Archive for Oktober 5th, 2008
Dua Emas, Kado Lebaran bagi Indonesia

Total hari ini Indonesia memperoleh dua gelar juara, satu dari Makau, Asia dan satu dari Bitburger, Eropa. Sang senior di tunggal putra pelatnas, Taufik Hidayat akhirnya memperoleh gelar juara pertamanya tahun ini di Makau Grand Prix (GP) Gold Terbuka dengan mengalahkan musuh bebuyutan yang juga teman baiknya, Lee Chong Wei. Tidak lama berselang, Maria Febe Kusumastuti asuhan PB Djarum juga ikut memboyong gelar pertamanya tahun ini di Bitburger GP Terbuka.
Taufik dan Lee adalah ‘seteru’ serta sahabat sejak lama. Sepuluh kali mereka bersua di lapangan, enam kali Taufik menang. Hanya saja, tahun 2007 sepertinya adalah tahun kejayaan Lee; tiga kali dia bertemu Taufik dan semuanya dia babat habis. Pertemuan terakhir mereka di All England pun dimenangkan oleh Lee.
Tetapi, Lee yang dia hadapi hari ini bukanlah Lee dua tahun lalu ketika Taufik dengan cukup mudah dapat menjegalnya. Lee yang sekarang adalah pemain nomor satu dunia yang menyingkirkan Lin Dan yang telah bercokol cukup lama di tahta tersebut. Apalagi empat pertemuan terakhir selalu dimenangkan oleh Lee. Tentu saja kemenangan Taufik hari ini lewat dua set 21-19, 21-15 bagaimana pun bukanlah perkara mudah.
Sama tidak mudahnya bagi Febe untuk menjadi juara di Bitburger Terbuka. Tentunya dia merasakan tekanan hebat karena dia menjadi satu-satunya tumpuan Indonesia (atau setidaknya PB Djarum) setelah ganda putri unggulan pertama, Shendy Puspa Irawati/Meiliana Jauhari kalah di pertandingan final pertama oleh pasangan Denmark, Helle Nielsen/Marie Roepke, 15-21, 18-21. Apalagi dia belum pernah bertemu dengan lawannya, Aditi Mutatkar sebelumnya – pemain berperingkat di atasnya. Aditi – peringkat 51 dunia – adalah atlit tunggal putri kedua India setelah Saina Nehwal yang juga sering membuat kejutan.
Dan seperti yang diharapkan, kedua pemudi ini memberikan pertandingan yang mengesankan. Walaupun set kedua berjalan tidak imbang karena Febe jauh meninggalkan Aditi, tetapi set pertama yang dimenangi Aditi 24-22 serta rubber set berjalan alot.
Febe yang bermain hati-hati di set pertama dan kedua tiba-tiba mulai mengganas dengan meluncurkan lebih banyak smes. Tapi ternyata pertahanan Aditi pun tidak goyah, bahkan ia sempat meninggalkan Febe 17-14. Ketika Febe menyamai kedudukan menjadi 17-17, Aditi kembali tancap gas sampai 20-17!
Satu kesalahan saja dari Febe akan berakibat pada melayangnya gelar juara. Untunglah Febe bukan pemain kemarin sore. Di Bitburger ini terlihat kematangan Febe yang tidak gentar dan goyah walaupun sudah di ujung tanduk. Adegan kemarin malam pun kembali terulang. Lawan Febe yang sudah match point duluan tiba-tiba dikejar Febe dan kali ini Aditi yang geger karena Febe yang kalah 17-20 tiba-tiba sudah mendahuluinya 21-20. Aditi sempat mengejar 21-21, tapi – kembali seperti kemarin – Febelah yang mengakhiri pertandingan final yang berlangsung selama hampir satu jam ini, 23-21.
Selanjutnya para atlit kita akan berkonsentrasi penuh di tur Eropa. Pasukan Djarum akan langsung marathon ke Bulgaria GP Terbuka yang dimulai lusa, 7 Oktober, dan kemudian berlanjut ke Belanda GP Terbuka minggu depannya. Sedangkan pasukan Cipayung akan mulai berlaga di Denmark dan Perancis Super Series Terbuka yang dimulai pada 21 Oktober lalu 28 Oktober.
Juara Makau Terbuka 2008
Taufik Hidayat (INA)
Zhou Mi (HKG)
Koo Kien Keat/Tan Boon Heong (MAS)
Cheng Shu/Zhao Yunlei (CHN)
Chen Xu/Zhao Yunlei (CHN)
Juara Bitburger Terbuka 2008
Chetand Anand (IND)
Maria Febe Kusumastuti (INA)
Mathias Boe/Carsten Mogensen (DEN)
Helle Nielsen/Marie Roepke (DEN)
Diju Valiyaveetil/Jwala Gutta (IND)
Yang Patut Disimak
Di Makau, ada nama yang bersinar terang. Ialah Zhao Yunlei, pemudi Tiongkok yang berhasil menjadi juara rangkap di ganda putri dan ganda campuran. Memulai karir internasionalnya pada tahun 2005, karir Yunlei tergolong ekspres. Hanya dalam dua tahun setelah ‘debutnya’ dia langsung menggondol gelar ganda putri di Kejuaraan Austria dan menjadi runner up di Kejuaraan Asia Kontinental. Tahun ini dia baru ikut di tiga kejuaraan, tapi langsung menjuarai semua sektor ganda putri (Jepang Terbuka, China Masters, Makau Terbuka). Untuk ganda campuran, baru di Makau inilah dia menjadi juara.
Juara ganda campuran Bitburger juga merupakan kejutan. Diju/Jwala memang bukan orang baru di dunia bulutangkis internasional, tetapi rapor mereka pun tidak dapat dikatakan baik. Gelar juara yang mereka sandang selama ini baru setingkat International Challenge/International Series (3-4 level di bawah Super Series). Peringkat dunia mereka juga tidak begitu bersinar – 80 saat ini. Tapi di Bitburger mereka membuktikan kemampuan mereka. Mereka mengalahkan unggulan ketiga, kelima, keenam, dan kedelapan sekaligus untuk menjadi juara. Selanjutnya tinggal kita monitor helat mereka di tur Eropa beberapa minggu ke depan.
5 comments 5 Oktober 2008
Kemajuan India yang Luar Biasa
Di Bitburger Open kali ini, kita perlu menyimak lebih jauh negara asal bajaj ini. Di final Bitburger Open Grand Prix (GP) ini, India berhasil menaruh empat finalis (alias semua finalisnya lolos ke final) dan mengamankan gelar juara di tunggal putra dengan lolosnya Chetand Anand (unggulan keempat) dan Arvind Bhat (unggulan ketujuh) ke final.
Dua wakil lainnya juga tidak kalah mengejutkan. Wakil tunggal putri, Aditi Mutatkar lolos ke final setelah menundukkan unggulan kedua, Juliane Schenk di semifinal kemarin. Juliane adalah penjegal Rosaria Yusfin Pungkasari di perempat final. Sedangkan di ganda campuran – partai yang selama ini bukan menjadi keahlian India – tiba-tiba muncullah nama Diju Valiyaveetil/Jwala Gutta. Yang menghebohkan adalah lolosnya mereka ke final dengan mengalahkan harapan Djarum, unggulan keenam, Rendra Wijaya/Meiliana Jauhari lewat pertandingan menegangkan, 18-21, 21-13, 26-24.
Dari total 11 wakil berbendera India, empat di antaranya lolos ke final. Itu berarti persentase keberhasilan wakil mereka untuk lolos sampai ke final adalah 36,4%. Bandingkan dengan negara adidaya bulutangkis lainnya yang juga mengirim wakil ke Bitburger. Indonesia angkanya ‘hanya’ 18,2% dimana dari total 11 wakil pula, hanya dua yang lolos ke final, atau Denmark dengan persentase 21,4%.
Jika dilihat dari kalender Asosiasi Bulutangkis India (BAI), aktifitas domestik mereka cukup padat, mulai dari pertandingan lokal, pelatihan (coaching), sampai latih tanding ke luar negeri. Mereka bahkan sudah membentuk tim atlit untuk Kejuaraan Commonwealth tahun 2010, dan Olimpiade London 2012. BAI juga memberikan hadiah uang kepada rangking tertinggi di India, baik untuk yang junior maupun yang senior. Latih tanding luar negeri mereka biasa dilakukan di Indonesia, Malaysia, atau Singapura – notabene negara kuat bulutangkis. Dengan agenda yang demikian padat tapi menggiurkan, tidak heran mulai banyak masyarakat India yang menoleh ke bulutangkis untuk dijadikan sebagai karir serius.
Memang turnamen ini tidak sepenuhnya membuktikan bahwa India tinggal selangkah lagi menjadi negara besar di olahraga tepok bulu ini karena Tiongkok, Korea, dan Malaysia absen di Bitburger, tetapi Denmark, Inggris, dan Jerman juga bukanlah lawan enteng. Dapat dikatakan bulutangkis India saat ini bagaikan benih unggulan yang tumbuh subur. Bukannya tidak mungkin suatu hari nanti mereka akan tumbuh menyejajari tumbuh-tumbuhan lain yang sudah lebih dahulu kokoh tinggi dan besar.
Dan, fakta baru pun terungkap bagi Indonesia, bahwa lawan kita sudah bukan lagi sekedar negara yang itu-itu saja (Tiongkok, Korea, Malaysia, Denmark, Inggris). Pertanyaannya adalah: “Siapkah kita?”
1 comment 5 Oktober 2008