Kebangkitan Tunggal Putra (Pelatnas) Indonesia?

Simon Santoso

Peringkat dunia Simon Santoso akhirnya berhasil menyalip Sony Dwi Kuncoro tahun ini, sekaligus menjadikannya tunggal putra Pelatnas nomor satu. Simon sekarang berada di peringkat enam dunia, sedangkan Sony di tujuh dunia (rilis peringkat BWF tanggal 19 Agustus 2010).

Kiprah Simon tahun ini memang tergolong baik. Secara laun namun pasti, ia menaiki tangga dari 16 besar di All England Maret lalu, diikuti dengan perempat final di Singapore Open Super Series dan Indonesia Open Super Series pada bulan Juni, lalu naik lagi menjadi semifinalis di Macau Open Grand Prix Gold, dan puncaknya adalah menjadi jawara di Taipei seminggu setelahnya.

Sony Dwi Kuncoro

Sony sendiri bermain konsisten selama dua tahun terakhir. Lebih dari 70% catatan jejak rekamnya menunjukkan bahwa Sony lolos setidaknya sampai ke perempat final di turnamen internasional individu. Walaupun tahun lalu Sony nihil gelar, namun ia telah membalasnya tahun ini dengan menjuarai Singapore Open Super Series. Sedangkan catatan Simon menunjukkan bahwa selama dua tahun terakhir, ia berhasil lolos setidaknya sampai ke perempat final di sekitar 80% partisipasinya dalam turnamen individu. Walau berbeda persentase di kelolosan perempat final, tetapi keduanya memiliki persentase sama dalam hal lolos setidaknya sampai ke semifinal (sekitar 36%).

Dionysius Hayom Rumbaka

Yang mencolok di tunggal putra Pelatnas tidak hanya Simon dan Sony. Sejak awal tahun ini, Pelatnas juga diramaikan oleh kedatangan Dionysius Hayom Rumbaka. Akhir tahun lalu ia masih berada di peringkat 50 besar dunia tetapi sekarang telah melesak masuk ke 25 besar dunia dan pernah mengalahkan Boonsak Ponsana di Hongkong Open Super Seris 2009 dan berjibaku ketat dengan pemain nomor satu dunia, Lee Chong Wei di Singapore Open Super Series 2010 dengan skor 13-21, 21-19, dan 16-21.

Walau demikian, mereka masih memiliki tugas yang lebih besar lagi, yakni, meruntuhkan tembok besar China. Sepanjang dua tahun terakhir, yang pernah menuai sukses melewati pemain China hanyalah Sony yang pernah mengalahkan Chen Long di Japan Open Super Series 2009, Du Pengyu di All England 2010, dan Chen Yuekun di Macau Open Grand Prix Gold 2010. Namun semua yag dikalahkan Sony adalah nama-nama “baru,”sedangkan nama-nama besar seperti Chen Jin, Lin Dan, dan Bao Chun Lai belum terlewati oleh siapa pun, bahkan tidak oleh sang senior, Taufik Hidayat.

China tidak banyak unjuk gigi tahun ini. Kita tidak tahu apa yang sedang mereka lakukan atau persiapkan. Tetapi satu hal yang pasti, Pelatnas kita tidak boleh lengah dan juga harus mempersiapkan diri sebaik-baiknya kala Sang Naga kembali unjuk diri.

Yang pasti, tunggal putra Indonesia (seharusnya) tidak boleh dipandang sebelah mata.

Dan yang pasti, regenerasi harus tetap jalan karena China telah mulai memperlihatkan pemuda-pemuda anyar yang memperlihatkan mental baja.

Bagaimana Indonesiaku?

19 Agustus 2010 at 12:36 pm 1 komentar

Bulutangkis dan Persatuan Indonesia

Mungkin rekan-rekan pembaca ada yang ikut merayakan hari kemerdekaan Indonesia (17 Agustus-an) dengan mempertontonkan semangat juang “patriotisme” lewat tepok bulu. Saya sebenarnya bermaksud ikut serta di pertandingan RW setempat tapi ternyata telat mendaftar. Akhirnya saya keliling-keliling Jakarta selama sebulan terakhir untuk melihat perayaan 17-an di beberapa tempat berbeda dan saya menemukan satu kesamaan hampir di seluruh perayaan: bulutangkis menjadi salah satu olahraga yang dipertandingkan, tidak peduli fasilitasnya memadai atau tidak.

Pertandingan bulutangkis 17-an ini tidak pandang bulu. Ada yang keren, memakai lapangan indoor karpet nan rupawan yang disertai dengan petugas pembersih karpet lapangan jika ada pemain yang merasa licin karena keringat; sampai ada yang seadanya saja dengan menyulap bantaran kali menjadi lapangan bulutangkis dengan lapangan yang dicat. Ada pula yang memakai batasan umur dan gender; ada pula yang tidak sama sekali memakai kategori, yang penting bertanding.

Namun dari semuanya itu, saya merasakan satu semangat yang sama: semangat bermain bulutangkis dengan ceria dan semangat kekeluargaan. Semua lapangan dipenuhi gelak tawa dan riuh rendah dukungan. Baik yang menang maupun kalah sama-sama merasakan kegembiraan. Walaupun saya “pendatang” dan “orang luar” namun saya tetap merasakan kehangatan.

Hal tersebut kemudian memutar ulang episode-episode di masa lalu dimana masyarakat Indonesia selalu satu hati, satu pikiran saat mendukung para atletnya bertanding. Saya mengingat gempita di Istora Senayan setiap pertandingan Indonesia Open diadakan. Saya merasakan bulu kuduk berdiri dan jantung berdebar keras saat mengikuti jalannya pertandingan final Kejuaraan Dunia beberapa kali saat Indonesia masuik final. Saya bahkan mendapat teman-teman baru di lapangan luar negeri karena sama-sama mendukung Indonesia.

Saya pun tersenyum.

Bagi masyarakat Indonesia, bulutangkis bukanlah sekedar olahraga biasa. Bagi kita, bulutangkis adalah olahraga PEMERSATU bangsa. Melalui olahraga inilah, bangsa kita bersuara lantang di kancah internasional. Saat olahraga ini dipertandingkan secara internasional, seluruh bangsa Indonesia pun bersatu menyemangati para atlet bangsa. Dan saat Sang Saka Merah Putih berkibar dan lagu Indonesia Raya berkumandang di ajang bulutangkis bergengsi, jantung dan badan kita pun turut bergetar bersama trenyuhnya hati sang atlet.

Di dalam olahraga inilah, hati dan semangat bangsa Indonesia bersatu, dan lagu “Satu Nusa Satu Bangsa” pun terasa lebih nyata. Dan saya rasanya semakin menyukai olahraga tepok bulu satu ini setelah berkeliling Jakarta yang penuh dengan nuansa merah-putih.

Selamat ulang tahun, Indonesia. Berkibarlah benderaku di lapangan bulutangkis.

18 Agustus 2010 at 1:33 pm 1 komentar

Rian di Singapura: Belajar untuk Lebih Berani

Sosok berbadan tinggi besar itu melangkah keluar dari lapangan. Pasangannya terlihat lesu dan setelah tidak lama berjalan menjauhi lapangan, ia merebahkan dirinya di lantai terdekat. Ia terlihat lelah.

……

Photo Courtesy of Elina Ciptadi, Singapore

Rian Sukmawan tetap terlihat segar walaupun tidak tertutup rasa kecewanya setelah kalah di babak pertama Singapore Open Super Series 2010. Berpasangan dengan Yonatan Suryatama Dasuki, mereka kalah dari pasangan Korea, Yoo Yeong Seon/Ko Sung Hyun. Kalah 14-21 dan 16-21, Rian menceritakan apa yang terjadi.

“Dari awal kita memang kurang berani,” ujarnya memulai ceritanya. “Pelatih bilang jangan banyak menunggu bola, tetapi praktek di lapangannya tentu saja tidak mudah.”

Istilah “berani” memang terkadang rancu. Di satu titik hal ini berarti harus bermain lebih agresif, dan berani melakukan penempatan bola ke tempat-tempat “aneh” yang mungkin beresiko keluar garis atau menempel di net. Di sisi lain, berani dapat melenceng menjadi “terburu-buru” yang biasanya mengurangi akurasi permainan.

“Pada saat terima servis kita sering buru-buru,” lanjut Rian yang diikuti dengan anggukan Yoke, nama panggilan Yonatan.

Di Singapore Open Super Series, Rian/Yonatan baru pernah maju sampai ke babak kedua. Rencananya mereka ingin langsung bisa pulang ke Jakarta agar bisa segera bersiap untuk Indonesia Open Super Series 2010 yang akan dimulai minggu depan.

16 Juni 2010 at 3:44 pm 5 komentar

Bae Youn Joo: Si Kidal Mutiara Terpendam

BAE Youn Joo Image

Mungkin belum banyak yang mengenal Bae Youn Joo, tetapi jika kita melihat prestasinya, rasanya perlu bagi kita (dan masyarakat bulutangkis internasional) untuk menyeriusinya lebih lanjut.

Di putaran kualifikasi zona Asia Piala Uber 2010, Youn Joo menorehkan prestasi sempurna: 100% kemenangan di setiap pertandingan, dan hanya satu kali kehilangan set (91% kemenangan set). Ia menundukkan Maria Febe Kusumastuti serta Maria Kristin Yulianti dari Indonesia sepanjang pertarungan di Nakhon Ratchasima tersebut.

Youn Joo adalah juara GGJP Indonesia Challenge tahun 2008, Korea International Challenge 2009, dan Singapore International Series 2009, serta menjadi runner up di Malaysia Open Super Series tahun ini. Daftar tersebut memang terkesan biasa; tetapi jika kita merunut lebih jauh ke siapa yang menjadi lawannya sepanjang perjalanan karir bulutangkisnya, maka daftar itu pun menjadi tidak biasa.

Di Malaysia Super Series saat ia menjadi runner up, ia mengejutkan publik dengan beberapa kemenangan tak terduga. Di antaranya adalah mengalahkan Zhou Mi, atlet Hong Kong unggulan keempat yang terpuruk 21-16, 7-21, dan 15-21 di tangan Youn Joo. Setelah Zhou Mi, giliran Salakjit Ponsana –salah satu bintang utama putri Thailand– yang tersingkir 16-21 dan 11-21.

Namun goresan prestasi termutakhirnya adalah mengalahkan unggulan pertama serta peringkat satu dunia asal Tiongkok, Wang Yihan di semifinal. Ia menang 17-21, 21-13, 21-19 melalui pertarungan selama satu jam lebih.

Lahir di Masan, 26 Oktober 1990, Youn Joo belum pula genap 20 tahun. Namun bintangnya sudah bersinar demikian terang. Tak salah Pelatnas Korea menariknya masuk tiga tahun silam. Youn Joo terbukti mutiara terpendam.

28 Februari 2010 at 10:20 pm 1 komentar

Rangking Atlet Indonesia (6 Agustus 2009)

Setali tiga uang dengan bulan Juni, Juli pun merupakan bulan penuh turnamen, walaupun dengan level yang berbeda. Putra-putri Indonesia berlaga di Filipina Grand Prix Gold, Thailand Grand Prix Gold, Australia Grand Prix, serta Selandia Baru Grand Prix sepanjang bulan Juli.

Perbandingan sebulan terakhir terbagi menjadi dua kubu: lompatan ekstrim atau stagnan adem ayem.

Tunggal Putra

4. Taufik Hidayat
6. Sony Dwi Kuncoro
14. Simon Santoso (13) –
16. Andre Kurniawan Tedjono (17) +
51. Dionysius Hayom Rumbaka (73) + + + +
65. Tommy Sugiarto (55) – –
77. Ari Yuli Wahyu Hartanto (76) –
81. Alamsyah Yunus (new)

Tunggal Putri

19. Maria Kristin Yulianti (18) –
22. Adriyanti Firdasari (21) –
25. Maria Febe Kusumastuti (47) + + + +
57. Rosaria Yusfin Pungkasari (58) +
70. Fransiska Ratnasari (new)
82. Maria Elfira Christina (76) –

Ganda Putra

1. Markis Kido/Hendra Setiawan
7. Muhammad Ahsan/Bona Septano (10) +
11. Alvent Yulianto/Hendra Gunawan (21) + +
13. Yonatan Suryatama Dasuki/Rian Sukmawan (16) +
29. Fernando Kurniawan/Lingga Lie (36) + +
37. Fran Kurniawan/Rendra Wijaya
42. Tony Gunawan/Candra Wijaya (41) –
49. Hendra Gunawan/Joko Riyadi
53. Wifqi Windarto/Afiat Yuris Wirawan (46) –
90. Joko Riyadi/Candra Wijaya (87) –

Ganda Putri

9. Shendy Puspa Irawati/Meiliana Jauhari
10. Greysia Polii/Nitya Krishinda Maheswari
35. Jo Novita/Rani Mundiastuti (31) –
53. Endang Nursugianti/Lita Nurlita (59) +
41. Annisa Wahyuni/Anneke Feinya Agustin (60) + + +
56. Debby Susanto/Pia Zebadiah Bernadeth (NEW)
73. Nadya Melati/Natalia Christine Poluakan (66) –

Ganda Campuran

2. Nova Widianto/Lilyana Natsir
16. Devin Lahardi Fitriawan/Lita Nurlita
30. Flandy Limpele/Anastasia Russkikh (INA/RUS/41) + +
47. Flandy Limpele/Vita Marissa (45) –

55. Muhammad Rijal/Debby Susanto (90) + + + + +
61. Tantowi Ahmad/Puspita Richi Dili (83) + + + +
75. Fran Kurniawan/Pia Zebadiah Bernadeth (NEW)
90. Anggun Nugroho/Endang Nursugianti (88) –

10 Agustus 2009 at 6:48 pm 6 komentar

Rangking Atlit Indonesia Top 100 (2 Juli 2009)

Vakumnya tim PB Djarum di banyak perhelatan internasional membuat peringkat para atlitnya tergelincir, bahkan sampai jauh ke bawah. Ganda putri menunjukkan perkembangan yang baik, tetapi ganda campuran yang selama ini menjadi salah satu tumpuan perlu dicermati dengan hati-hati karena jurang kembali terlihat.

Tunggal putri sendiri belum memberikan gempuran berarti sampai saat ini. Maria Kristin masih berkutat dengan cederanya, sedangkan Maria Febe walaupun berpotensi tetapi masih belum cukup matang. Amunisi perlu segera diperbanyak dan dipoles.

Tunggal Putra

4. Taufik Hidayat (5) +
6. Sony Dwi Kuncoro
13. Simon Santoso (8) –
17. Andre Kurniawan Tedjono
55. Tommy Sugiarto (44) – –
73. Dionysius Hayom Rumbaka (69) –
76. Ari Yuli Wahyu Hartanto (45) – – – – –

Tunggal Putri

18. Maria Kristin Yulianti (15) –
21. Adriyanti Firdasari (20) –
35. Pia Zebadiah Bernadet (30)
47. Maria Febe Kusumastuti (46) +
58. Rosaria Yusfin Pungkasari (55) –
76. Maria Elfira Christina (44) – – – – –

Ganda Putra

1. Markis Kido/Hendra Setiawan
10. Muhammad Ahsan/Bona Septano (8) –
16. Yonatan Suryatama Dasuki/Rian Sukmawan (11) –
21. Alvent Yulianto/Hendra Gunawan (42) + + +
36. Fernando Kurniawan/Lingga Lie (22) – –
37. Fran Kurniawan/Rendra Wijaya (18) – – –
41. Tony Gunawan/Candra Wijaya (25) – – –
46. Wifqi Windarto/Afiat Yuris Wirawan (54) + +
49. Hendra Gunawan/Joko Riyadi (53) +
87. Joko Riyadi/Candra Wijaya (91) +

Ganda Putri

9. Shendy Puspa Irawati/Meiliana Jauhari (8) –
10. Greysia Polii/Nitya Krishinda Maheswari (25) + + +
31. Jo Novita/Rani Mundiastuti (35) +
53. Endang Nursugianti/Lita Nurlita (59) +
60. Annisa Wahyuni/Anneke Feinya Agustin (NEW!) + + + + +
66. Nadya Melati/Natalia Christine Poluakan
86. Dewi Komala/Debby Susanto (89) +

Ganda Campuran

2. Nova Widianto/Lilyana Natsir (1) –
16. Devin Lahardi Fitriawan/Lita Nurlita (21) +
37. Fran Kurniawan/Shendy Puspa Irawaty (15) – – – –
40. Rendra Wijaya/Meiliana Jauhari (23) – – –
41. Flandy Limpele/Anastasia Russkikh (INA/RUS/55) + +
45. Flandy Limpele/Vita Marissa (27) – – –

83. Tantowi Ahmad/Puspita Richi Dili (90) +
88. Anggun Nugroho/Endang Nursugianti (60) – – – –
90. Muhammad Rijal/Debby Susanto (NEW!)

7 Juli 2009 at 9:55 pm 8 komentar

Febe Target Masuk Pelatnas Tahun Ini

Foto: PB Djarum

Febe atau Maria Febe Kusumastuti menarik perhatian masyarakat saat menjadi wakil tunggal putri yang bertahan paling akhir di Djarum Indonesia Open Super Series 2009, yakni sampai di perempat final. Di babak pertama ia menundukkan unggulan kelima dari Perancis, Pi Hongyan lalu menyerakkan pemain India, Aditi Mutatkar di babak kedua sebelum akhirnya tumbang di tangan unggulan ketiga, Wang Lin dari Tiongkok.

Dengan “hanya” bertinggi badan 162 cm, Febe terlihat mungil di atas lapangan. Tetapi jangan terkecoh dengan badannya yang mungil tersebut, karena Febe sangat lincah dan benteng pertahanannya tergolong kokoh.

Lahir di Boyolali, Jawa Tengah, 30 September 1989, Febe menemukan cintanya pada bulutangkis karena sering bermain bersama keluarganya. Sejak berusia tujuh tahun, ia mulai ikut pertandingan dan pada usia 12 tahun ia bergabung dengan PB Djarum sampai saat ini.

Febe sudah pernah dipanggil untuk masuk pelatnas, tetapi saat itu ia merasa belum matang secara teknik sehingga memilih untuk lebih menempa dirinya di klubnya yang sekarang. Setelah itu ia pernah dipanggil lagi, tetapi ia tidak dapat memenuhi panggilan tersebut karena sakit.

“[Target saya tahun ini] ingin masuk pelatnas,” kata Febe. Ia ingin membela tanah air di perhelatan yang membawa tim negara seperti Piala Sudirman dan Piala Uber.

Ditunggu kehadirannya di Pelatnas ya, Jeng. Tetap semangat!

Prestasi Febe

Perempat finalis Indonesia Open Super Series 2009

Semifinalis Vietnam Internasional 2009

Juara Sirnas Kalimantan 2009

Juara Bitburger Open Grand Prix 2008

Juara Beregu Piala Gubernur Kudus 2008

Juara Dutch (Belanda) Junior 2007

Juara Brazil international Coris Corporate 2006

22 Juni 2009 at 8:57 pm 1 komentar

Pos-pos Lebih Lama


Kalender

September 2016
S S R K J S M
« Agu    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930