Kebangkitan Tunggal Putra (Pelatnas) Indonesia?
19 Agustus 2010 at 12:36 pm Tinggalkan Komentar
![]()
Peringkat dunia Simon Santoso akhirnya berhasil menyalip Sony Dwi Kuncoro tahun ini, sekaligus menjadikannya tunggal putra Pelatnas nomor satu. Simon sekarang berada di peringkat enam dunia, sedangkan Sony di tujuh dunia (rilis peringkat BWF tanggal 19 Agustus 2010).
Kiprah Simon tahun ini memang tergolong baik. Secara laun namun pasti, ia menaiki tangga dari 16 besar di All England Maret lalu, diikuti dengan perempat final di Singapore Open Super Series dan Indonesia Open Super Series pada bulan Juni, lalu naik lagi menjadi semifinalis di Macau Open Grand Prix Gold, dan puncaknya adalah menjadi jawara di Taipei seminggu setelahnya.

Sony sendiri bermain konsisten selama dua tahun terakhir. Lebih dari 70% catatan jejak rekamnya menunjukkan bahwa Sony lolos setidaknya sampai ke perempat final di turnamen internasional individu. Walaupun tahun lalu Sony nihil gelar, namun ia telah membalasnya tahun ini dengan menjuarai Singapore Open Super Series. Sedangkan catatan Simon menunjukkan bahwa selama dua tahun terakhir, ia berhasil lolos setidaknya sampai ke perempat final di sekitar 80% partisipasinya dalam turnamen individu. Walau berbeda persentase di kelolosan perempat final, tetapi keduanya memiliki persentase sama dalam hal lolos setidaknya sampai ke semifinal (sekitar 36%).

Yang mencolok di tunggal putra Pelatnas tidak hanya Simon dan Sony. Sejak awal tahun ini, Pelatnas juga diramaikan oleh kedatangan Dionysius Hayom Rumbaka. Akhir tahun lalu ia masih berada di peringkat 50 besar dunia tetapi sekarang telah melesak masuk ke 25 besar dunia dan pernah mengalahkan Boonsak Ponsana di Hongkong Open Super Seris 2009 dan berjibaku ketat dengan pemain nomor satu dunia, Lee Chong Wei di Singapore Open Super Series 2010 dengan skor 13-21, 21-19, dan 16-21.
Walau demikian, mereka masih memiliki tugas yang lebih besar lagi, yakni, meruntuhkan tembok besar China. Sepanjang dua tahun terakhir, yang pernah menuai sukses melewati pemain China hanyalah Sony yang pernah mengalahkan Chen Long di Japan Open Super Series 2009, Du Pengyu di All England 2010, dan Chen Yuekun di Macau Open Grand Prix Gold 2010. Namun semua yag dikalahkan Sony adalah nama-nama “baru,”sedangkan nama-nama besar seperti Chen Jin, Lin Dan, dan Bao Chun Lai belum terlewati oleh siapa pun, bahkan tidak oleh sang senior, Taufik Hidayat.
China tidak banyak unjuk gigi tahun ini. Kita tidak tahu apa yang sedang mereka lakukan atau persiapkan. Tetapi satu hal yang pasti, Pelatnas kita tidak boleh lengah dan juga harus mempersiapkan diri sebaik-baiknya kala Sang Naga kembali unjuk diri.
Yang pasti, tunggal putra Indonesia (seharusnya) tidak boleh dipandang sebelah mata.
Dan yang pasti, regenerasi harus tetap jalan karena China telah mulai memperlihatkan pemuda-pemuda anyar yang memperlihatkan mental baja.
Bagaimana Indonesiaku?
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed