Kido/Hendra Bawa Pulang Gelar Juara Asia

13 April 2009 at 10:21 am 1 komentar

Foto: Kido/Hendra (kaos putih) juara ganda putra di Kejuaraan Asia 2009 di Suwon, Korea Selatan setelah mengalahkan ganda tuan rumah, Koo Sung Hyun/Yoo Yeon Seong, 21-18, 26-24 dalam waktu 36 menit (BadmintonTimes)

Tekad dibarengi dengan adaptasi ulang strategi berbuah manis

Ganda putra utama Indonesia, Markis Kido/Hendra Setiawan, pulang dari Korea Selatan dengan membawa oleh-oleh manis minggu lalu: gelar juara Asia, sebuah gelar tingkat Grand Prix (GP) Gold (hanya setingkat di bawah Super Series). Dengan kondisi lutut kiri yang belum pulih sempurna, Kido bersama dengan Hendra meraih kemenangan dan membangun kepercayaan diri mereka untuk menghadapi tantangan selanjutnya: piala beregu Sudirman di Guangzhou.

“Senang pastinya,” ujar Kido sehubungan dengan gelar pertamanya tahun ini tersebut. “Mudah-mudahan terus bertambah dengan gelar-gelar selanjutnya.”

Pelatnas hanya mengirim Kido/Hendra ke Kejuaraan Asia tahun ini karena ingin memberikan suasana bertanding kepada pasangan ini sebelum maju ke ajang yang lebih serius lagi: Piala Sudirman pada awal Mei, karena Kido/Hendra absen di dua turnamen elit Eropa, All England dan Swis Super Series Maret lalu.

Walaupun Kido/Hendra sudah “sejoli” sejak bertahun-tahun silam, tetapi melakukan adaptasi ulang formasi ternyata bukan hal mudah.

“Mainnya masih biasa,” celetuk Hendra, usai mengalahkan pasangan Jepang, Hajime Komiyama/Yoshiteru Hirobe di babak pertama turnamen berhadiah total US$150.000 ini. Hendra juga mengemukakakan kecanggungan mereka atas perubahan rotasi. “Di akhir pertandingan [melawan Hajime/Yoshiteru – red] lutut saya terasa agak sakit karena kami lupa sehingga saya kembali ke posisi belakang,” tambah Kido.

Selama ini biasanya Kido yang menjaga area belakang dengan lompatannya yang tinggi dan ledakan-ledakan smesnya, sedangkan Hendra yang cekatan mengontrol bola dari dan menjaga area depan untuk mematikan pengembalian bola tanggung dari lawan. Kali ini mereka berganti posisi.

“Kido lebih banyak di depan,” jelas Sigit Pamungkas, pelatih ganda putra pelatnas. Pertukaran ini diharapkan menjaga agar cedera Kido tidah mudah kumat lagi karena Kido akan lebih jarang melompat (tinggi) jika berjaga di area depan.

Selain Kido/Hendra, yang absen di tur elit Eropa karena cedera adalah atlit tunggal putri utama Indonesia, Maria Kristin Yulianti. Cedera lutut kanannya mengharuskan dia istirahat dan lebih fokus ke persiapan Piala Sudirman. Jika Kido/Hendra mempersiapkan diri di Kejuaraan Asia, Suwon, Korea Selatan, Kristin dipersiapkan di India GP akhir Maret lalu. Hanya saja, Kristin sudah harus berbenah setelah bertanding satu kali dan kalah tipis dari pemain Singapura, Zhang Beiwen karena cedera lututnya membuat dia tidak leluasa bergerak.

Atlit dan Cedera

Atlit bulutangkis termasuk yang rentan cedera. Di Indonesia sendiri, tahun ini telah tercatat Markis Kido (cedera lutut kiri / atlit ganda putra), Bona Septano (cedera kaki kanan / atlit ganda putra), Maria Kristin Yulianti (cedera lutut kanan / atlit tunggal putri), dan Sony Dwi Kuncoro (cedera pinggang / atlit tunggal putra). Selain mereka, kita juga mengingat Vita Marissa dengan cedera bahunya, Taufik Hidayat dengan cedera pinggangnya, Jo Novita yang pernah mengalami sobek ligamen lutut, serta Simon Santoso – semuanya adalah atlit aktif.

Memang terlihat mengenaskan, tetapi ternyata Indonesia tidak sendiri. Tantangan serupa juga dihadapi oleh negara lain, termasuk Eropa, Tiongkok, dan Hong Kong.

Menurut Wijanarko Adi Mulya, anggota pengurus PBSI Jawa Timur, cedera dapat terjadi karena beberapa hal dan dapat menyergap siapa pun, dari pemain hobi sampai atlit profesional. Di antara ragam penyebab adalah kelelahan berlebihan pada otot (stres otot) yang dapat disebabkan oleh panjangnya waktu bermain dan/atau banyaknya partai yang harus diikuti, pemanasan yang tidak memenuhi syarat, maupun salah gerak.

Bagi Tina Juan, konsultan dan ahli kebugaran asal Filipina yang pernah menjadi kolumnis di Badminton Asia selama tiga tahun, masalah cedera pada atlit profesional biasanya berakar pada “berlebihan selalu” (too much all the time) karena pada pertandingan bulutangkis badan bergerak terus-menerus dengan kecepatan relatif tinggi – rata-rata lama pertandingan adalah 30-60 menit dengan rata-rata kok dipukul setiap 0,8-0,9 detik. Kondisi ini memacu setidaknya otot, jantung, paru-paru, mata, otak, dan sendi untuk terus bekerja intens selama pertandingan berlangsung.

Kondisi ini juga seringkali diperparah dengan tendensi atlit yang pernah mengalami (atau sedang) cedera untuk berlatih lebih intens daripada mereka yang tidak cedera. Sebagai seorang atlit yang mengalami cedera tentunya mereka dihadang dilema. Mereka biasanya harus istirahat total dari latihan sehingga ketika mereka dapat kembali berlatih, tentunya mereka berpikiran untuk dapat “membalas” waktu latihan yang hilang dengan terkadang berlatih lebih, karena jika tidak berlatih, bisa-bisa badan jadi kaku dan akan membutuhkan waktu lebih lama untuk kembali ke penampilan semula.

Setelah mengetahui segala fakta ini, saya rasa kita perlu mendukung penuh para atlit kita (terutama dalam hal ini, bulutangkis) karena dengan kebutuhan fisik, kebugaran, dan mental yang sedemikian rupalah mereka berjuang atas nama Sang Saka Merah Putih. Bulutangkis adalah olahraga berat dan termasuk yang rentan cedera. Teruslah dukung dan doakan para atlit kita agar selalu memiliki kesehatan, kebugaran, dan mentalitas yang baik dan terus terasah, dan terhindar dari cedera (terutama cedera serius).

Sumber:

Patrick Shu-Hang Yung, Romy Hing-Kwan Chan, Fiona Chui-Yan Wong, Phoebe Wai-Ling Cheu, Daniel Tik-Pui Fong; Epidemiology of Injuries in Hong Kong Elite Badminton Athletes; dipublikasikan di Research in Sports Medicine, Volume 15, Issue 2, April 2007

Team China Sparks Elation, Devastation, dipublikasikan di DZWWW.com

Painful Conditions in the Achilles Tendon Region in elite Badminton Players, The American Journal of Sports Medicine Volume 30, Issue 1, 7 Juli 2002

Harian Surya, 5 Juli 2007, “Kurang Waspada, Olahraga Bikin Cedera”

Prevent Badminton Injuries, www.tinajuanfitness.info

Entry filed under: Atlit, Opini, Turnamen. Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , .

Peringkat Atlit Indonesia (5 Maret 2009) Peringkat Atlit Indonesia (9 April 2009)

1 Komentar Add your own

  • 1. p'dha  |  30 April 2009 pukul 8:46 pm

    chAYoo FOR inD0NesIaAAA,,,,,,,,,,,,,,

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kalender

April 2009
S S R K J S M
« Mar   Mei »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

%d blogger menyukai ini: