Archive for November, 2008
Duel Luar Lapangan: Icuk vs Djoko

Foto: Icuk Sugiarto (kiri) dan Djoko Santoso (kanan)
Musyawarah Nasional (Munas) Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI) akan segera dihelat, yakni di Jakarta pada tanggal 13-15 November 2008. Salah satu agenda terhangat untuk diangkat ketika Munas adalah pemilihan ketua umum PB PBSI yang baru untuk periode 2008-2012.
Di tengah-tengah hangatnya perdebatan antara pendukung kedua calon: Icuk Sugiarto dan Djoko Santoso, tiba-tiba terdengarlah kabar bahwa Icuk mundur dari pencalonan dirinya menjadi ketua umum PB PBSI.
Banyak pihak terhenyak.
Pasalnya, Icuk – mantan atlit tunggal putra nomor satu dunia dan Indonesia – awalnya sangat yakin bahwa ia akan melaju ke tampuk pimpinan itu, apalagi setelah mendapatkan dukungan mayoritas dari berbagai pihak. Dinyatakan bahwa 23 dari 33 Pengurus Daerah (Pengda) PBSI mendukung Icuk, dan masyarakat umum juga banyak yang memberi dukungan secara vokal, salah satunya lewat spanduk sepanjang puluhan meter yang terpasang di depan Hotel Mulia, Senayan yang berisikan tanda tangan para pendukung Icuk.
Icuk juga banyak memberikan masukan kepada organisasi PBSI secara vokal – yang akhirnya berbuntut pada hukuman skorsing dirinya sampai akhir tahun ini. Skorsing inilah yang juga menjadi alasan PB PBSI untuk tidak mengundang Icuk menghadiri Munas mendatang.
Icuk sendiri juga telah menyatakan bahwa ia telah mengundurkan diri dari pencalonan tersebut. Pengunduran dirinya dilakukan berdasarkan kecintaannya terhadap dunia bulutangkis Indonesia, sehingga ia ingin menjaga keutuhan dan suasana kondusif di tubuh organisasi PBSI.
Memang saat ini sudah terjadi dualisme di banyak Pengda. Misalnya saja, Pengda PBSI Sumatera Selatan (Sumsel) terbagi menjadi pro-Icuk dan pro-Djoko. Sang ketua, Mawardi Yahya berada di belakang Djoko, sedangkan wakilnya menyatakan dukungan terhadap Icuk.
Djoko Santoso sendiri memiliki nilai plus. Sebagai seorang jenderal, ia meneruskan tradisi yang diusung oleh ketua-ketua PBSI yang lalu pada jaman Try Sutrisno, Suryadi, Subagyo, dan Sutiyoso yang kesemuanya adalah jenderal. Dan sistem kemiliteran yang dimilikinya dapat menjadi nilai positif bagi organisasi dan para atlit untuk lebih berdisiplin dan berdedikasi. Selain itu, jabatannya memungkinkan akses ke banyak pihak, baik di kalangan pemerintahan maupun swasta yang tentunya akan berdampak positif pula bagi perkembangan bulutangkis Indonesia.
Kedua sosok ini datang dari latar belakang yang sangat berbeda dengan jejak pengalaman yang berbeda. Masing-masing memiliki kelebihannya dalam bidang yang berbeda pula. Tidak heran jika sampai sekarang tetap terjadi dualisme suara yang terpecah ke dua belah pihak.
Tetapi apa pun yang terjadi dan siapa pun yang terpilih, sudah selayaknya kita sebagai satu bangsa Indonesia berpikir hanya mengenai satu hal, yakni, berharap bahwa sang ketua (siapa pun dia) dapat memberikan dampak positif bagi perkembangan bulutangkis Indonesia agar semakin jaya dan ditakuti oleh bangsa-bangsa lain, terutama oleh negara adidaya bulutangkis lainnya seperti Tiongkok, Malaysia, Denmark, dan Korea Selatan.
Banyak jalan menuju ke Roma, Bung!
Menjayakan bulutangkis Indonesia dapat dilakukan lewat berbagai macam cara dan jalan.
1 comment 13 November 2008
Perancis SS ‘08: Lagi-Lagi Markis/Hendra
Senin, 3 November 2008 – Tim merah-putih hanya mencatat satu gelar di Paris semalam dari kemenangan pasangan ganda putra nomor satu dunia, Markis Kido/Hendra Setiawan. Atlit tunggal putra senior, Taufik Hidayat hanya mampu menjadi runner-up, sedangkan ganda campuran nomor satu dunia, Nova Widianto/Lilyana Natsir hanya menjadi semifinalis.
Perjalanan Taufik ke final tidaklah mudah. Sepanjang perjalanannya, Taufik selalu bermain rubber set. Lawan yang dihadapinya juga bukan lawan mudah sedari awal. Sebutlah Hafiz Hashim dan Lee Chong Wei (unggulan pertama) dari Malaysia, kemudian Joachim Persson dan Peter Gade (unggulan kedelapan) dari Denmark. Semua pertandingan Taufik berlangsung kurang lebih selama satu jam, bahkan pada saat berlaga melawan Petr Koukal (Ceko).
Di final melawan Peter Gade, Taufik menciutkan percaya diri Gade di set pertama setelah Taufik menyeimbangkan 10-10 dari ketinggalan 3-10, lalu memimpin 19-15 dari ketinggalan 13-15. Gade pun tidak sedikit melakukan kesalahan yang berujung pada angka bagi Taufik. Set satu pun berakhir di angka 21-16 untuk Taufik.
Sayangnya kejadian tersebut tidak dapat Taufik ulangi di set kedua. Gade bermain dengan lebih agresif dan sama sekali tidak memberikan kesempatan bagi Taufik untuk melangkahi angkanya. Beberapa kali Taufik berhasil mengimbangi, tetapi tak berdaya ketika Gade akhirnya menutup set, 21-17.
Di set ketiga, terlihatlah Taufik yang sudah mulai kendor staminanya, yang berakibat pada berkurangnya daya konsentrasinya. Set penentuan itu pun akhirnya ditutup tak berimbang, 21-7, dan Gade pun merebut gelar keduanya di Eropa setelah Denmark Super Series minggu lalu.
Dari ganda putra, Markis Kido/Hendra Setiawan kembali mengumandangkan ketangguhan dan konsistensi mereka dengan kembali menjadi juara di Paris setelah sebelumnya mereka menjuarai China Masters dan Denmark Super Series. Ini adalah gelar kelima mereka tahun ini – salah satunya adalah gelar juara Olimpiade.
Di Paris, mereka menang atas pasangan rombakan Tiongkok, Cai Yun/Chen Xu, dengan skor 21-15, 21-12 selama 27 menit – pertandingan final tersingkat di Perancis.
Tiga gelar lainnya jatuh ke tangan Tiongkok, yakni Wang Lin (tunggal putri), Du Jing/Yu Yang (ganda putri), dan He Hanbin/Yu Yang (ganda campuran).
Selanjutnya beberapa yunior akan menajamkan pengalaman mereka di Selandia Baru Terbuka Grand Prix pada tanggal 11-15 November, sedangkan para senior akan mulai berlaga kembali di Tiongkok lewat reli China Super Series (18-23 November) dan Hong Kong Super Series (24-30 November).
7 comments 3 November 2008
Peringkat Atlit Indonesia Top 100 (30 Oktober 2008)
Tunggal Putra
5. Sony Dwi Kuncoro
10. Simon Santoso (7) -
11. Taufik Hidayat (12) +
17. Andre Kurniawan Tedjono (26) + +
39. Tommy Sugiarto
41. Alamsyah Yunus (45) +
45. Ari Yuli Wahyu Hartanto (49) +
93. Dionysius Hayom Rumbaka (NEW) J
Reli turnamen berkepanjangan yang diikuti oleh Dion akhirnya berbuah manis juga. Per akhir Oktober lalu, Dion berhasil menyodok Top 100. Taufik yang sudah lama stagnan pun mulai bergerak naik sedikit, ‘sumbangan’ dari nilai juara di Makau Terbuka Grand Prix Gold dan menjadi perempat finalis di China Masters Super Series. Bulan depan seharusnya dia bisa kembali masuk ke 10 besar karena semalam ia menjadi runner up di Perancis Super Series.
Tunggal Putri
14. Maria Kristin Yulianti (15) +
35. Adriyanti Firdasari (33) -
38. Maria Elfira Christina (40) +
49. Pia Zebadiah Bernadet (43) -
50. Maria Febe Kusumastuti (94) + + + + +
64. Fransisca Ratnasari (74) + +
82. Rosaria Yusfin Pungkasari (NEW) J
100. Aprilia Yuswandari (NEW) J
Yusfin dan Aprilia akhirnya memperkuat tim Top 100 tunggal putri Indonesia. Yusfin memperolehnya dari menjadi perempat finalis di tur Eropa, mulai dari Bitburger, Bulgaria, lalu Belanda Terbuka. Tetapi yang fenomenal tentu saja Febe yang melonjak hampir dua kali lipat setelah memenangkan Bitburger Terbuka, lalu menjadi runner-up di Bulgaria; walaupun setelahnya terjungkal di babak 16 besar Belanda Terbuka. Bersama dengan kedua Maria lainnya – Kristin dan Elfira – Febe tentu saja menjadi atlit pelapis yang penuh harapan.
Ganda Putra
1. Markis Kido/Hendra Setiawan
11. Tony Gunawan/Candra Wijaya (13) +
13. Luluk Hadiyanto/Alvent Yulianto (12) -
16. Yonatan Suryatama Dasuki/Rian Sukmawan (17) +
20. Hendra Gunawan/Joko Riyadi (21) +
23. Fran Kurniawan/Rendra Wijaya (26) +
24. Muhammad Ahsan/Bona Septano (27) +
44. Fernando Kurniawan/Lingga Lie (54) + +
82. Syarif Syahmie Radhitian/Chrisna Adi Wijaya (79) -
89. Wifqi Windarto/Afiat Yuris Wirawan (91) +
Markis/Hendra memang mantap luar biasa! Kali ini pun belum ada yang mampu menggeser mereka dari tahta penuh kehormatan – pasangan nomor satu dunia. Bulan ini mereka sangat kokoh – mengikuti dua turnamen Super Series dan menjuarai keduanya: China Masters Super Series dan Denmark Super Series. Bona/Ahsan sepertinya harus mempercepat langkah mereka untuk dapat menjadi pelapis yang mumpuni bagi Markis/Hendra karena Hendra/Joko nampaknya sudah hampir menemui jalan buntu – prestasi terbaik mereka sejak tahun lalu adalah masuk semifinal China Masters Super Series tahun ini.
Ganda Putri
7. Lilyana Natsir/Vita Marissa
13. Shendy Puspa Irawati/Meiliana Jauhari (21) +
14. Jo Novita/Greysia Polii (15) +
21. Rani Mundiastuti/Endang Nursugianti (20) -
43. Nitya Krishinda Maheswari/Lita Nurlita (33) – -
50. Greysia Polii/Nitya Krishinda Maheswari (87) + + + + + J
52. Nathalia Christine Poluakan/Yulianti (46) -
56. Jo Novita/Rani Mundiastuti (NEW) J
57. Nadya Melati/Devi Tika Permatasari (71) + +
93. Endang Nursugianti/Lita Nurlita (NEW) J
*Yang italic berarti pasangan yang ‘sedang cerai’ karena telah dirombak
Seperti yang diprediksi dari awal, Greysia/Nitya menjadi top gun tim rombakan ganda putri pelatnas; tetapi hasil pasangan rombakan lainnya pun tidak buruk sama sekali, terutama Jo/Rani yang sukses menjadi runner up di dua turnamen perdana mereka: Chinese Taipei GP Gold & Denmark Super Series. Perombakan ini sepertinya bermasa depan cerah bagi Indonesia J
Ganda Campuran
1. Nova Widianto/Lilyana Natsir
3. Flandy Limpele/Vita Marissa (4) +
15. Fran Kurniawan/Shendy Puspa Irawaty (28) + +
22. Devin Lahardi Fitriawan/Lita Nurlita (19) -
32. Muhammad Rizal/Greysia Polii (34) +
39. Rendra Wijaya/Meiliana Jauhari (66) + + + +
49. Tantowi Akhmad/Yulianti (47) -
59. Muhammad Rizal/Vita Marissa (NEW) J
66. Anggun Nugroho/Endang Nursugianti (73) +
67. Flandy Limpele/Greysia Polii (NEW) J
Partai campuran, partai harapan Indonesia selain ganda putra. Partai ini pun mengalami sedikit rombakan walaupun tidak seheboh ganda putri dan hasil rombakan juga terlihat kinclong. Tiliklah Rizal/Vita yang langsung menjuarai Jepang Super Series dan menjadi semifinalis China Masters Super Series. Sebelumnya, Rizal bersama Grace hanya ‘berlangganan’ tiket babak-babak awal, alias minim gelar – bahkan sangat jarang masuk final atau semifinal. Grace yang disanding degnan Flandy juga cukup membaik prestasinya; dua kali melaju ke perempat final dari tiga turnamen yang diikuti.
Tim kita tergolong kuat saat ini; hanya saja jangan sampai di Olimpiade London 2012, kita masih mengirim tim yang sama yang kita kirim ke Beijing kemarin. Tengoklah Tiongkok. Mereka langsung melakukan regenerasi bertahap setelah Olimpiade Beijing selesai. Jangan sampai kita kalah start lagi dari Tiongkok.
19 comments 3 November 2008