Archive for Juni 21st, 2009
Catatan Pinggir Lapangan: Indonesia Open 2009
BLETAK! Kepala Bona pun Tersambit
Saat pengembalian bola dari tim Inggris (Anthony Clark/Nathan Robertson) yang mengarah ke garis belakang kanan Mohammad Ahsan/Bona Septano yang tidak terjaga, Ahsan langsung berlari ke titik tersebut. Penonton menahan nafasnya, “AKKKKKH!,” karena mengira bola tidak akan terkejar. Lalu penonton bersorak, “YEEEEEE!,” karena Ahsan berhasil mengambil bola tersebut. Lalu penonton terhenyak sebentar, “HE?” lalu terbahak-bahak, “HAHAHAHAHAHAHAHA!” karena drive keras Ahsan tersebut ternyata menyambit bagian belakang kepala pasangannya sendiri, Bona. Bona pun termanyun-manyun sambil mengusap-usap belakang kepalanya yang nyaris licin itu. Ahsan pun hanya dapat tersenyum kecut.
Demam Lee Yong Dae

Jika tahun lalu yang menjadi bintang adalah Bao Chunlai, kali ini yang menjadi bintang adalah Lee Yong Dae (dan tentunya Taufik Hidayat). Si belia berusia 21 tahun dan berparas apik ini selalu mendapat dukungan luar biasa dari publik Istora. Ditambah lagi dengan permainannya yang mengundang decak kagum. Tak heran ia rela melepas kaosnya dan menerbangkannya ke arah penonton yang berteriak-teriak histeris. “Saya paling suka main di Indonesia,” tukasnya sembari tersenyum.
LHOOO???? Angka Kok Bisa Kena Korupsi
Di pertandingan final penutup antara Lee Yong Dae/Jung Jae Sung dan Fu Haifeng/Cai Yun sempat terjadi keributan. Pasalnya, saat angka seharusnya bergerak naik dari 11-9 (untuk kemenangan Tiongkok) ke 11-10, ternyata sang wasit lupa mencet. Alhasil proteslah Lee/Jung ke wasit yang awalnya sempat tidak ngeh dan memaksa melanjutkan pertandingan. Begitu para pemain menunjuk-nunjuk papan skor, barulah dia sadar dan mulai mengutik-utik layar monitor kecil di depannya. Trek! papan skor pun berubah … jadi 10-10. LHOOOO???? Kok nilainya Fu/Cai malah turun?! Sontak para pemain dan penonton melancarkan aksi protes yang mungkin membuat sang wasit semakin grogi. Angka pun berubah kembali menjadi … 11-9. LHOOOOO???? Setelah sekian lama, barulah akhirnya sang wasit berbalik ke jalan yang benar ke angka 11-10, dan akhirnya pertandingan kembali berjalan. Piye to mas…
Lempar Yuk Lempar
Tingginya tingkat persaingan di Indonesia Open tahun ini membuat hati para pemenang suatu pertandingan bergejolak gembira luar biasa. Dan biasanya, mereka ini lalu akan melemparkan sesuatu (bisa tunggal atau jamak) ke arah penonton: dari wrist band sampai raket!
Mau dong… siapa tahu kecipratan ilmunya…
Merokok Nggak Merokok?
Di dalam gedung Istora, terbentang spanduk besar yang ditempelkan pada bagian atas tembok tengah yang bertuliskan: “DILARANG MEROKOK! NO SMOKING!” dengan dua gambar rokok yang dicoret. Lucunya, satu spanduk itu “tenggelam” di tengah-tengah spanduk-spanduk dan umbul-umbul DJARUM SUPER sebagai sponsor utama perhelatan ini. Tahu sendiri dong Djarum jualannya apa?
Indonesia vs Malaysia: Lapangan dan Politik
Isu garis perbatasan negara, pengakuan keaslian kebudayaan, dan Manohara ternyata berimbas ke lapangan. Setiap atlit Malaysia yang disebutkan namanya akan menerima sorakan merendahkan: “HUUUUUUUU!!!!!” Dan bahkan teriakan, “MALING PULANG! MALING PULANG!”
Padahal lapangan bulutangkis (dan olahraga pada umumnya) adalah daerah steril yang bebas dari masalah politik dan teman-temannya. Yang ada adalah semangat sportifitas yang mengandalkan kemampuan, kekuatan fisik dan mental, serta kecermatan otak dan mata.
Lagipula, atlit bukanlah politikus dan pelaku kejahatan. Tidakkah sebagai tuan rumah seharusnya kita menjamu siapa pun yang bertandang ke negeri kita dengan baik, ramah, dan sopan?
Dan saya pun hanya dapat mengelus dada dan dalam hati meminta maaf pada segenap atlit Malaysia saat segerombolan penonton di tribun atas Lee Chong Wei yang awalnya meneriaki “Maling Pulang!” kemudian meminta Chong Wei melemparkan sesuatu kepada mereka setelah kemenangannya atas Park Sung Hwan (KOR) di semifinal…
6 comments 21 Juni 2009
Indonesia Open 2009: Persaingan Ketat, Nihil Gelar
Tahun ini Indonesia harus gigit jari karena tidak ada gelar yang jatuh ke tangan sendiri di perhelatan Djarum Indonesia Open Super Series 2009. Tunggal putra jatuh ke Malaysia, tunggal putri ke Indonesia, ganda putra ke Korea (Selatan), ganda putri ke Malaysia (lagi), dan ganda campuran ke Tiongkok.
PBSI akan melakukan evaluasi. Tetapi secara garis besar, memang persaingan tahun ini luar biasa menekan. Sekitar 80% dari pemain 10 besar dunia dari kelima partai turut serta di ajang ini. Tentu saja ini berbeda jauh dari Indonesia Open tahun lalu dimana banyak pemain papan atas yang absen karena berkonsentrasi untuk persiapan Olimpiade Beijing.
Lalu apakah ini berarti Indonesia tidak siap?
Tidak juga. Banyak faktor yang mempengaruhi. Tingkat persaingan. Cedera. Usia. Mental. Konsentrasi. Angin. Keberuntungan…
Contohnya, Markis Kido/Hendra Setiawan yang melawan Lee Yong Dae/Jung Jae Sung di semifinal partai ganda putra. Kedua pasangan sama hebatnya, sama kuatnya, sama kokohnya. Tetapi Kido yang sempat mengalami cedera lutut parah tidak dapat melakukan jumping smash sebanyak dan sekuat yang dulu pernah ia lakukan. Ditambah lagi mereka sempat melakukan rotasi formasi: Kido di depan (biasanya di belakang) dan Hendra di belakang (biasanya di depan). Dari dua faktor ini saja sudah cukup membuat posisi Markis/Hendra melemah dibandingkan Lee/Jung yang prima.
Atau Nova Widianto/Lilyana Natsir yang gugur di tangan sang juara, Zheng Bo/Ma Jin karena faktor stamina Nova yang tergerus usia. “Umur tidak bisa dibohongi,” kata Nova.
Atau Adrianti Firdasari yang bermain begitu apik dan prima, tetapi akhirnya harus menyerah pada cedera ankle kaki kanannya; setali tiga uang dengan Mohammad Ahsan (ganda putra) yang mengalami cedera punggung padahal ia bermain begitu dahsyat di awal pertandingan babak pertama tersebut.
Satu hal yang pasti, para pemain kita sudah memberikan yang terbaik.
Dan satu kabar baiknya adalah … pssst … Tiongkok hanya mampu merebut satu gelar juara padahal memiliki finalis di empat partai. Tanda-tanda keruntuhan dominasi Tiongkok kah?
Hasil Djarum Indonesia Open Super Series 2009
Tunggal putra: Lee Chong Wei (MAS/1) bt Taufik Hidayat (INA/5)
Tunggal putri: Saina Nehwal (IND/6) bt Wang Lin (CHN/3)
Ganda putra: Lee Yong Dae/Jung Jae Sung (KOR/6) bt Fu Haifeng/Cai Yun (CHN/5)
Ganda putri: Wong Pei Tty/Chin Eei Hui (MAS/1) bt Cheng Shu/Zhao Yunlei (CHN/2)
Ganda campuran: Zheng Bo/Ma Jin (CHN/5) bt Lee Yong Dae/Lee Hyo Jung (KOR/2)
10 comments 21 Juni 2009