Bulutangkis dan Persatuan Indonesia

18 Agustus 2010 at 1:33 pm 1 komentar

Mungkin rekan-rekan pembaca ada yang ikut merayakan hari kemerdekaan Indonesia (17 Agustus-an) dengan mempertontonkan semangat juang “patriotisme” lewat tepok bulu. Saya sebenarnya bermaksud ikut serta di pertandingan RW setempat tapi ternyata telat mendaftar. Akhirnya saya keliling-keliling Jakarta selama sebulan terakhir untuk melihat perayaan 17-an di beberapa tempat berbeda dan saya menemukan satu kesamaan hampir di seluruh perayaan: bulutangkis menjadi salah satu olahraga yang dipertandingkan, tidak peduli fasilitasnya memadai atau tidak.

Pertandingan bulutangkis 17-an ini tidak pandang bulu. Ada yang keren, memakai lapangan indoor karpet nan rupawan yang disertai dengan petugas pembersih karpet lapangan jika ada pemain yang merasa licin karena keringat; sampai ada yang seadanya saja dengan menyulap bantaran kali menjadi lapangan bulutangkis dengan lapangan yang dicat. Ada pula yang memakai batasan umur dan gender; ada pula yang tidak sama sekali memakai kategori, yang penting bertanding.

Namun dari semuanya itu, saya merasakan satu semangat yang sama: semangat bermain bulutangkis dengan ceria dan semangat kekeluargaan. Semua lapangan dipenuhi gelak tawa dan riuh rendah dukungan. Baik yang menang maupun kalah sama-sama merasakan kegembiraan. Walaupun saya “pendatang” dan “orang luar” namun saya tetap merasakan kehangatan.

Hal tersebut kemudian memutar ulang episode-episode di masa lalu dimana masyarakat Indonesia selalu satu hati, satu pikiran saat mendukung para atletnya bertanding. Saya mengingat gempita di Istora Senayan setiap pertandingan Indonesia Open diadakan. Saya merasakan bulu kuduk berdiri dan jantung berdebar keras saat mengikuti jalannya pertandingan final Kejuaraan Dunia beberapa kali saat Indonesia masuik final. Saya bahkan mendapat teman-teman baru di lapangan luar negeri karena sama-sama mendukung Indonesia.

Saya pun tersenyum.

Bagi masyarakat Indonesia, bulutangkis bukanlah sekedar olahraga biasa. Bagi kita, bulutangkis adalah olahraga PEMERSATU bangsa. Melalui olahraga inilah, bangsa kita bersuara lantang di kancah internasional. Saat olahraga ini dipertandingkan secara internasional, seluruh bangsa Indonesia pun bersatu menyemangati para atlet bangsa. Dan saat Sang Saka Merah Putih berkibar dan lagu Indonesia Raya berkumandang di ajang bulutangkis bergengsi, jantung dan badan kita pun turut bergetar bersama trenyuhnya hati sang atlet.

Di dalam olahraga inilah, hati dan semangat bangsa Indonesia bersatu, dan lagu “Satu Nusa Satu Bangsa” pun terasa lebih nyata. Dan saya rasanya semakin menyukai olahraga tepok bulu satu ini setelah berkeliling Jakarta yang penuh dengan nuansa merah-putih.

Selamat ulang tahun, Indonesia. Berkibarlah benderaku di lapangan bulutangkis.

Entry filed under: Opini. Tags: , , , , , , .

Rian di Singapura: Belajar untuk Lebih Berani Kebangkitan Tunggal Putra (Pelatnas) Indonesia?

1 Komentar Add your own

  • 1. Natasha  |  29 Agustus 2010 pada 4:55 pm

    bagaimana agar saya dapat mengembangkan bakat saya dibidang bulutangkis?? saya bercita cita ingin menjadi atlit bulutangkis..

    Balas

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kategori Artikel

Artikel Terakhir

Kalender

Agustus 2010
S S R K J S M
« Jun    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.