Kalah = Malu-Maluin?

17 Mei 2008 at 11:05 pm 7 komentar

Jika kita telah berjuang sekerasnya dan memberikan yang terbaik, kenapa harus malu?

Saya menonton semifinal Thomas Cup Indonesia melawan Korea. Banyak yang merasa “malu” karena kita kalah oleh Korea yang “underdog”. Saya mau tidak mau harus menyanggah hal ini.

Mungkin pelatih Korea menyebut timnya the underdog, tetapi di atas kertas mereka sama sekali bukan underdog. Ganda putra mereka hebat bin solid. Ganda putra pertama mereka, Lee Yong Dae/Jung Jae Sung, adalah nomor tiga dunia — dapat dikatakan sejajar dengan Markis/Hendra. Tahun ini saja, Lee/Jung sukses merebut gelar di All England, Swiss Super Series, dan Kejuaraan Asia. Mereka juga sejajar dengan ganda utama China, Cai Yun/Fu Haifeng — dan juga pernah mengalahkan mereka.

Tunggal mereka pun sama sekali bukan underdog. Park Sung Hwan dan Lee Hyun Il adalah pemain top 10 dunia. Sung Hwan juga menemani Lee/Jung merebut gelar Kejuaraan Asia tahun ini. Sedangkan, Hyun Il sukses di Korea Super Series dan Jerman Terbuka tahun ini. Sama sekali bukan lawan mudah.

Saya melihat Sony bermain dengan amat sangat baik sekali ketika melawan Sung Hwan, tetapi apa daya jika keberuntungan berpihak ke Sung Hwan. Banyak permainan bibir net Sung Hwan sukses melewati net, tetapi bola permainan bibir net Sony seakan enggan turun di lapangan lawan. Begitu jug yang terjadi pada Taufik ketika melawan Hyun Il. Markis/Hendra pun bukannya bermain buruk; mereka hanya kehilangan momentum.

Dan untuk semua jerih payah dan semangat juang para atlit kita — walaupun harus mengaku kalah — sudah seharusnya kita tetap berada di belakang mereka, menepuk pundak mereka, dan mengucapkan: “Terima Kasih!” Terima kasih untuk perjuangan mereka bagi negeri kita. Terima kasih karena di bawah tekanan yang besar, mereka telah melakukan yang terbaik. Dan, terima kasih karena mereka memberikan jerih terbaik di atas lapangan itu.

Dan jika akhirnya tim Uber kita harus puas dengan hanya menjadi finalis…kenapa juga kita harus bersedih? Nyatanya mereka telah memberikan LEBIH daripada yang kita kira. Tim Uber kita diperkirakan hanya bertahan sampai perempat final, atau mentok sampai semifinal. Mereka bisa lolos sampai ke final, itu sudah lebih daripada yang diperkirakan. Kita seharusnya bangga dan bahagia untuk prestasi yang mereka capai ini.

Tim putri kita berhasil menundukkan Jepang yang di atas kertas berada di atas kita. Dan mereka juga berhasil lolos ke final dan berhadapan dengan China — yang tentunya tidak diperkirakan sama sekali oleh siapa pun, bahkan oleh China dan kita sendiri.

Memang tidak pada tempatnya kita berpuas diri karena nyatanya memang masih banyak PR yang belum dikerjakan, baik oleh atlit, pelatih, PBSI, pelatnas, pemerintah, dan bahkan oleh masyarakat kita sendiri untuk mengembangkan olahraga ini kembali menjadi kembang negara kita.

Tetapi satu hal yang pasti membahagiakan adalah melihat bahwa bibit-bibit generasi baru itu telah mulai berkembang dan mulai mekar.

Tunggulah sampai mekar sempurna, dan kita akan melihat bulutangkis Indonesia merebut kembali kejayaannya!

BRAVO BULUTANGKIS INDONESIA!

Entry filed under: Atlit, Opini, Turnamen. Tags: , , , , , .

Atlit Bulutangkis Indonesia: Yang Harum Yang Terselubung Menilik Kekalahan Tim Indonesia di Piala Thomas

7 Komentar Add your own

  • 1. sam  |  18 Mei 2008 pukul 1:16 pm

    kalo untuk tim uber, saya juga turut mengacungi jempol, krn secara ranking saja, sudah sangat jauh perbedaan China dan Indonesia.
    Namun, untuk tim Thomas, saya rasa tidak, karena, bukan hanya di atas kertas, namun dari stok pemain Indonesia, dan kualitas nya, Indonesia seharusnya bisa menang, walaupun tidak menang telak, karena terlihat bahwa kalau saja Taufik tidak melawan pemain kidal korea, dan dipasang pada papan pertama, mungkin ceritanya akan lain, seharusnya kita masih berada di atas Korea, namun, apa mau di kata, Indonesia sudah kalah, dan harus sangat ekstra kerja keras untuk memperbaiki kesalahan, terutama dalam regenerasi, yang harus dipersiapkan secara matang…….

    Balas
  • 2. Ponco  |  19 Mei 2008 pukul 2:26 am

    Buat tim uber bolehlah cukup bangga. TAPI TDK BUAT TIM THOMAS,UDAH MAEN DKANDANG N PERINGKAT LEBIH BAIK TETEP KEOK dr KOREA yg prestasi ‘Tepok bulu angsanya’ jauh dbawah INA selama ini. Kurang beruntung dr mana mas,pernyataan ini sama saja menyepelekan keberhasilan yg dperoleh dg KERJA KERAS tim korea. Menjadi PEMENANG jauh lebih dihargai drpd menjadi PECUNDANG…Segera benahi teknik n terutama fisik pemain agar tdk semakin ttinggal oleh tim lain. BANGKIT INDONESIAKU, KITA HARUS JADI PEMENANG…Olimpiade sudah ddpn mata jgn lg beralasan kurang persiapan,KAMI TDK INGIN MDENGARNYA ATAU SMUA MEDALI EMAS akan DSABET NEGERI TEMBOK AGUNG…

    Balas
  • 3. Dania  |  19 Mei 2008 pukul 9:22 pm

    Hehehe, memang sih Korea selama ini ga pernah masuk final; tahun ini pertama kalinya mereka bisa masuk final Thomas Cup. Tapi secara peringkat, pemain head-to-head INA dan KOR kemarin terglong berimbang atau 50:50. Sony dan Sung Hwan sama2 Top 10 dunia; begitu juga Taufik dan Hyun Il. Markis/Hendra dan Yong Dae/Jae Sung sama2 top 3 dunia. Di tiga partai ini pemain INA hanya berada 2 peringkat di atas lawan KOR. Perbedaan peringkat demikian kecil seringkali tidak berarti bahwa peringkat yang lebih tinggi jelas-jelas lebih hebat dari peringkat yang lebih rendah. KOR lebih jarang mengirim atlitnya dibandingkan kita sehingga itu pun dapat efek terhadap peringkat mereka.

    Jika dibandingkan prestasinya di tahun 2008, KOR memang lagi at their top performance (bahkan MAS saya rasa juga belum tentu bisa menahan mereka)…

    Sony vs Sung Hwan: Sony tahun ini tidak pernah merebut gelar juara apa pun, sedangkan Sung Hwan menjuarai Kejuaraan Asia. Skor pertemuan mereka juga lebih merujuk ke Sung Hwan: 2-4. Terakhir bertemu di Kejuaraan Asia, Sung Hwan menang.

    Taufik vs Hyun Il: Taufik juga tahun ini nihil gelar, tetapi Hyun Il menjuarai Korea Terbuka dan Jerman Terbuka, serta finalis Malaysia Terbuka. Skor pertemuan mereka juga ketat, 3-2 untuk Taufik dan mereka selalu “bergantian” menang. Dengan kemenangan Hyun Il di Thomas Cup ini berarti skor mereka menjadi berimbang, 3-3, bukti lawan seimbang.

    Markis/Hendra vs Yong Dae/Jae Sung: Kindra menang Malaysia Terbuka sedangkan YongJae memegang tiga gelar: All England, Swiss Super Series, Kejuaraan Asia. Skor pertemuan mereka juga ketat: 3-2 untu kkeunggulan KinDra, tetapi dua pasangan ini selalu bergantian menang. Terakhir kemenangan dipegang YongJae, dan dengan hasil di Thomas ini, skor pertemuan mereka menjadi 3-3. Tanda bahwa mereka memang lawan seimbang.

    Dari data di atas kita dapat melihat bahwa tim KOR kemarin sama sekali bukan kelas di bawah kita. Mereka lawan sekelas dengan kemungkinan kita menang adalah 50-50. Tetapi tentu saja tidak dapat dijadikan alasan atau pembenaran dari kekalahan kita. Kita tetap punya PR banyak.

    Tetapi yang ingin saya tekankan disini adalah bahwa atlit bagi saya seperti bidak dalam catur. Mereka berada di garis depan, dan yang paling pertama kena semprot kalau hasil kurang baik; padahal mungkin kesalahan ada pada tukang strategi di belakang, atau pihak-pihak lain (tentu saja ini asumsi, tetapi maksud saya, atlit bukanlah satu-satunya yang berperan dalam kemenangan/kekalahan).

    Jadi saya rasa kurang adil jika menimpakan kesalahan hanya pada atlit semata, karena saya yakin mereka juga maunya menang — setidaknya untuk ego mereka sendiri. Karena itu, menurut saya, bagaimana pun hasilnya, jika mereka memang telah berbuat yang terbaik dari sisi mereka sendiri, mereka tetap layak dan pantas untuk terus kita dukung🙂

    Balas
  • 4. sry ginting  |  22 Mei 2008 pukul 9:57 pm

    yah!!! aku setuju. permainan badminton itu bukan seperti main bongkar pasang. jadi, urutan tertinggi harus dipasangkan dengan urutan yang tertinggi dari kelompok lawan. jangan terlalu brlebihanlah dalam memberi komentar. kita pun belum tentu bagus, lagian siapa yang mau kalah mas SAM? engkong-engkong keriput pun ngga akan mau kalah dengan sengaja.
    satu lagi, tim korea itu pengecut menurutku. tidak ada bakat pejuang pantang menyerah dari mereka, hanya taktik saja. sama sekali tidak baik. dan hal ini harus ditegaskan oleh BWF!! jika strategi untuk menurunkan pemain, okelah… tapi, kalau sengaja mengalah untuk mencari strategi, itu bukan permainan namanya. tapi, main petak umpet.
    apapun itu, ini semua haanyalah permainan, yang hasilnya kalau tidak kalah ya menang. that’s all..!! memang sich, permainan para pemain kita harus diasah lagi agar lebih lincah dalam bermain. sama seperti pemikiran kita yang harus lebih “direnovasi” lagi, supaya ngga terlalu menyepelekan arti sebuah permainan.
    I Love Indonesia. I Love Badminton.. Godbless…

    Balas
  • 5. weib  |  30 Mei 2008 pukul 12:29 am

    inilah yang membuat Mia Audina lebih enjoy di Belanda….
    ga ada tuntutan : “Harus Menang”…………

    Balas
  • 6. diah  |  21 Juni 2008 pukul 9:30 am

    Kita jangan menyalahkan siapapun, seharusnya kita ucapkan “TERIMA KASIH” atas perjuangan anak bangsa, agar mereka lebih enjoy dalam setiap pertandingan tanpa tekanan.

    Balas
  • 7. siapa aja  |  23 Juni 2008 pukul 9:38 am

    memang, ya terimakasih utk sgala p’juangannya
    tpi, jika takada tntutan sma skali, spertinya mreka akan main asal2an tuh……….
    btul sih klo kta gag boleh tll mnntut kmenangan,
    tpi sya yakin, stiap nurani WNI psti mngharapkan sbuah kmengan kala prestasi kita mmang sdng gersang. tak dpt di pungkiri, kita memng haus kjayaan sperti dulu.
    tapi bwad atlit2 INA, kami ykin tuntutan itu akan mncul dgn sndirinya di dalam hatimu.
    kami tak prlu mnntut yg mcm2, krn kami yakin kalian lah yg mnumbuhknnya……….

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kalender

Mei 2008
S S R K J S M
« Mar   Jun »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

%d blogger menyukai ini: