Harga Tiket

Babak Penyisihan (11-12 Mei): Rp 20.000 (Kelas 1); Rp 50.000 (VIP)
Babak perempat final sampai final (13-18 Mei): Rp 75.000 (kelas 1); Rp 150.000 (VIP)

INI KANDANG KITA, BUNG!

3 comments 9 Mei 2008

Markis/Hendra, Yang Diam Yang Berjaya

Markis Kido/Hendra Setiawan adalah satu pasangan Indonesia yang mengibarkan sang saka merah putih secara konsisten dan berkelanjutan terus berada di Lima Besar dunia ganda putra. Sayangnya belum banyak yang mengetahui siapa mereka sebenarnya.Tentang Pasangan Ganda Putra Markis Kido/Hendra Setiawan

Pelatih ganda putra Cipayung, Christian Hadinata, mengatakan bahwa pasangan ini rajin dan disiplin dalam berlatih. Tidak heran, kerja keras mereka berbuah baik. Sejak 2005, kiprah mereka semakin bergigi. Dua minggu setelah menjuarai Kejuaraan Asia 2005, mereka langsung merebut gelar Indonesia Terbuka.

Gelar paling berkesan adalah ketika menjadi Juara Dunia tahun 2007 dan DUA KALI merebut gelar juara ganda putra di China Terbuka yang berlangsung di negara adidaya bulutangkis tersebut (tahun 2006 dan 2007). Gelar teranyar mereka adalah Juara Malaysia Terbuka Super Series 2008.

Saat ini mereka menempati posisi paling bergengsi, yakni, menjadi pasangan ganda nomor satu dunia versi daftar peringkat rilisan Federasi Bulutangkis Dunia (BWF).

Markis Kido

Markis lahir di Jakarta pada tanggal 11 Agustus 1984. Walaupun postur tubuhnya kurang “meyakinkan” sebagai atlit bulutangkis (tingginya hanya 165 cm), tetapi dia terkenal dengan smes lompatannya yang sangat tinggi dan menggelegar pun. Stamina Markis seakan tidak bersumbu. Berkali-kali dia mengejutkan penonton dengan smes lompatan bertubi-tubi, bahkan ada yang sampai enam kali berturut-turut semuanya jump smash, dan semuanya sama kerasnya.

Karirnya di bulutangkis bermula di klub Jaya Raya Jakarta dimana dia bertemu pertama kali dengan Hendra dan lalu dipasangkan bersama. Ketika akhirnya Markis ditarik masuk ke Cipayung, pertamanya dia bermain di tunggal putra sampai akhirnya Hendra menyusulnya masuk ke pelatnas dan mereka kembali berpasangan.

Tetapi walaupun di lapangan dia terlihat sangar, tetapi di kesehariannya dia tidak berbeda dengan pemuda lain seumurannya. Dalam program Kick Andy, dia dengan polos mengatakan bahwa dia ingin terus menjadi juara supaya dapat menabung. Ketika ditanya apakah dia yang memiliki inisiatif tersebut, dia kembali dengan polos menjawab, “Ibu yang menyuruh.” =) Markis adalah kakak dari pemain tunggal putri Indonesia saat ini, Pia Zebadiah Bernadet.

Hendra Setiawan

Mungkin karena perbedaan usia hanya dua minggu dengan Markis, makanya mereka berdua terlihat sangat kompak. Hendra lahir 24 Agustus 1984 di Pemalang, Jawa Timur. Mereka berdua memang saling melengkapi walaupun dengan cara yang agak “aneh”. Hendra yang tingginya 181 cm ini malah lebih sering “bertugas” di depan net, sedangkan Markis yang bertugas menjajal arena belakang dan mematikan bola lewat smes kerasnya.

Ekspresinya tidak ‘seberingas’ Markis ketika di dalam lapangan. Hendra terlihat lebih anteng dan kalem, tetapi tangannya menebas dengan cermat dan tepat. Yang paling sering dilakukannya adalah mematikan bola di depan net setelah Markis melancarkan smes super kerasnya. Hal ini mudah ia lakukan karena, selain bantuan dari serangan Markis yang menyudutkan lawan, postur tubuhnya yang jangkung itu memudahkannya untuk mematikan bola di depan net.

Hendra mulai menyukai bulutangkis sejak umur tujuh tahun. Ayahnya, Fery Sugiarto, adalah pelatih bulutangkis dan juga yang pertama kali memperkenalkan bulutangkis padanya. Di waktu senggangnya Hendra suka mendengarkan musik.

1 comment 18 Maret 2008

TV dan “Masalahnya” dalam Lingkup Bulutangkis

Mungkin sudah banyak yang mengamati, kenapa TV lokal di Indonesia jarang sekali menayangkan perjuangan atlit bulutangkis kita ketika berlaga di ajang elit internasional. Padahal cabang olahraga (cabor) ini merupakan salah satu mata tombak Indonesia di dunia. Seluruh dunia mengakui ketangguhan atlit bulutangkis Indonesia. Bahkan untuk seorang Taufik Hidayat yang belakangan ini sudah mulai turun gunung, atlit elit dari pelbagai negara masih tetap harus menguras tenaga dan stamina untuk mengalahkannya.Tetapi nyatanya, para atlit ini seakan berjuang sendiri. Jika di masa lalu mereka didukung penuh oleh rekan sesama atlit, pelatih, penonton di stadion, DAN pemirsa di seantero tanah air, di masa kini, atlit kita berjuang hanya dengan sorakan rekan sesama atlit dan pelatih (dan terkadang penonton di stadion). Yang menyedihkan, ketika mereka kalah, cacian didapat dari banyak pihak termasuk mereka yang tidak menonton langsung perjuangan mereka. Padahal mereka ini adalah pejuang bangsa, berjuang sekeras mungkin untuk bendera yang mereka usung.

Turunnya animo masyarakat kita terhadap perbulutangkisan Indonesia bisa jadi berakar dari menurunnya jumlah (atau nihilnya) tayangan bulutangkis di TV kita. TV merupakan media terkuat untuk mempengaruhi masyarakat. Dengan seringnya tayangan bulutangkis di TV, saya percaya animo masyarakat akan kembali seperti masa lalu dimana atlit bulutangkis kita selalu disiarkan oleh TVRI. Dengan meningkatnya animo masyarakat terhadap cabor ini, dukungan terhadap atlit kita pun dapat dimasalkan, dan siapa yang tahu bahwa dukungan masal ini akan berimbas positif kepada para atlit kita? Siapa tahu mereka menjadi jauh lebih semangat karena mereka didukung oleh seluruh bangsa!

Jika stasiun TV mengatakan bahwa sulit mencari sponsor untuk mendanani penayangan siaran ini, saya rasa itu alasan yang tidak berdasar. Mungkin saya salah karena saya tidak pernah berada di dalam stasiun TV. Tetapi kalau saya pikirkan secara nalar saja, peminat cabor ini sama sekali tidak sedikit.

Jika stasiun TV ingin mendapat sponsor, nomor satu yang mereka harus kerjakan adalah mendapat bukti bahwa program ini akan laris ditonton. Dan saya yakin siaran ini akan laris ditonton mengingat komunitas bulutangkis di Indonesia sangatlah besar walaupun tidak sevokal misalnya komunitas sepakbola. Apalagi jika stasiun TV ini bekerjasama dengan PBSI dan organisasi/komunitas bulutangkis yang ada di Indonesia dengan anggota masalnya, sudah pasti tayangan mereka akan laris manis, dan menjual program ini ke calon sponsor pun akan lebih mudah.

Coba saja melakukan survey kecil-kecilan ke banyak komunitas pecinta bulutangkis. Hitunglah kisaran berapa peminatnya, dan seberapa banyak dari mereka yang akan menonton tayangan bulutangkis. Saya yakin hasil yang didapat positif dan cukup untuk “dijual” ke calon sponsor.

Mungkin tidak perlu semua seri turnamen ditayangkan, tetapi setidaknya turnamen kelas elit seperti All England, Kejuaraan Dunia, Piala Thomas/Uber, dan Super Series di daerah Asia seperti Singapura Terbuka, China Terbuka, Hong Kong Terbuka, Korea Terbuka dan Malaysia Terbuka dapat ditayangkan (tentu saja ini termasuk Indonesia Terbuka).

Mungkin juga mengingat waktu penyisihan sampai perempat final yang berlangsung di jam kerja, maka tayangan selama babak ini pun bisa ditayang tunda sampai jam “prime time”, misalnya setelah 6pm. Jika merasa langkah ini terlalu besar untuk sekarang, langkah kecil pun bisa dimulai dengan menayangkan hanya semifinal dan final dari turnamen-turnamen bergengsi tersebut, sedangkan dari babak penyisihan sampai perempat final cukup diberitakan perkembangannya sehari sekali lewat siaran berita.

Kita perlu memberikan apresiasi kepada beberapa stasiun TV yang sudah dengan “berani” menayangkan beberapa turnamen besar, termasuk All England kemarin. Tetapi, langkah kecil ini perlu terus ditindak lanjuti atau dia hanya akan menjadi sebuah program tabrak lari, alias sekali dilakukan lalu pupus dari peredaran lagi.

Dan, sekarang, bisakah stasiun TV beralasan bahwa sponsor sulit dicari?

Add comment 18 Maret 2008

Indonesia Imbangi China di Peringkat Top Dunia

Kemarin, 13 Maret 2008, Indonesia kembali merengkuh posisi puncak peringkat dunia rilisan Federasi Bulutangkis Dunia (BWF). Pasangan ganda putra, Markis Kido/Hendra Setiawan melancangi ganda putra andalan China, Fu Haifeng/Cai Yun dengan poin tipis: 80.269 vs 79,993. Sedangkan, ganda campuran Indonesia, Nova Widianto/Lilyana Natsir juga melancangi ganda China, Zheng Bo/Gao Ling, juga dengan poin tipis: 80.274 vs 79.598.

Kedua pasangan di masing-masing partai ini memang selalu berebutan posisi puncak, walaupun pasangan China masih mendominasi dalam hal jangka waktu duduk di singgasana. Catatan skor pertemuan mereka juga berimbang.

Catatan Prestasi: Ganda Putra

Markis Kido/Hendra Setiawan catatannya cukup mengagumkan. Sepanjang tahun 2007, mereka lima kali menjadi finalis dan empat kali menang. Tahun ini, mereka merebut gelar Malaysia Terbuka Super Series. Prestasi cukup baik walaupun terseok di dua turnamen terakhir, yakni All England (1/32) dan Korea Terbuka (1/16).

Catatan Fu Haifeng/Cai Yun pun setali dua uang dengan Markis/Hendra. Lima kali menjadi finalis, empat kali sukses rebut gelar. Pada tahun ini, gelar yang mereka rebut adalah Korea Terbuka Super Series.

Bagaimana catatan pertemuan keduanya? Dari total pertemuan enam kali, kedudukan berimbang tiga sama. Di dua pertemuan terakhir pada tahun 2007, mereka berbagi gelar, masing-masing satu. Tidak heran kalau posisi top dunia pun bergiliran di antara kedua pasangan.

Catatan Prestasi: Ganda Campuran

Nova Widianto/Lilyana Natsir yang walaupun banyak yang kecewa terhadap mereka, tapi catatan mereka tidak boleh dipandang sebelah mata. Sepanjang tahun 2007-2008, mereka sukses tujuh kali menjadi finalis, empat di antaranya gol menjadi pemenang. Prestasi terbaik mereka adalah menjadi Juara Dunia tahun 2007 (bersama dengan Markis/Hendra).

Tapi kalau mengenai konsistensi, pasangan China, Zheng Bo/Gao Ling harus diacungi jempol. Mereka selalu setidaknya lolos ke perempat final (dibandingkan dengan Nova/Lilyana yang terkadang drop sehingga terpental di babak-babak awal). Jumlah perebutan gelarnya jauh di atas Nova/Lilyana.

Tapi bagaimana bisa Nova/Lilyana merebut tahta mereka?

Walaupun seperti Zheng/Gao superior atas Nova/Lily, tetapi skor pertemuan mereka sebenarnya ketat. Dari tujuh pertemuan, Zheng/Gao memenangkan empat, dan tiga bagi Nova/Lily. Catatan perebutan kemenangan ini juga menarik, mereka selalu bergantian. Jika terakhir Nova/Lily menang, kemudiannya Zheng/Gao yang akan menang, dan kemudiannya lagi kembali Nova/Lily yang menang. Ini menujukkan bahwa kedua pasangan berimbang walaupun beda tingkat konsistensi.

Selain itu, poin dihitung berdasarkan 10 poin terbaik dalam 12 bulan terakhir. Jadi dapat dikatakan bahwa dalam setahun terakhir ini Nova/Lily tergolong konsisten dibandingkan dengan Zheng/Gao.

Semoga saja tahun ini menjadi tahun berkah bagi Indonesia, sehingga selain kedua pasangan ini tetap bisa menjadi jawara nomor satu dunia, partai lain Indonesia juga semakin dapat unjuk gigi, apalagi kita sebentar lagi akan menjamu Thomas/Uber Cup di Jakarta pada pertengahan Mei.

Add comment 14 Maret 2008

Lin Dan, Lututnya, dan Semangatnya

Jika ada yang menonton final siaran langsung All England 2008 di Global TV atau Indovision minggu lalu, 9 Maret, tentunya melihat aksi tunggal putra nomor satu dunia, Lin Dan.

Saya tidak ingin mengomentari prestasinya; orang sudah tutup mata dengan konsistensinya dan keuletannya. Yang saya ingin komentari adalah semangat juangnya yang sangat luar biasa.

Saat itu dia bertanding melawan juniornya, Chen Jin. Di awal pertandingan kita belum melihat tanda-tanda “keanehan” pada kaki kiri Lin Dan. Hanya sesekali dia menendang-nendang keluar kakinya itu, seakan sedang berusaha meluruskannya.

Di tengah-tengah set pertama mulai terlihat, Lin Dan bergerak tidak seperti biasanya. Biasanya dia brgerak gesit menyambut bola. Sekarang responnya seakan lebih lambat dan badannya terasa berat. Beberapa kali aksi “terjun bebasnya” tidak “sebebas” biasanya; terlihat Lin Dan berusaha melindungi lutut kakinya lewat menahan badannya dengan tangan. Mulai terlihat pula smesnya yang tidak prima dan kakinya yang mulai diseret.

Chen Jin yang melihat gelagat tersebut langsung bertindak. Dia banyak menyerang sisi kiri Lin Dan dimana Lin Dan tidak bisa banyak bergerak. Bola pun diarahkan ke kiri dan ke kanan, depan dan belakang.

Disinilah terlihat mental juara Lin Dan.

Walaupun dalam keadaan “hopeless” seperti itu, tidak terlihat ekspresi Lin Dan yang putus asa. Yang terlihat hanyalah ekspresi menahan sakit dan kesal terhadap badannya yang tidak bisa bergerak seperti biasa. Toh, Lin Dan tetap menjabani segala macam pukulan Chen Jin. Saya yang waktu itu menonton jadi ikut meringis dan ingin menangis karena saya yakin pasti sakitnya bukan main dan kesalnya juga bukan main (saya juga punya masalah di lutut).

Hasilnya? Chen Jin tetap menang dua set langsung, tapi dengan susah payah, 24-22, 25-23.

Luar biasa. Benar-benar mental seorang juara. Dia tetap memberikan penampilan terbaiknya walaupun pada kondisi terburuknya. Dia tidak hilang semangat atau patah arang.

Saya rasa saat ini atlit bulutangkis dari Indonesia maupun negara lain belum ada yang memiliki mental seperti Lin Dan. Mental luar biasa yang patut diacungi jempol dan dijadikan pedoman pebulutangkis muda.

2 comments 11 Maret 2008

Prediksi Pemenang Swiss Super Series 2008

Swiss Terbuka Super Series
Basel
, Swiss
11-16 Maret 2008

Siapa yang akan berjaya di turnamen ini? Dan bagaimanakah peluang Indonesia dalam merebut gelar?

Tunggal Putra

Taufik Hidayat seharusnya tidak akan mengalami aral berarti untuk sampai di babak perempat final. Disini dia kemungkinan besar akan bersua dengan salah satu lawan dedengkotnya, Bao Chunlai dari China, unggulan ketiga. Kalau melihat bahwa dua pertemuan pada tahun lalu semuanya dimenangkan oleh Chunlai dan Taufik yang satu tahun belakangan ini penampilannya agak meragukan, lebih baik mendukung Sony Dwi Kuncoro.

Di babak-babak awal Sony dikelilingi oleh putra Malaysia. Dimulai dari Sairul Amar Ayob, lalu di babak kedua akan bertemu dengan Wong Choong Hann atau Lee Tsuen Seng. Dengan konsistensi Sony selama ini, seharusnya tidak akan sulit untuk melaju ke babak perempat final.

Yang menarik adalah babak perempat final ini. Banyak yang “bertaruh” bahwa Lin Dan lah yang akan melaju ke babak ini, dan bukannya Chen Yu. Tapi, bisa jadi malah sebaliknya. Minggu lalu di All England, sangat jelas terlihat bahwa kaki kiri (terutama lutut) Lin Dan bermasalah. Gerakan badan dan kakinya jadi berat, apalagi di bidang kiri badan. Tidak ada Lin Dan yang menggelegar; hanya ada Lin Dan yang cermat mengamati lapangan dan menyisir bola di daerah net.

Jika di babak dua Chen Yu dapat memanfaatkan kondisi ini, bukan tidak mungkin Chen Yu lah yang akan berhadapan dengan Sony di perempat final. Tentu saja ini menguntungkan Sony karena dari tiga pertemuan, Sony unggul dua kemenangan. Di pertemuan tahun lalu, Sony unggul.

Jika lolos dari Yu, Sony akan bersua dengan pemenang laga Taufik vs Chunlai di semifinal; keduanya adalah lawan tangguh. Jika disuruh memilih, tentunya Sony akan memilih seniornya, Taufik, yang lebih tertebak gaya bermainnya daripada Chunlai yang juga memiliki kekuatan menggelegar. Tetapi bagaimana pun Chunlai lebih berpeluang melaju untuk berhadapan dengan Sony.

Di kotak semifinal yang satu lagi, sepertinya akan kembali terjadi pertemuan antara Lee Chong Wei (MAS) dan Chen Jin (CHN) yang baru saja bertemu di semifinal All England minggu lalu dan dimenangkan oleh Chen Jin.

Kemungkinan pemenang: 60% – 40% antara Bao Chunlai (CHN) dan Lee Chong Wei (MAS)

Tunggal Putri

Srikandi Indonesia sulit berjuang jauh. Satu-satunya harapan, Maria Kristin Yulianti, sudah langsung dihadang Zhou Mi, mantan atlit andalan China yang hijrah ke bendera Hong Kong. Masih ada pula Wong Mew Choo (MAS) yang tentu saja sedia menunggu di babak dua.

Lebih menarik jika kita menilik siapa kira-kira perebut gelar disini. Unggulan pertama dari China, Xie Xingfang, minggu lalu tergelincir di All England. Kali ini, tidak akan mudah pula baginya karena banyak lawan tangguh di boks finalnya.

Wong Mew Choo atau Zhou Mi bukan lawan mudah di perempat final. Tahun lalu, skor pertemuannya dengan Mew Choo hampir berimbang, 3:2 untuk Xingfang. Zhou Mi yang terhitung senior Xingfang dulu selalu mengalahkannya. Prestasi ini baru dipatahkan Xingfang tahun lalu di Makau Terbuka, setelah Xingfang hijrah ke Hong Kong. Tapi tentu saja itu bukan berarti Xingfang sekarang lebih hebat dari Zhou Mi. Yuniornya, Lu Lan (unggulan 4), memang masih “hijau”, tetapi Lu Lanlah yang berhasil menjadi finalis All England minggu lalu, dan tercatat pula Lu Lan pernah menang atas Xingfang di Jerman Terbuka 2006 dan Denmark SS 2007.

Dari boks final satu lagi, saya melihat peluang terbesar ada di dua orang: Zhang Ning, Wang Chen, dan Zhu Lin.

Zhang Ning sepertinya sudah tidak bisa berperang melawan umur lebih jauh lagi, apalagi dengan ketangguhan Zhu Lin dan Wang Chen yang lebih muda. Tahun lalu (tahun dimana Ning mulai merosot), Wang Chen menang dua dari tiga pertemuan mereka, padahal sebelumnya Ning selalu menang telak.

Yang akan menarik adalah melihat pertarungan antara Zhu Lin dan Wang Chen di semifinal. Skor pertemuan mereka adalah 4:3 untuk keunggulan Wang Chen, tetapi dari empat pertemuan pada tahun lalu sampai tahun ini, Zhu Lin menyabet tiga kemenangan.

Peraih gelar di cabang ini lebih sulit diperkirakan. Tapi menurut saya, gelar akan tetap jatuh ke China, antara ke Xie Xingfang atau Zhu Lin.

Ganda Putra

Sektor ini semakin marak aja dengan semakin kokohnya kekuatan Jepang dan Korea di sektor ini. Minggu lalu saja terjadi kejutan besar dimana finalis semuanya adalah pasangan Korea.

Indonesia kurang “beruntung” karena semua pasangannya (empat) berada di boks final yang sama sehingga tidak akan terjadi all-Indonesian final. Bahkan Markis Kido/Hendra Setiawan sudah harus langsung bersua dengan Hendra Gunawan/Joko Riyadi. Kalau mau bertaktik sedikit, lebih baik Hendra/Joko “mengalah” supaya stamina Markis/Hendra terjaga dan dapat lebih maksimal bertarung di babak-babak selanjutnya.

Baru saja minggu lalu Candra Wijaya/Tony Gunawan dihentikan langkahnya oleh ganda Korea, Lee Jae Jin/Hwang Ji Man, besok mereka sudah harus bertemu lagi di babak pertama. Jika Candra/Tony sukses balas dendam, maka mereka akan bertemu dengan Markis/Hendra di perempat final.

Sedangkan, langkah Luluk Hadiyanto/Alvent Yulianto sedikit lebih “mulus”. Pertarungan sebenarnya tampak akan terjadi di perempat final dimana disinyalir mereka akan bertemu dengan ganda andalan Malaysia, Koo Kien Keat/Tan Boon Heong. Belakangan ini Koo/Tan banyak terseok. Gelar terakhirnya adalah di Denmark SS tahun lalu. Setelah itu mereka selalu mentok di perempat final. Skor pertemuan kedua pasang ini pun berimbang. Diharapkan Luluk/Alvent dapat kembali meruntuhkan andalan Malaysia ini untuk bertemu dengan Markis/Hendra atau Candra/Tony di semifinal.

Bagaimana dengan pasangan tangguh lain negara?

Fu Haifeng/Cai Yun (CHN) telah berkurang sinarnya belakangan ini walaupun tetap menjadi lawan sulit. Gelar terakhirnya masih segar di ingatan, Korea SS 2008 Januari lalu. Yang akan menyulitkan mereka pertama adalah Lee Yong Dae/Jung Jae Sung (KOR), lalu ganda gaek Malaysia, Choong Tan Fook/Lee Wan Wah yang mungkin bertemu di semifinal. Choong/Lee selama ini cukup berjaya jika berhadapan dengan andalan China ini.

Kemungkinan pemenang: Markis/Hendra (INA), Choong/Lee (MAS), atau Fu/Cai (CHN) dengan porsi peluang 40:40:20

Ganda Putri

Peluang merebut gelar sepertinya akan jatuh di antara dua unggulan teratas, yakni Zhang Yawen/Wei Yili dan Zhang Jiewen/Yang Wei. Walaupun banyak ganda lain yang tangguh dan mumpuni, tetapi mereka harus berpeluh lebih banyak dibandingkan kedua unggulan teratas tersebut.

Yawen/Yili (CHN/1) kemungkinan besar akan mencoba ketangguhan juara All England 2008 dari Korea, Lee Kyung Won/Lee Hyo Jung (unggulan 4) di semi final. Sedangkan, ganda andalan kita, Lilyana Natsir/Vita Marissa agaknya akan bersua dengan Gao Ling/Zhao Tingting di perempat final jika di babak kedua sukses melewati runner-up All England, Du Jing/Yu Yang (CHN).

Ganda Campuran

Zheng Bo/Gao Ling, unggulan pertama memiliki peluang 90% untuk menjadi finalis, sekaligus diperkirakan akan menjadi pemenang karena di boks finalnya tantangan tidak securam di boks final milik Nova Widianto/Lilyana Natsir (unggulan 2).

Dari boks final Nova/Lily (bawah), ada empat pasang yang sulit diperkirakan perjalanannya. Nathan Robertson/Gail Emms (ENG) – semifinalis All England 2008, Flandy Limpele/Vita Marissa – yang selalu bergantian dengan Nova/Lily menjadi finalis, Sudket Prapakamol/Saralee Thoungthongkam (THA) yang permainannya selalu segar dan mengancam siapa pun, dan tentu saja Nova/Lily sendiri. Apa pun bisa terjadi di boks final ini, tetapi yang akhirnya lolos ke final pastinya sudah keletihan duluan sehingga tidak akan seprima Zheng/Gao.

2 comments 11 Maret 2008

Pemain Bulutangkis Terbaik Tahun 2007

Oleh Hendri Kustian, Masyarakat Bulutangkis Indonesia (MBI)

Ritual akhir tahun dari berbagai organisasi dan media Olahraga tingkat internasional dan regional salah adalah menentukan atlet terbaik dari berbagai cabang Olahraga. Sebagai contoh induk organisasi sepak bola dunia, FIFA menetapkan pesepakbola asal Brazil, Kaka sebagai yang terbaik sepanjang 2007. Dari cabang Tenis terpilih Roger Federer dan Justine Henin sebagai petenis terbaik pria daan wanita. Lain halnya dengan cabang bulutangkis, sampai saat ini organisasi bulutangkis dunia WBF belum menetapkan yang terbaik di cabang ini, bahkan penerima penghargaan 2006 pun tidak diadakan. Pebulutangkis terbaik tahunan versi WBF (dulu IBF) akan mendapat penghargaan “Eddy Choong Award”. Selama penyelenggaraan Award ini, Indonesia menjadi negara terbanyak meraih gelar tersebut. Award buat Indonesia diperoleh oleh Chandra Wijaya (2000) dan Taufik Hidayat (2004-2005) disusul Korea dengan sebanyak dua kali melalui Kim Dong Moon (2002), Kim Dong Moon / Ra Kyung Min (2003) dan Denmark melalui Peter Gade Christiansen (199 8) dan Camilla Martin (1999). Negara bulutangkis lainnya China meraih gelar melalui Gao Ling (2001)

Pada tingkat nasional, belum ada lembaga yang memberikan penghargaan khusus untuk pebulutangkis terbaik. Kalaupun ada masih digabung dengan cabang lain dengan label “Atlet Terbaik Indonesia”. Dua lembaga yang paling konsisten memberikan penghargaan tersebut adalah Tabloid Olahraga “Bola” dan PWI SIWO Jaya. Pada penyelenggaraan oleh Tabloid BOLA tahun 2006 yang perhargaan diberikan setiap Maret tahun berikutnya, cabang bulutangkis gagal mendominasi penghargaan seperti saat tahun-tahun kejayaan bulutangkis Indonesia. Atlet terbaik Putra 2006 jatuh ke tangan Cris Jhon dari cabang tinju, sedangkan atlet terbaik putri diperoleh peboling Putty Armein. Atlet catur putri, Irene Kharisma terpilih sebagai atlet muda harapan. Penghargaan lainnya Pelatih dan tim terbaik jatuh ke cabang sepak bola melalui pelatih Benny Dollo dan tim sepak Bola Arema Malang. Satu-satunya penghargaan yang diterima cabang bulutangkis adalah “Life Time Achiement” yang dinobatkan kepada tokoh bulutangkis sekaligus pembina klub Jaya Raya, Ciputra. Penghargaan yang sama dengan yang diberikan kepada tokoh Sepak Bola, LH Tanoto
Memilih pemain pebulutangkis terbaik dunia akan lebih mudah jika dipilih untuk masing-masing nomor tunggal putra-putri, ganda putra-putri dan campuran karena cukup melihat peringkat dunia. Tentunya gelar terbaik akan berada ditangan peringkat terbaik masing-masing nomor yaitu Lin Dan ditunggal putra, Xie Xingfang di tunggal putri, Koo Kean Keat /Tan Boon Heong di ganda Putra, Zhang Yawen / Wi Yili di ganda putri dan Zheng Bo / Gao Lin di ganda campuran. Namun cerita akan berubah jika hanya memilih satu nama saja untuk putra dan satu untuk nama putri bahkan akan lebih akan menjadi perdebatan jika yang dipilih satu orang terbaik tanpa membedakan putra dan putri seperti yang biasanya dilakukan dalam penghargaan Eddy Choong Award.
Pada akhir tahun 2007 ini, Kolom ini yang dipublikasikan oleh web site www.bulutangkis.com akan memilih tiga pemain terbaik putra dan tiga pemain terbaik putri. Dari keenam pemain terbaik tersebut akan ditetapkan pemain yang berhak menjadi “best of the best” tahun ini baik untuk tingkat dunia maupun tingkat nasional. Dari kelompok Putra penghargaan pertama jatuh kepada pebulutangkis tunggal putra China, Lin Dan. Prestasi fenomenal yang dibuat Lin Dan tahun ini dengan menjadi Juara dunia, 5 gelar juara Super series dan 1 gelar grand Prix. Peringkat kedua jatuh ke Pemain China lainnya Zheng Bo yang tampil di nomor ganda campuran berhasil meraih gelar 7 gelar juara. Pencapaian Zheng Bo memang sama banyaknya dengan Lin Dan tetapi Lin Dan menjadi nomor wahid karena statusnya sebagai juara dunia. Tempat ketiga terpilih salah satu dari pasangan ganda putra Malaysia Koo Kean Keat / Tan Boon Heong yang merupakan pasangan ganda putra peraih gelar tebanyak tahun ini dengan 4 gelar Superseries dan dua gelar juara Grand Prix Gold. Mereka juga berada di peringkat satu dunia ganda putra di penghujung tahun 2007 ini. Pertanyaannya siapa yang berhak ditempatkan pada peringkat ketiga karena mereka membuat prestasi bersama-sama? Penulis memutuskan Koo Kean Keat yang berhak lebih unggul dari rekannya, karena Koo Kean Keat mempunyai prestasi tambahan di nomor ganda campuran. Berpasangan dengan pemain putri Wong Pty Ty, Koo berhasil masuk babak 8 besar ganda campuran Super Series Korea Terbuka sebelum akhirnya Koo berkonsentrasi penuh di nomor ganda putra. Selain tampil di Korea, Koo / Wong sempat diundang untuk tampil di turnamen Uji Coba Olimpiade di Beijing China. Sebenarnya pasangan Indonesia Markis Kidho / Hendra Setiawan layak dilirik sebagai 3 besar dengan prestasi nya sebagai Juara Dunia. Sayangnya Pencapaian Kidho / Hendra kurang sempurna karena mereka belum sekalipun bisa menundukkan pasangan terbaik Malaysia itu dalam berbagai turnamen.
Pada bagian Putri, nama Gao Ling tetap menjadi ratu dunia. Tampil di dua nomor ganda putri dan campuran menjadikannya sebagai pemain dengan gelar juara terbanyak tahun ini. Dinomor ganda putri bersama Huang Sui, Gao Ling meraih 2 gelar Super Series dan 2 gelar grand Prix Gold ditambah satu gelar Supeseries lagi ketika berpasangan dengan Zhao Tingting menjuarai turnamen China Open. Pada nomor ganda campuran yang berpasangan dengan Zheng Bo, meraih 6 gelar super series dan gelar grand Prix. Total gelar juara yang dikumpulkan Gao Ling dari dua nomor tersebut sebanyak 12 gelar juara. Peringkat kedua juga masih milik pemain China Xie Xingfang yang mengumpulkan tujuh gelar juara yang terdiri dari lima super series, satu grand prix gold dan satu grand prix. Peringkat ketiga milik pemain China lainnya, Yang Wei yang menjadi juara dunia ganda putri bersama Zhang Jiwen yang dilengkapi dengan 2 gelar juara Super series dan 2 gelar juara grand Prix. Gelar juara tersebut masih ditambah 1 gelar super series dan gelar juara Asia berpasangan dengan Zhao Tingting menjadikannya perebut 6 gelar juara.
Khusus pemain putra Indonesia, ada tiga pemain yang paling menonjol sepanjang tahun ini yaitu Nova Widianto, Markis Kidho dan Hendra Setiawan. Mereka mengumpulkan gelar juara juara turnamen resmi WBF sama banyaknya yaitu sama-sama menjadi juara dunia, 2 gelar superseries dan 1 gelar juara Grand Prix. Satu-satunya keunggulan Markis dan Hendra dari Nova adalah pada turnamen level Sea Games yang lalu dimana Markis / Hendra meraih emas sedangkan Nova meraih perunggu di nomor ganda campuran. Markis / Hendra juga berperan mengantarkan Indonesia dalam meraih medali medali emas nomor beregu dalam event tersebut. Dengan pertimbangan tersebut maka Nova cukup ditempatkan di posisi ketiga. Pertanyaannya siapa yang berhak menjadi pemain terbaik putra terbaik Indonesia antara Markis Kidho dan Hendra Setiawan. Prestasi mereka tidak dapat dipisahkan satu sama lain sehingga keduanya layak menempati nomor wahid. Kalaupun akhirnya terpaksa memilih salah satu dari keduanya maka penulis lebih memilih Markis Kidho menempati nomor satu. Satu-satu keunggulan Markis dari pasangannya adalah Markis lebih banyak dimainkan pada Piala Sudirman lalu. Berpasangan dengan seniornya Chandra Wijaya, Markis menjadi penyumbang point yang mengantarkan tim Sudirman Indonesia ke babak Final.
Pada bagian Putri hanya dua nama yang berhak memperebutkan posisi yang terbaik yaitu Vita Marissa dan Lilyana Natsir. Mereka sama-sama menjadi dua kali menjadi juara superseries dinomor ganda campuran dengan pasangannya masing-masing dan satu kali secara bersama-sama menjuarai nomor ganda putri. Pada turnamen grand Prix Gold Vita Marissa yang berpasangan dengan Flandy Limpele meraih satu gelar di Thaiwan Open, sedangkan Lilyana Natsir meraih juara bersama Nova Widianto di Philipina Open. Lilyana Natsir mempunyai keunggulan dengan merebut gelar juara dunia, sedangkan Vita mempunyai keunggulan meraih emas ganda campuran Sea Games. Dengan emas itu, Vita mejadi pebulutangkis yang meraih medali emas terbanyak sebanyak 3 emas (ganda putri, ganda campuran dan beregu putri). Namun dengan pertimbangan gelar juara dunia yang lebih bergengsi maka Lilyana Natsir ditempatkan sebagai nomor wahid dan Vita di posisi runner up. Tempat ketiga layak diberikan kepada peraih emas tunggal putri Sea Games, Maria Kristin.     
Pemilihan “Best of The Best” tingkat dunia antara Lin Dan dan Gao Lin, maka penulis masih lebih memilih Gao Lin sehingga Gao Ling layak diusulkan menjadi peraih gelar “Eddy Chong Award” untuk kedua kalinya. Sedangkan untuk tingkat nasional memilih yang terbaik antara Markis Kidho dan Lilyana Natsir juga pemain putri yang lebih layak terpilih menjadi “Pebulutangkis Terbaik Indonesia 2007″. Penulis juga mengusulkan kepada komunitas pecinta bulutangkis terbesar di Indonesia, MBI (Masyarakat Bulutangkis Indonesia) memberikan “MBI Award 2007″ kepada Lilyana Natsir. Pemilihan ini lebih didasarkan kepada pengamatan penulis sepanjang tahun ini dan memungkinkan berbeda dengan pemilihan yang dilakukan oleh lembaga atau pihak lainnya.
Resume Pebulutangkis Terbaik versi Kolom Hendri Kustian :
Terbaik Putra Tingkat Dunia :
1. Lin Dan, China (Juara Dunia, 5 Superseries, 1 Grand Prix)
2. Zheng Bo, China (6 Gelar Superseries, 1 Grand Prix)
3. Koo Kean Keat, Malaysia (4 Gelar Superseris, 2 Grand Prix Gold)
Terbaik Putri Tingkat Dunia :
1. Gao Lin, China (9 Gelar Superseries, 2 Grand Prix Gold, 1 Grand Prix)
2. Xie Xingfang, China (5 Gelar Superseries, 1 Grand Prix Gold, 1 Grand Prix)
3. Yang Wei, China (Juara Dunia, Juara Asia, 2 Superseries, 2 Grand Prix)  
Terbaik Putra Tingkat Nasional :
1. Markis Kidho (Juara Dunia, 2 Superseries, 1 GP Gold, 2 emas SEAG)
2. Hendra Setiawan (Juara Dunia, 2 Sperseries, 1 GP Gold, 2 emas SEAG)
3. Nova Widianto (Juara Dunia, 2 Superseries, 1 GP Gold)
Terbaik Putri Tingkat Nasional :
1. Lilyana Natsir (Juara Dunia, 3 Superseries, 1 GP Gold, 2 emas SEAG)
2. Vita Marissa (3 Gelar Superseries, 1 GP Gold, 3 emas SEAG)
3. Maria Kristin (Juara tunggal putri Sea Games)
Pemain Indonesia Non Pelatnas Putra Terbaik :
1. Yonathan Suryatama (1 gelar GP Gold, 1 Challanger, 1 Satelitte)
2. Rian Sukmawan (1 gelar GP Gold, 1 Challanger)
3. Andre Kurniawan (1 Grand Prix)
Pemain Indonesia Non Pelatnas Putri Terbaik :
1. Meliana Jauhari (1 gelar Chalanger, 2 gelar satelitte)
2. Shendy Puspa (1 gelar Challanger, 1 gelar Sateliite)
3. Debby Susanto (Juara Asia Junior, Juara nasional Taruna, SF Dunia Junior)

2 comments 25 Januari 2008

Posisi Tuan Rumah sebagai Penunjang Prestasi

Oleh Hendri Kustian, Masyarakat Bulutangkis Indonesia (MBI)

Ajang kompetisi bulutangkis Internasional mulai menggeliat di awal tahun 2008 ini. Aroma persaingan merebut gelar juara akan dimulai besok hari pada turnamen Malaysia Open Superseries. Sementara persaingan-persaingan dramatis tahun lalu belum pupus dari ingatan kita. Sekedar memanaskan aroma perbulutangkisan diawal tahun ini, kami mengangkat kembali kisah yang tahun lalu yang masih menarik untuk disimak.

Kisah kesuksesan China yang merajai gelaran turnamen bulutangkis 2007 diikuti juga dengan kesuksesan mereka menjadi tuan rumah berbagai turnamen yang diselenggarakan. China melalui dua turnamen Superseries yaitu China Open dan China Master menyediakan hadiah terbesar setahunan lalu dengan total 500 ribu dolar AS. China Open dan China Master masing-masing menyediakan hadiah sebesar 250 ribu US Dolar atau sekitar 2,5 Milyar rupiah. Sedangkan kalau dihitung dari satu turnamen, rekor masih dipegang Korea Superseries dengan hadiah 300 ribu US Dolar.
China dan Korea menyelenggarakan turnamen dengan hadiah sebesar itu tentu dengan harapan bisa menaikkan prestasi pemainnya atau paling tidak memberikan tempat yang lebih banyak buat pemain-pemainnya bertanding di kancah internasional yang sekaligus menaikkan poin rangking sejumlah pemainnya. Dengan hadiah yang besar tentu level turnamen pun menjadi tinggi yang otomatis point yang diperoleh menjadi lebih tinggi. Masih dalam rangka memperbanyak kesempatan bertanding bagi pemainnya, beberapa negara juga menyelenggarakan lebih dari satu turnamen bertaraf Internasional. 
Disebutkan sebelumnya China menyelenggarakan dua event yang berkelas Superseries. Tim China berhasil memanfaatkan turnamen tersebut dengan maksimal meskipun mereka tetap kecolongan dari Indonesia. Pada China Master, tuan rumah menyabet empat gelar sekaligus melalui Lin Dan (MS), Xie Xingfang (WS), Fu Haifeng / Cai Yun (MD) dan Zheng Bo / Gao Lin (XD). Satu-satunya gelar yang lepas adalah nomor ganda putri yang direbut pasangan Indonesia Vita Marissa/ Lilyana Natsir. Kemudian pada China Open hanya tiga gelar yang mereka peroleh dari Bao Chunlai (MS), Xie Xingfang (WS) dan Gao Ling / Zhao Tingting (WD), sedangkan dua gelar juara lagi kembali lepas ke tangan Indonesia melalui Markis Kidho / Hendra Setiawan (MD) dan Nova Widianto / Lilyana Natsir (XD). Disamping dua turnamen resmi tersebut China menyelenggarakan turnamen Invitational sebagai ajang uji coba Olimpiade Beijing 2008 dengan title turnamen “Good Luck to Beijing”. Sejumlah pemain non China diundang dalam turnamen ini seperti Nguyen Tien Minh (Vietnam), Koo Kean Keat dan Wong Pty Ty dari Malaysia serta beberapa pemain dari negara lainnya. Pada turnamen ini China menyapu bersih semua gelar juara melalui Lin Dan (MS), Xie Xingfang (WS), FU Haifeng / Cai Yun (MD), Yang Wei / Zhang Jiwen (WD) dan Xie Xongbo / Zhang Yawen (XD)
Malaysia sebagai salah satu kekuatan bulutangkis dunia mencatatkan diri sebagai penyelenggara turnamen Internasional terbanyak selama tahun 2007. Turnamen tertinggi yang diselanggarakan adalah Kejuaraan Dunia. Pada turnamen ini, Malaysia gagal memanfaatkan kesempatan untuk meraih gelar juara dunia. Gelar juara justru berhasil diraih dua negara China dan Indonesia. Sebelumnya pada awal tahun 2007, pencapaian sedikit lebih baik pada Malaysia Open Superseries. Dalam turnamen yang berhadiah total 200 ribu dolar Amerika tersebut, pasangan Koo Kean Keat / Tan Boon Heong berhasil menjadi kampium nomor ganda putra. Hasil yang sama diperoleh saat penyelenggaraan Kejuaraan Asia dengan level turnamen setara dengan Grand Prix Gold yang berhadiah total 125 ribu dolar AS. Pasangan veteran Choon Tan Fook / Lee Wan wah berhasil menyingkirkan rekannya Koo Kean Keat / Tan Boon Heong dalam pertarungan All Malaysia Final.  Gelarnya lainnya terbang ke China melalui Jiang Yanjiao (WS), Yang Wei / Zhao Tingting (WD), He Hanbing / Yu Yang (XD) dan Indonesia melalui Taufik Hidayat (MS). Selanjutnya pada level yang lebih rendah, Malaysia berhasil memborong empat gelar juara sekaligus pada Malaysia Challanger melalui Ayub Sairul Amar (MS), Chan Peng Song / Chang Hun Ping (MD), Haw Chiu Wee / Lim Pek Sia (WD) dan Lim Khim Wah / Ng Hu Lin (XD). Nomor tunggal putri lepas ke pemain Thailand, Buranaprasertsuk Porntip. Turnamen Internasional lainnya yang diselenggarakan Malaysia adalah Kejuaraan Asia Junior yang menempatkan ganda campuran mereka, Tan Wee Kiong/Woon Khe Wei, MAS sebagai pemenang.
Indonesia merupakan negara berikutnya yang menyelenggarakan lebih dari satu turnamen Internasional yaitu Indonesia Open Superseries, Surabaya Challange, Jakarta Open Satelitte dan Indonesia Open Junior. Pada Indonesia Open Superseries merupakan ajang gigit jari bagi tim tuan rumah. Prestasi terbaik hanya sebagai runner up melalui Nova Widianto / Lilyana Natsir di nomor ganda campuran. Pada pertandingan final turnamen yang menyediakan hadiah total 250 ribu dolar AS itu, mereka harus menelan kekalahan dari pasangan China Zheng Bo / Gao Ling. Pada level yang lebih rendah, Surabaya Challange dengan hadiah total 15 ribu dolar AS dicapai hasil lebih baik dengan merebut tiga gelar juara melalui Rian Sukmawan / Yonathan S (MD), Yulianti / Richi Dili Puspita (WD) dan Ahmad Tantowi / Yulianti (XD).  Sementara itu Lima gelar juara dicapai pemain Indonesia pada turnamen Jakarta Open Satelitte. Gelar-gelar juara tersebut dihasilkan oleh pemain-pemain Djarum Kudus, Ari Yuli Wahyu (MS), Maria Elfira (WS), Frans K / Yonathan (MD), Meliana / Shendy (WD) dan Frans K / Rintan Aprillia (XD). Di kelompok Yunior diselenggarakan Milo Junior Indonesia Open di Bandung yang hanya mempersembahkan satu gelar buat tuan rumah melalui Febby Angguni, sedang empat gelar juara lainnya diboyong negeri Jiran, Malaysia
Negara-negera lainnya yang menyelenggarakan dua atau lebih turnamen Internasional antara lain Korea, Thailand, Jepang, Singapura, Vietnam dan Belanda. Korea dengan turnamen Korea SS dan Korea Challenger mampu meraih satu gelar di ajang Korea superseries  melalui Jung Jae Sung / Lee Young Dae (MD) dan memborong semua gelar Korea Challanger dari pemainnya Seung Shon Mo (MS), Lee Yun Hwa (MS), Kwon Yi Goo / Ko Sung Hyun (MD), Yoo Hyung Yun / Jung Kyung Eun (WD) dan Shin Beek Choel / Yoo Hyun Young (XD)
Jepang juga berhasil meraih manfaat menjadi tuan rumah. Meskipun gagal meraih juara di Jepang Open Superseries, mereka menyapu empat gelar juara Osaka International Challanger dari pemainnya Sho Sasaki (MS), Enriko Hirose (WS), Aki Akao / Tomomi Matsuda (WD) dan Keita Masuda / Miyuki Maeda (XD). Satu-satunya pemenang diluar Jepang adalah nomor ganda putra yang dimenangkan pasangan Korea, Han Shoon Hoon / Cho Gun Woo.  Hasil yang mirip juga diperoleh oleh Thailand yang gagal meraih gelar pada GP Gold Thailand Open tetapi berhasil meraih 2 gelar pada Thailand International melalui Pompat. S (MS) dan Salakjit Polsana (WD). Sedangkan dua gelar juara lainnya di boyong Indonesia melalui Yulianti / Richi P (WD), Ahmad Tantowi / Yulianti (XD) serta satu gelar terbang ke Hongkong. Satu lagi perhelatan bulutangkis yang di gelar di Thailand adalah Sea Games yang semua medali emas - nya diraih tim Indonesia.
Bila beberapa negara diatas berhasil merebut Juara saat menjadi tuan rumah maka lain halnya dengan Vietnam. Meskipun mereka menyelenggarakan tiga turnamen yaitu GP Vietnam Open, Vietnam International dan Kejuaraan Asia Usia 16 tahun, tetapi tidak satu pun gelar juara yang berhasil direbut. Hasil serupa juga terjadi pada Singapura yang menyelenggarakan turnamen Singapore Superseries dan Cheer Singapore International serta Belanda yang menggelar turnamen GP Dutch Open dan Holland International.
Terlepas dari apapun hasil yang diperoleh para tuan rumah tersebut tetapi negara penyelenggara lebih dari satu turnamen Internasional tetap akan mendapat nilai positif buat kemajuan bulutangkis di negara nya. Pemain-pemain lokal berkesempatan mengukur kemampuannya dengan pemain-pemain dari negara lain yang kesempatan tersebut sulit diperoleh pemain yang masih pada peringkat level bawah. Kegagalan Indonesia pada Indonesia Open Superseries dan Malaysia pada Kejuaraan dunia juga menjadikan pelajaran bagi para tuan rumah bahwa pembebanan terlalu tinggi pada pemainnya bisa memberikan hasil sebaliknya. Mengacu hasil baik maupun buruk selama tahun lalu, semoga tidak menjadikan para negara-negara tersebut mengurangi kuantitas dan kualitas kompetisi Internasional yang diselenggarakan di negaranya.

Add comment 25 Januari 2008

Membedah Ajang Tarkam Sebagai Potensi Positif

Oleh Hendri Kustian

Tarkam merupakan suatu ajang pertandingan yang merupakan kepanjangan dari tarikan kampung atau antar kampung. Beberapa cabang olahraga yang populer di masyarakat menjadi cabang yang diminati dalam event ini seperti sepak bola dan bola voli. Sepintas tidak ada yang aneh dengan event tarkam ini. Namun ketika mengamati lebih dalam ditemukan hal menarik dari ajang ini karena terkadang yang tampil bukanlah pemain kelas kampung seperti nama ajangnya. Tidak jarang pemain sekelas Pelatda tingkat kabupaten, pelatda tingkat propinsi bahkan pemain pelatnas atau pemain nasional ikut meramaikannya.

 

Kenyataan tersebut juga terjadi dalam cabang bulutangkis. Sudah menjadi rahasia umum bahwa pebulutangkis kita dari berbagai level sering terjun di arena tarkam. Alasan pemain-pemain tersebut pun beragam mulai sekedar refreshing sampai benar-benar tujuan untuk mencari uang. Bagi penyelenggara ajang tarkam juga memiliki beragam kepentingan. Tujuan yang umum bagi penyelenggara antara lain sarana promosi suatu produk. Promosi produk tertentu bahkan lebih efektif dan efisien di arena Tarkam. Efektif karena promosi produknya langsung sampai ke sasarannya dan efisien karena bisa memotong biaya-biaya birokrasi dibandingkan mengadakan turnamen resmi yang tercatat sebagai kalender PBSI. Image lain dari tarkam adalah adu gengsi tokoh daerah. Tidak jarang tokoh-tokoh daerah mengeluarkan uang pribadi nya sampai puluhan juta rupiah untuk menunjukkan eksistensinya di daerah tersebut. Ada juga sisi negatif kerap mengiringi arena tarkam karena dimanfaatkan oknum tertentu sebagai ajang judi.

 

Terdapat dua tipe pertandingan tarkam yang sering mengundang pemain hebat. Tipe yang pertama ada dalam bentuk suatu turnamen. Pemain bayaran untuk tarkam bisa saja tidak dibayar bila uang hadiahnya menggiurkan. Namun ada juga yang minta uang tampil disamping uang hadiah turnamen. Tipe kedua adalah sistem pertandingan persahabatan dimana pertandingan selesai dalam satu hari. Untuk tipe kedua ini pemain memang dibayar untuk tampil. Dari penelusuran penulis di lapangan, tarif untuk tarkam ini disesuaikan dengan level pemain-pemain tersebut. Pemain sekelas Pelatda biasa mendapat bayaran 250 ribu sampai 300 ribu, sedangkan untuk pemain pelatnas yunior tarifnya mencapai 600-700 ribu. Uang tampil untuk pemain senior lebih tinggi lagi mencapai lebih dari satu juta, bahkan pemain paling top negeri ini bisa mendapat bayaran sampai lima juta rupiah. Uang tampil ini cukup fantastis karena mereka hanya main satu sampai dua kali.

 

Ajang tarkam ini menjadi cukup menggiurkan dibandingkan ikut turnamen sekelas satelite. Seorang pemain yang ikut turnamen sekelas satelite atas biaya sendiri misalnya di Malaysia Satelitte. Untuk seorang juara akan mendapat hadiah sebesar 9 juta, runner up 4,5 juta dan semifinalis 2 juta.  Pertandingan untuk mencapai babak semifinal selama lima hari dan peluang untuk juara-pun lebih sulit karena tantangan juga datang dari pemain asing. Bayangkan biaya yang dikeluarkan seperti transportasi dan penginanapan bila dibandingkan hadiah yang akan diperoleh. Atas alasan tersebut maka buat pemain yang tidak dibiayai oleh Pelatnas maupun klub maka berkarir di Tarkam akhirnya jadi pilihan. Sedangkan untuk sebagian pemain nasional yunior, hari libur latihan tidak sering dimanfaatkan sebagai penambah uang saku. Apalagi minimnya uang saku yang mereka terima dari Pelatnas dan jarangnya mendapat hadiah karena tidak diturunkan di turnamen-turnamen Internasional. Pemain seniorpun kadang juga tertarik ikut karena inilah saatnya mereka mengumpulkan modal sebanyak-banyaknya buat bekal setelah pensiun. Seperti yang kita ketahui pensiunan atlet dinegeri ini belum mendapat perhatian yang cukup.

 

Bagi pengurus olahraga negeri ini Tarkam merupakan momok yang harus dimusuhi. Ini sebenarnya bisa dimaklumi karena untuk pemain pelatnas akan mengambil waktu istirahat pemainnya, sedangkan untuk pemain yunior bisa menjadi terfokus untuk mencari uang dibandingkan prestasi di turnamen resmi. Tetapi apabila tarkam tersebut bisa dibuatkan suatu sistem untuk memfasilitasinya maka sebenarnya Tarkam adalah potensi bagi perbulutangkisan negeri ini. Bayangkan uang yang dikeluarkan oleh penyelenggara-penyelenggara Tarkam cukup besar. Seandainya ajang tarkam bisa sekaligus sebagai ajang pembinaan atlet-atlet muda maka tarkam akan menjadi lumbung calon-calon atlet. Misalnya seorang pemain level pelatda atau pelatnas harus berpasangan dengan pemain muda untuk bertanding dengan pemain pelatnas dengan pemain muda dari tim lawannya. Kesempatan seperti ini akan sangat berarti bagi pemain muda untuk meningkatkan kualitas permainannya.

 

Pengurus organisasi olahraga negeri perlu memikirkan lagi bagaimana Tarkam yang selama ini lebih dianggap sebagai musuh dapat dikreasikan sebagai mitra ajang pembinaan atlet muda. Solusi-solusi yang bisa mendukung seperti mempermudah birokrasi dan standarisasi menjadi suatu turnamen resmi PBSI, memberikan levelling turnamen sampai menyentuh level-level turnamen terendah dan menghapus monopoli sponsorships buat pemain nasional. PBSI sebagai induk olahraga bulutangkis Indonesia sudah selayaknya menjadi payung bagi semua elemen masyarakat perbulutangkisan Indonesia.

Add comment 18 Desember 2007

Ranking Atlit Indonesia (13/12/07)

Tunggal Putra

6. Sony Dwi Kuncoro
7. Taufik Hidayat
11. Simon Santoso
28. Andre Kurniawan Tedjono
55. Tommy Sugiarto
64. Ari Yuli Wahyu Hartanto
70. Alamsyah Yunus
100. Dionysius Hayom Rumbaka

Tunggal Putri

20. Maria Kristin Yulianti
36. Adriyanti Firdasari
70. Pia Zebadiah Bernadet
72. Maria Elfira Christina
76. Fransisca Ratnasari
88. Rosaria Yusfin Pungkasari
92. Maria Febe Kusumastuti
93. Aprillia Yuswandari
95. Sylvinna Kurniawan

Ganda Putra

2. Markis Kido/Hendra Setiawan
4. Candra Wijaya/Tony Gunawan
9. Luluk Hadiyanto/Alvent Yulianto
13. Hendra Gunawan/Joko Riyadi
28. Rian Sukmawan/Yonathan Suryatama Dasuki
41. Bona Septano/Mohammad Ahsan
73. Afiat Yuris Wirawan/Wifqi Windarto
73. Rendra Wijaya/Fran Kurniawan

Ganda Putri

15. Endang Nursugianti/Rani Mundiastuti
20. Lilyana Natsir/Vita Marissa
30. Jo Novita/Greysia Polii
35. Meiliana Jauhari/Shendy Puspa Irawati
50. Nitya Krishinda Maheswari/Lita Nurlita
56. Puspita Richi Dili/Yulianti
73. Lita Nurlita/Nathalia Poluakan
75. Nadya Melati/Devi Tika Permatasari
95. Nathalia Poluakan/Yulianti
97. Nitya/Nadya

Ganda Campuran

2. Nova Widianto/Lilyana Natsir
4. Flandy Limpele/Vita Marissa
16. DEvin Lahardi Fitriawan/Lita Nurlita
43. Tantowi Akhmad/Yulianti
97. Lingga Lie/Nitya Krishinda Maheswari

1 comment 18 Desember 2007

Previous Posts


Categories

Links

Feeds