Archive for September, 2008
Sony Raih Gelar Super Series Ketiga Tahun Ini

Tiongkok, 28 September 2008 – Atlit tunggal putra pentolan pelatnas, Sony Dwi Kuncoro, semakin matang saja. Tidak tanggung-tanggung, tiga gelar Super Series direbutnya tahun ini. Yang paling membanggakan tentunya gelar teranyarnya di China Masters Super Series kala dia menang dengan mengalahkan beebrapa petangguh seperti Chen Jin (peringkat empat dunia) dan Bao Chunlai (peringkat tiga dunia). Hendrawan, pelatih Sony yang tidak mendampingi pemain asuhannya itu di Changzhou, mengatakan, keberhasilan tersebut adalah awal yang baik untuk mencapai prestasi yang lebih tinggi.
Sony memulai tahun ini dengan agak “seret”. Dia mental di babak awal Malaysia dan Swiss Super Series. Di antara kedua turnamen ini, dia mentok di perempat final Korea Super Series dan All England Super Series. Lalu Sony sedikit menanjak menjadi semifinalis di Kejuaraan Asia.
Mulai pertengahan tahun, dia tancap gas. Pada bulan Juni, gelar Indonesia Super Series direbutnya setelah menumbangkan Simon Santoso. Di Tokyo, Jepang bulan ini dia untuk pertama kalinya menjadi pemenang Jepang Super Series. Dan ketangguhannya dibuktikan di China Masters Super Series kemarin dengan menundukkan Chen Jin di final. Dalam merebut gelar China Masters, Sony hanya kehilangan satu set, yakni ketika bermain rubber set melawan Bao Chunlai (unggulan ketiga) di semifinal.
Selanjutnya, Sony akan beristirahat dan tidak ikut bertanding di Macau Terbuka Grand Prix Gold yang akan dimulai besok dan akan bersiap untuk berkeliling Eropa.
Markis/Hendra Rebut Gelar Super Series Pertama
Juara Olimpiade Beijing 2008, Markis Kido/Hendra Setiawan kemarin akhirnya mendapatkan gelar Super Series pertamanya di tahun ini. Walaupun tahun lalu mereka mengantongi total dua gelar Super Series dan dua non-super series, tetapi tahun ini gelar China Masters adalah gelar Super Series pertamanya. Mereka menang dengan tidak kehilangan satu set pun.
Sedangkan runner-up ganda campuran Olimpiade Beijing 2008, Nova Widianto/Lilyana Natsir kembali harus puas dengan gelar runner-up di China Masters 2008 setelah kalah dari pasangan tuan rumah unggulan ketiga, Xie Zhongbo/Zhang Yawen, 17-21, 17-21.
Selanjutnya Indonesia akan berlaga di Macau Terbuka Grand Prix yang akan dimulai esok hari.
Foto: dari situs resmi China Masters
7 comments 29 September 2008
Sony Lalui Bao, Melangkah ke Final

Tiongkok, 27 September 2008 – Sony Dwi Kuncoro menorehkan kemenangan tiga kali berturut-turut atas pemain jangkung berparas tampan, Bao Chunlai. Bao kalah di kandangnya sendiri lewat tiga set ketat, 13-21, 21-12, 15-21 selama satu jam di semifinal China Masters Super Series 2008. Harapan lain ada pada ganda putra dan campuran.
Sony dengan gayanya yang terlihat ‘lambat’ dan defensif lewat banyak pukulan clear dan net ternyata mampu meredam keganasan Chunlai. Dari awal pertandingan, kedua pemain sudah saling berkejaran nilai lewat permainan yang berhati-hati. Setelah kalah 13-21, Chunlai langsung membabat set dua dengan gempuran smes bertubi-tubi yagn membuat Sony tidak dapat mengembangkan permainannya.
Untunglah, walaupun Sony kalah 12-21 di set kedua, semangatnya tidak patah. Kali ini dia tidak bergantung hanya pada clear dan permainan net, tapi secara apik juga menyelipkan serangan-serangan balik. Chunlai pun tidak mau kalah. Kejangkungannya dia maksimalkan untuk melakukan smes menukik, dan jangkauan jauhnya dia pergunakan untuk mengombinasikan pukulan jauh dengan permainan net.
Permainan kedua petarung benar-benar menakjubkan, apalagi karena di set penentuan ini angka mereka tidak pernah terpaut jauh dan selalu saling berkejaran. Ketika Sony ketinggalan 7-9, tiba-tiba dia bisa membalikkan kedudukan menjadi 12-10. Chunlai mengejar menjadi 12-12, Sony kembali lari tak terbendung dan menutup set penentuan dengan skor 21-15.
Menurut Davis Efraim, pelatih yang mendampingi Sony, kuncinya adalah Sony memiliki percaya diri untuk melayani serangan Bao dan tidak terpancing untuk bermain cepat atau langsung menyerang. Strategi ini bekerja baik juga karena faktor internal dari Chunlai yang mengaku kelelahan karena baru mulai berlatih empat hari sebelum turnamen digelar.
Di final esok hari, Sony akan kembali berhadapan dengan petarung Tiongkok, yakni, Chen Jin, sang muda unggulan keempat. Di turnamen ini, Tiongkok memiliki satu finalis di masing-masing partai, sedangkan Indonesia tiga.
Yang menemani Sony sebagai finalis adalah Nova Widianto/Lilyana Natsir yang membalas kekalahan mereka di final Jepang Terbuka minggu lalu kepada Muhammad Rizal/Vita Marissa, pasangan perebut gelar tersebut. Kali ini pun kedua pasangan harus bertarung lewat tiga set ketat yang berlangsung dalam waktu yang kurang lebih sama, yakni 45 menit. Di final, Nova/Lily akan bersua kembali dengan Xie Zhongbo/Zhang Yawen, unggulan ketiga. Xie/Zhang hanya pernah menang sekali atas Nova/Lilyana, dan itu pun terjadi dua tahun lalu. Di enam kali pertemuan lainnya – yang paling anyar adalah pada saat Kejuaraan Asia 2008 – Nova/Lily selalu jaya.
Selain mereka, ganda putra nomor satu dunia dan juara Olimpiade 2008, Markis Kido/Hendra Setiawan juga menjadi finalis. Mereka akan berhadapan dengan pemain muda Tiongkok, Sun Junjie/Xu Chen. Markis mengatakan mereka harus waspada karena “…mereka bisa sampai di final berarti bagus juga.”
Mereka melaju ke final dengan berturut-turut menundukkan unggulan ketiga, harapan nomor satu Malaysia, Koo Kien Keat/Tan Boon Heong di babak kedua; lalu unggulan kedelapan asal Indonesia, Rian Sukmawan/Yonatan Suryatama Dasuki di perempat final; dan unggulan kedua, senior sendiri, Cai Yun/Fu Haifeng.
Sekilas, peluang Indonesia untuk merebut ketiga gelar cukup besar, tetapi sekali pun tidak boleh mereka memandang sebelah mata, apalagi karena kita tidak pernah tahu sebahaya apa senjata muda Tiongkok saat ini.
Jadwal Pertandingan Final China Masters
Dimulai pukul 12 siang WIB
WD: Zhang Dan/Zhang Zhibo (MAC) vs Cheng Shu/Zhao Yunlei (CHN)
WS: Zhou Mi (HKG/6) vs Wang Lin (CHN)
XD: Nova/Lilyana (INA/1) vs Xie Zhongbo/Zhang Yawen (CHN/3)
MS: Sony Dwi Kuncoro (INA/5) vs Chen Jin (CHN/4)
MD: Markis/Hendra (INA/1) vs Sun Junjie/Xu Chen (CHN)
8 comments 27 September 2008
Perempat Final China Masters, Indonesia Baru Gugur Satu Wakil
Indonesia Berpeluang Rebut Empat Gelar
Tiongkok, 26 September 2008 – Hampir semua wakil merah-putih di turnamen China Masters Super Series yang berlangsung di provinsi Changzhou, Tiongkok melaju ke perempat final hari ini. Satu-satunya wakil yang gugur adalah pasangan ganda putri, Greysia Polii/Nitya Krishinda Maheswari di babak awal, oleh pasangan muda tuan rumah, Cheng Shu/Zhao Yunlei. Dengan demikian, Indonesia berpeluang merebut empat dari lima gelar di turnamen bergengsi ini.
Peluang terbesar untuk merebut gelar datang dari partai ganda putra dan campuran, dimana Indonesia memiliki empat dan tiga wakil di perempat final masing-masing partai.
Yang menarik dari partai ganda putra hari ini adalah pertarungan saudara sedarah, Markis Kido (yang berpasangan dengan Hendra Setiawan) dan Bona Septano (yang berpasangan dengna Muhammad Ahsan. Bona/Ahsan bisa jadi memiliki keunggulan dalam stamina, karena pertarungan hari ini adalah pertarungan pertama mereka setelah mereka mendapat bye di babak awal dan walkover di babak kedua karena unggulan kelima, Guo Zhendong/Xie Zhongbo mengundurkan diri. Tetapi, sebaliknya absennya pertarungan ini dapat membuat mereka grogi karena masih harus beradaptasi dengan suasana pertandingan, apalagi mereka langsung berhadapan dengan ganda terbaik dunia – walaupun sering latih tanding bersama di pelatnas. Yang pasti, dari pertarungan ini, Indonesia sudah memastikan satu tiket semifinal.
Di kotak lainnya, Hendra Gunawan/Joko Riyadi akan kembali berhadapan dengan pasangan Malaysia setelah kemarin membuat kejutan dengan menundukkan unggulan keempat, Zakry Abdul Latif/Fairuzizuan Tazari dengan skor 12-21, 21-19, 21-8. Hari ini Khoo Chung Chiat/Tan Bin Shen tentunya akan berusaha keras membalas kekalahan sejawatnya saat melawan Hendra/Joko. Khoo/Tan adalah pasangan yang baru disatukan dan langsung membuat kejutan dengan mengalahkan He Hanbin/Shen Ye (Tiongkok) lalu Chan Choong Ming/Chew Choon Eng (unggulan ketujuh, Malaysia).
Unggulan kedelapan kiriman PB Djarum, Rian Sukmawan/Yonatan Suryatama Dasuki hari ini akan berhadapan dengan yunior tuan rumah, Sun Junjie/Xu Chen yang kemarin menjegal langkah unggulan ketiga, Koo Kien Keat/Tan Boon Heong, juga dari Malaysia.
Jika Hendra/Joko dan Rian/Yonatan berhasil lolos ke semifinal, maka akan ada tiga wakil merah-putih dari total empat kursi yang ada – memperbesar kemungkinan Indonesia sampai 75% untuk merebut gelar di partai ini.
Pada partai ganda campuran, semua wakil Indonesia masih melaju ke perempat final. Hanya saja, jalan ke semifinal bagi mereka sepertinya akan lebih sulit daripada rekan-rekan di ganda putra. Pemenang ganda campuran Jepang Super Series minggu lalu, Muhammad Rizal/Vita Marissa (unggulan keenam disini), akan dicoba ketangguhannya oleh pemain nomor satu dan senior Thailand, Sudket Prapakamol/Saralee Thoungthongkam (unggulan keempat). Sedangkan, Flandy Limpele/Greysia Polii akan berhadapan dengan unggulan kedua asal tuan rumah, He Hanbin/Yu Yang.
Ganda campuran terbaik dunia, Nova Widianto/Lilyana Natsir juga tidak boleh memandang enteng pasangan non-unggulan asal tuan rumah, lawannya di semifinal, Shen Ye/Pan Pan. Walaupun tergolong yunior, tetapi mereka sebelumnya berhasil menundukkan unggulan kedelapan harapan Malaysia, Lim Khim Wah/Wong Pei Tty dengan dua set langsung, 21-19, 21-19.
Dari partai tunggal putra dan ganda putri hari ini, wakil Indonesia akan berhadapan dengan wakil tuan rumah. ‘Sang senior’ Taufik Hidayat akan berhadapan dengan salah satu lawan bebuyutannya, Bao Chunlai, sedangkan Sony Dwi Kuncoro akan berhadapan dengan ‘the rising star’, Qiu Yanbo.
Ganda putri unggulan merah-putih, Vita Marissa/Lilyana Natsir juga akan berhadapan dengan yunior Tiongkok, Cheng Shu/Zhao Yunlei. Vita/Lilyana seharusnya memiliki keuntungan stamina karena Cheng/Zhao maju ke perempat final dengan menguras peluh deras untuk mengalahkan Nitya Krishinda Maheswari/Greysia Polii kemarin. Cheng/Zhao menang atas Nitya/Greysia dengan skor super ketat, 19-21, 21-14, 22-20, dan dengan rentang waktu terlama juga, yakni satu jam tiga menit. Sedangkan, Vita/Lilyana kemarin mendapat bye.
Potensi Vita/Lilyana untuk menang pun sebenarnya tinggi karena unggulan pertama, Du Jing/Yu Yang dan unggulan kedua, Wei Yili/Zhang Yawen mundur – sehingga secara otomatis Vita/Lilyana bergeser menjadi unggulan pertama.
Secara persentase per jumlah wakil di perempat final (kuantitas), peluang Indonesia merebut gelar di China Masters adalah sebagai berikut:
Tunggal putra: 25-50% (karena Sony dan Taufik berada di kotak final yang sama)
Ganda putra: 50-100% (karena empat wakil berada di tiga kotak semifinal yang berbeda)
Ganda putri: 12,5-50%
Ganda campuran: 37,5-100% (karena tiga wakil berada di tiga kotak semifinal yang berbeda)
Add comment 26 September 2008
Atlit Indonesia di Turnamen September Selanjutnya
Urutan berdasarkan partai: tunggal putra, tunggal putri, ganda putri, ganda putri, ganda campuran
China Masters Super Series
23-28 September
Taufik Hidayat (7)
Sony Dwi Kuncoro (5)
N/A
Markis Kido/Hendra Setiawan (1)
Muhammad Ahsan/Bona Septano
Hendra A. Gunawan/Joko Riyadi
Rian Sukmawan/Yonatan Suryatama Dasuki (8)
Vita Marissa/Lilyana Natsir (3)
Greysia Polii/Nitya Krishinda Maheswari (5)
Nova Widianto/Lilyana Natsir (1)
Muhammad Rizal/Vita Marissa (6)
Flandy Limpele/Greysia Polii (5)
Macau Terbuka Grand Prix Gold
30 September – 5 Oktober 2008
Simon Santoso (5)
Alamsyah Yunus
Tommy Sugiarto
Taufik Hidayat (4)
Indra Bagus Ade Chandra
Pia Zebadiah Bernadet
Fransisca Ratnasari
Adriyanti Firdasari
Maria Kristin Yulianti (5)
Melicia Kurniawan
Aprillia Yuswandari
Fernando Kurniawan/Lingga Lie (4)
Lita Nurlita/Endang Nursugianti
Rani Mundiastuti/Nathalia Christine Poluakan
Nadya Melati/Devi Tika Permatasari
Anggun Nugroho/Lita Nurlita (5)
Devin Lahardi Fitriawan/Jo Novita
Tantowi Akhmad/Yulianti (2)
Bitburger Terbuka Grand Prix
30 September – 5 Oktober 2008
Andre Kurniawan Tedjono (3)
Ari Yuli Wahyu Hartanto (11)
Dionysius Hayom Rumbaka
Endra Kurniawan
Ian Jovi Rien (Q)
Rio Willianto (Q)
Maria Elfira Christina (6)
Maria Febe Kusumastuti
Rosaria Yusfin Pungkasari
Fran Kurniawan/Rendra Wijaya (2)
Rio Willianto/Denis Nyenhuis (INA/GER)
Shendy Puspa Irawati/Meiliana Jauhari (1)
Fran Kurniawan/Shendy Puspa Irawati (1)
Rendra Wijaya/Meiliana Jauhari (6)
22 comments 21 September 2008
Dua Gelar Lagi dari Tokyo
Indonesia kembali panen dua gelar di Jepang Terbuka hari ini setelah seminggu sebelumnya juga memanen jumlah yang sama di Taipei. Dua kemenangan di Tokyo, Jepang dipersembahkan oleh wakil yang tidak terduga kemenangannya, yakni Muhammad Rizal/Vita Marissa atas Nova Widianto/Lilyana Natsir, dan Sony Dwi Kuncoro atas Lee Chong Wei (Malaysia).
Semua pertandingan final yang berlangsung di ibukota negeri sakura ini berlangsung ketat. Partai ganda campuran yang memulai hari final pun ditunggu oleh semua khalayak karena Rizal/Vita adalah pasangan yang baru bermain bersama di ajang ini. Pertandingan mereka tidak berlangsung seperti latihan di Cipayung, tetapi lebih seperti pertarungan panas dan sengit dimana kedua pasangan mengerahkan seluruh kemampuan terbaiknya.
Di set pertama, Rizal terlihat seperti kurang mantap dalam bermain sehingga permainannya pun kurang luwes. Tidak sedikit pun Nova/Lilyana memberi kesempatan sampai set pertama ditutup 21-14.
Untunglah Rizal kembali kepada permainannya yang biasa di set kedua. Gelegar smesnya pun berhamburan. Walaupun pertahanan Nova/Lilyana termasuk kokoh, tetapi toh tak mampu menahan semua gempuran tersebut. Kalah 2-4 di awal set, Rizal/Vita menyamakan kedudukan menjadi 5-5, dan terus melaju meninggalkan pasangan sejawat mereka sampai 21-15.
Di set ketiga, pertarungan terlihat lebih ketat; mungkin karena kedua pasangan sudah mulai terbiasa dengan permainan lawan. Tetapi dari awal set Rizal/Vita sudah memimpin lebih dahulu. Keunggulan pasangan ini juga banyak didukung oleh keahlian permainan net Vita, selain oleh gempuran keras Rizal. Walaupun Nova/Lilyana berhasil menyamai kedudukan di 3-3 dan lalu 8-8, tetapi mereka tidak berpeluang sekalipun untuk memimpin angka. Serang, tahan, posisi bola sulit, ambil dengan cekatan dan seksama – pertandingan berjalan amat ketat.
Dan kejutan itu pun terjadi. Nova/Lilyana, unggulan pertama dan yang diunggulkan menang atas Rizal/Vita ternyata harus mengakui kekalahan mereka ketika kalah 19-21 di set ketiga tersebut.
“Saya senang bisa menang dalam kejuaraan ini,” kata Rizal usai pertandingan. Inilah kali pertama Rizal menjadi juara di kelas Super Series sejak bergabung dengan pelatnas sejak bertahun-tahun yang lalu dan berpasangan dengan Greysia Polii.
Kejutan berlanjut ketika setelah Rizal/Vita menang, pemain yang juga tidak diunggulkan di tunggal putri, Wang Yihan, menang atas unggulan ketujuh asal Hong Kong, Zhou Mi, 21-19, 17-21, 21-15; dan Sony Dwi Kuncoro menang atas unggulan pertama asal Malaysia, Lee Chong Wei dengan skor 21-17, 21-11.
Sempat ketinggalan jauh, 12-16 di set pertama, Sony yang tetap fokus dan – seperti biasa – tidak memperlihatkan emosinya itu terus mengejar Chong Wei dan akhirnya berhasil merenggut lima angka sekaligus memimpin kedudukan menjadi 17-16.
Pertandingan berlangsung menegangkan karena kedua pemain bertipe mirip, yakni, tipe sabar dan tidak emosional. Chong Wei lebih banyak bermain di net yang menjadi kekuatannya, sedangkan Sony banyak bermain clear. Sony membuktikan bahwa pukulan clear pun dapat menjadi maut jika mampu secara akurat dijatuhkan sangat dekat atau bahkan tepat di garis batas – yang biasanya membuat lawan bingung untuk mengambil atau tidak.
Set pertama pun ditutup Sony dengan susah payah dan lewat kejar-kejaran angka yang menegangkan. Di set kedua, Chong Wei yang sedang mengalami cedera ringan di tangan kanannya itu tetap berusaha mempertahankan gelar yang direbutnya tahun lalu itu, tetapi ternyata Sony yang sedang penuh api semangat terlihat bagai tembok tebal yang sulit dirobohkan. Set kedua jatuh ke tangan Sony dengan skor 21-11, jauh lebih mudah daripada set pertama. Inilah kemenangan kedua Sony di ajang Super Series setelah dia menyingkirkan Simon Santoso di final Indonesia Super Series 2008; dan pengulangan kemenangan atas Chong Wei yang Sony lakukan di Kejuaraan Dunia 2007 lalu.
Dua gelar selanjutnya jatuh ke tangan pasangan ganda putra Denmark, Lars Paaske/Jonas Rasmussen dan ganda putri muda Tiongkok, Cheng Shu/Zhao Yunlei. Lars/Jonas yang menang atas Muhammad Ahsan/Bona Septano kembali mengukuhkan kekuatan Denmark di ganda putra setelah sejawatnya, Mathias Boe/Carsten Mogensen merebut gelar ganda putra di Taipei Terbuka minggu lalu.
Dan kali ini Malaysia harus gigit jari. Walaupun berhasil memiliki dua finalis, yakni Lee Chong Wei (tunggal putra) dan Chin Eei Hui/Wong Pei Tty (ganda putri), tapi keduanya juga gagal merebut gelar dengan cukup menggegerkan. Chong Wei kalah dari lawan yang selalu dia kalahkan sebelumnya (kecuali sekali di Kejuaraan Dunia tahun lalu); sedangkan Chin/Wong yang adalah unggulan keempat kalah dari non-unggulan.
Maraton turnamen internasional bulutangkis masih akan berlanjut. Dua hari lagi, 23 September 2008, China Masters Super Series akan dimulai, dan langsung dilanjutkan dengan Macau Grand Prix Gold Terbuka dan Bitburger Grand Prix Terbuka (Belanda) yang dimulai 30 September 2008. Bulan depan pun masih padat, dari Belanda Grand Prix Gold (14-19 Oktober), Denmark Super Series (21-26 Oktober), sampai Perancis Super Series (28 Oktober – 2 November). Ini belum termasuk Bulgaria Grand Prix yang diadakan pada 7-12 Oktober, jika Indonesia juga mengirim pasukan kesini.
5 comments 21 September 2008
China Masters Kalah Pamor dari Jepang Terbuka
Ajang China Masters Super Series yang berselang hanya seminggu setelah Jepang Super Series ternyata kurang menarik minat banyak atlit. Pendaftar China Masters kurang lebih hanya dua-pertiga dari jumlah pendaftar Jepang Super Series. Indonesia termasuk yang rajin mengirim atlit dari sejak Taipei Terbuka, Jepang Super Series, lalu China Master Super Series.
Minimnya peminat China Masters yang sedianya dihelat pada tanggal 23-28 September 2008 terlihat dari absennya atlit-atlit negeri ginseng yang adalah salah satu negara adidaya bulutangkis. Selain itu, Denmark dan Inggris juga sama sekali tidak mengirim atlit untuk berlaga di sektor ganda yang menjadi salah satu kekuatan mereka. Alhasil hanya ada 43 pasangan dari sembilan negara yang akan berlaga di tiga sektor ganda: putra, putri, dan campuran. Bahkan di sektor ganda putri hanya ada 10 pasangan yang akan berlaga.
Bandingkan dengan Jepang yang bergelimang atlit. Di turnamen yang dimulai esok, 16 September 2008, kedua partai tunggalnya melebihi kuota 32 atlit sehingga harus diadakan babak kualifikasi. Dari partai ganda, total ada 77 pasangan yang berlaga di tiga partai, datang dari 13 negara – termasuk Denmark dan Inggris yang absen di China Masters.
Apa yang menyebabkan ketimpangan tersebut?
Dari sisi gelimang hadiah pemenang, kedua turnamen sama-sama berhadiah total US$200.000. Level turnamen sama-sama elit, Super Series. Apakah disebabkan oleh lokasi pertandingan dimana Jepang mengadakan di kota besar, Tokyo, sedangkan Tiongkok mengadakannya di Changzhou, provinsi Jiangsu yang namanya kurang terdengar? Apakah benar-benar hanya karena itu?
Dan misalnya pun beberapa negara memutuskan untuk mengikuti hanya satu turnamen saja karena terlalu berdekatan, mengapa Jepang Terbuka yang dipilih?
Belum ada rilis maupun penjelasan resmi mengenai hal ini, tetapi yang sama-sama dialami oleh kedua turnamen adalah dikirimnya atlit-atlit pelapis dan yunior yang sedikit-banyak membuat kedua turnamen seakan hanya sekelas Grand Prix. Di Jepang Terbuka, cukup banyak atlit kelas kakap yang akhirnya mundur; juga dengan alasan yang masih mengambang.
Kabar Baik bagi Indonesia
Walaupun terasa lesu, tetapi bagi Indonesia hal tersebut menjadi keuntungan tersendiri. Selain persaingan menjadi lebih longgar karena absennya pemain-pemain papan atas, bagi pasangan baru dan para pelapis, ajang ini menjadi ajang pemanasan yang baik.
Lihatlah di ganda campuran. Flandy Limpele/Vita Marissa dan Muhammad Rijal/Greysia Polii bertukar pasangan. Tidak masalah, karena harapan juara tetap bergantung pada pasangan nomor satu dunia, Nova Widianto/Lilyana Natsir.
Ganda putra di kedua turnamen juga diharapkan membawa hasil terbaik dengan mantapnya tim merah-putih yang juga termasuk pasangan juara Olimpiade Beijing 2008, Markis Kido/Hendra Setiawan.
Pasangan ganda putri baru, Greysia Polii/Nitya Krishinda Maheswari juga diharapkan melaju mulus. Merekalah satu-satunya pasangan rombakan baru yang dikirim ke Jepang dan Tiongkok – membuktikan besarnya harapan PBSI terhadap mereka. Mereka ditemani oleh ganda putri utama Indonesia, Vita Marissa/Lilyana Natsir.
Tetapi PBSI cukup sigap melaksanakan strategi membangun mental atlit-atlit Indonesia. Simon Santoso dan semua atlit tunggal putri Indonesia ‘dikandangkan’ setelah berlaga di Tokyo. Bisa jadi PBSI ingin memastikan kepercayaan diri mereka sudah mantap sebelum yakin untuk berlaga di tanah Tiongkok yang memang santer.
Berat atau tidak, turnamen internasional tetap baik untuk melatih mental dan memupuk pengalaman para atlit. Hanya saja PBSI perlu berhati-hati karena Tiongkok sudah mulai mengedepankan pemain yunior dan pelapisnya di kedua turnamen elit ini – merekalah harapan tonggak utama Tiongkok di Olimpiade London 2012.
Bagaimana dengan Indonesia? Tentunya kita tidak ingin terus bergantung sepenuhnya pada senior yang sama bukan?
8 comments 15 September 2008
Indonesia Boyong Dua Gelar dari Taipei
Akhirnya Simon Santoso hari ini berhasil keluar dari tekanan julukan “Runner Up”. Di Taipei Terbuka tahun ini Simon berhasil mengalahkan unggulan ketujuh asal Malaysia, M. Roslin Hashim lewat rubber set ketat, 21-18, 13-21, 21-10 dan mengklaim gelar juara pertamanya di turnamen sekelas Grand Prix Gold. Kemenangan Simon adalah gelar kedua yang direbut merah-putih setelah pasangan ganda campuran pelatnas, Devin Lahardi/Lita Nurlita (unggulan ketujuh) mempersembahkan kemenangan pertama merah-putih. Tiga gelar lainnya masing-masing jatuh ke tangan India, Taipei, dan Denmark.
Gelar juara Simon di Taipei ini tidak saja gelar pertamanya di kelas Grand Prix, tetapi juga merupakan gelar juara pertamanya setelah terakhir kali menjadi juara di Vietnam Satellite tiga tahun lalu. Di Taipei Terbuka tahun lalu, Simon hanya mampu mencapai semifinal.
Simon memang semakin matang dan terasah. Sejak didaulat menjadi harapan tunggal putra Indonesia di masa depan pada tahun 2004 dimana dia mulai dikirim ke banyak turnamen Grand Prix dan Super Series, Simon menunjukkan peningkatan yang berarti.
Pada tahun 2004, Simon hanya mampu sekali masuk perempat final di Thailand Terbuka dari total delapan turnamen papan atas. Pada tahun 2006, dia masuk tiga perempat final yakni di Jerman Terbuka, Kejuaraan Asia, dan Indonesia Terbuka dari total sembilan turnamen individu yang diikuti. Tahun ini, 2008, baru enam turnamen individu yang dia ikuti, tetapi dia sudah menyabet satu gelar di Taipei Terbuka, menjadi dua kali runner-up di Singapura dan Indonesia Terbuka, dan perempat finalis di Malaysia Terbuka.
Devin/Lita pun semakin matang. Catatan mereka tidak mengecewakan untuk menjadi pelapis dua ganda utama Indonesia, Nova Widianto/Lilyana Natsir dan Flandy Limpele/Vita Marissa. Sejak dipasangkan pada awal 2007, mereka langsung menyabet gelar juara di Selandia Baru Terbuka 2007 (Grand Prix). Sejak itu memang kiprah mereka kurang mencolok karena tidak pernah lagi sekalipun mereka menembus lebih dari perempat final. Tetapi di Taipei kali ini mereka mampu kembali membangun kepercayaan diri sendiri dan masyarakat terhadap mereka setelah merebut gelar juara atas lawan yang juga tidak mudah ditaklukkan, Cheng Wen Hsing/Chieh Min Fang (unggulan keempat) asal tuan rumah.
Walaupun di set pertama, Devin/Lita banyak bola mati sendiri karena kurang tenang dalam mengatur serangan, tetapi mereka mampu mengatur emosi di set kedua sehingga mampu mengatur tempo serangan dan mengendalikan permainan. Di set ketiga pun mereka sempat tertinggal karena kembali emosi sehingga tertinggal 16-19.
“Beruntung mereka kembali tenang dalam mengatur tempo, hingga dalam satu servis bisa berlangsung hingga pertandingan berakhir tanpa ada perpindahan servis lagi,” papar Aryono Miranat, manajer Tim Indonesia mengenai Devin/Lita yang menang lewat rubber set ketat, 14-21, 21-11, 21-19.
Jo Novita/Rani Mundiastuti yang gagal merebut gelar pun patut diacungi jempol. Keduanya memang sudah kenyang asam garam, tetapi inilah turnamen pertama mereka sebagai pasangan – walaupun harus kalah dari unggulan pertama tuan rumah, Cheng Wen Hsing/Chien Yu Chien.
“Senang sekali bisa masuk final,” tukas Jo ketika ditanya bagaimana perasaannya setelah lolos dari semifinal kemarin. Bersama dengan Greysia Polii, pasangan sebelumnya, mereka memang jarang lolos jauh di sebuah turnamen.
Pasangan veteran non-pelatnas, Candra Wijaya/Tony Gunawan akhirnya juga harus puas dengan gelar runner-up setelah kalah dari wakil tunggal Denmark, Mathias Boe/Carsten Mogensen. Sedangkan, putri muda India, Saina Nehwal kembali membuat gebrakan dengan menundukkan Lydia Cheah dengan cukup telak, 21-8, 21-19.
Dua gelar pulang ke tangan Ibu Pertiwi dari Taipei, tetapi kita terutama PBSI dan pelatnas tidak boleh bertenang hati. Di Taipei Terbuka tahun ini, peta persaingan tidak seketat biasanya karena banyaknya atlit Tiongkok dan Korea kelas atas yang absen. Tetapi tetap saja turnamen ini bukan turnamen mudah, dan kepercayaan diri yang didapat oleh para pemenang bukanlah kepercayaan diri yang berlebihan dan sia-sia. Semoga saja atlit kita semakin bersinar ke depannya.
Pemenang Taipei Terbuka 2008
Simon Santoso (tunggal putra), Saina Nehwal (tunggal putri), Mathias Boe/Carsten Mogensen (ganda putra), Cheng Wen Hsing/Chien Yu Chien (ganda putri), dan Devin Lahardi/Lita Nurlita (ganda campuran).
7 comments 14 September 2008
Latihan untuk Memukul Bola dengan Nyaman
Beberapa panduan untuk memukul bola bulutangkis dengan enak:
1. Pukullah bola ketika masih berada di depan kita, bukan ketika bola berada di atas bahkan di belakang kita. Memukul bola ketika masih berada di depan kita akan membuat energi yang terdorong ke bola menjadi lebih besar. Kita pun juga bisa dengan lebih mudah mengontrol posisi pengembalian bola. Ketika bola sudah berada di atas bahkan di belakang kita, jika tenaga kita tidak cukup, maka bola akan memelanting ke atas secara hiperbola, dan biasanya akan menjadi sasaran empuk lawan untuk mensmes keras.
2. Biasakan mengangkat raket (posisi raket siap menerima bola) ketika mau menerima bola, sehingga ketika kita mau memukul bola, kita bisa menghemat sepersekian detik yang akan terbuang untuk mengangkat raket dari posisi “santai” ke posisi memukul bola. Dengan menghemat waktu tersebut, kita bisa melakukan hal no. 1 di atas dengan lebih baik. Selain itu, mengangkat raket juga terkadang berguna untuk membantu refleks Anda ketika lawan mengembalikan bola dengan cepat (yang sulit dikembalikan bila raket Anda tidak dalam posisi ’siap siaga’).
3. Ketika bola sudah dikembalikan oleh lawan, ikuti jalannya bola dengan kepala raket (ini kegunaan lain dari kebiasaan no. 2 di atas). Dengan mengikuti jalannya bola, Anda akan lebih akurat dalam menerima bola dan kontrol pengembalian bola juga lebih enak.
4. Terakhir tetapi yang terpenting, bergeraklah dengan gesit. Setelah memukul bola, langsung kembalilah ke posisi dimana Anda seharusnya bersiaga (biasanya di titik tengah) dan bersiaga untuk menerima pengembalian bola. Latihan Gerak Kaki (footwork) sangat berguna untuk hal ini, karena jika Anda sudah sampai duluan di lokasi bola dikembalikan oleh lawan, maka Anda punya pilihan lebih enak dalam hal bagaimana Anda ingin bola tersebut dikembalikan ke lawan (sempat berpikir secara proaktif, tidak hanya reaktif menerima saja).
Latihan untuk cepat menguasai pemukulan bola tepat di kepala raket:
1. Seperti yang biasa dilakukan oleh anak-anak, lambungkan kok dengan raket Anda secara vertikal. Jika Anda masih pemula, pukullah pelan-pelan saja, tidak perlu terlalu tinggi-tinggi. Jika sudah dapat mengontrol dengan baik, tingkatkan ketinggian bola yang Anda pukul. Usahakan lengan untuk lurus (tidak ditekuk dan terlalu dekat dengan badan). Jika Anda sering melakukan hal ini, badan Anda akan menghafal titik tepat pemukulan bola pada raket Anda.
2. Berlatih memukulkan kok ke tembok. Mulailah dengan tembok luas dan tinggi yang mulus. Pukulkan kok ke arahnya dengan gaya drive (datar, bukan vertikal ke atas) yang (cukup) keras. Awalnya akan terasa sulit, tetapi lama-lama Anda akan mulai terbiasa dan hasilnya adalah badan Anda akan memiliki refleks yang baik dalam menerima bola-bola tak terduga. Jika Anda ingin tantangan lebih, dapat melakukan hal ini di tembok tidak rata
Selain itu, setelah memukul bola, langsung rilekskan lengan dengan meneruskan alur gerak tangan setelah memukul. Cara ini dapat mengurangi kemungkinan kejut otot/urat.
Selamat mencoba
Semua tips ini diberikan oleh pelatih yang juga teman baik saya yang dengan sabar melatih saya dari dasar, dan membuat saya kecanduan olahraga ini sampai sekarang. Dia adalah mantan atlit klub bulutangkis di Taiwan.
Add comment 14 September 2008
Indonesia Berpeluang Rebut Empat Gelar
Hari ini empat wakil Indonesia di empat partai berbeda akan berusaha keras merebut gelar di final Taipei Terbuka 2008 yang berlangsung di Taipei County Shinjuang Stadium. Satu-satunya partai yang nihil wakil merah-putih adalah partai tunggal putri setelah semifinalis Indonesia, Pia Zebadiah Bernadet kalah dari unggulan kedua dari India, Saina Nehwal, 9-21, 11-21.
“Hari ini (kemarin – red) Pia bermain buruk,” tukas pelatih tunggal putri Marleve Mainaky yang menyebutkan bahwa Pia hanya mengeluarkan 40 persen dari kemampuannya dan banyak mati sendiri.
Jalan Pia untuk mencapai semifinal memang terjal dan menguras banyak energi. Di babak kedua dia sudah langsung berhadapan dengan unggulan ketujuh asal negeri jiran, Julia Wong Pei Xian – banyak yang mengira Pia akan terhenti disini. Tapi Pia memberikan kejutan dengan menang ketat, 21-18, 22-20. Setelahnya, Pia kembali berkutat dengan pemain sulit, yakni seniornya sendiri, Maria Kristin Yulianti, perebut medali perunggu Olimpiade. Walaupun (kembali) banyak yang mengira Pia akan terhenti disini, lagi-lagi Pia membuat kejutan dengan menang 21-16, 21-19 – skor yang juga ketat.
Tetapi karena sepertinya Pia all-out di kedua pertandingan itu, akhirnya staminanya pun tidak optimal ketika berhadapan dengan Saina di semifinal. Permainan Pia yang suka menyulitkan lawan karena agresif dan mengejar bola dengan cepat, kemarin sama sekali tidak terlihat taringnya; dan Saina pun mengambil keuntungan dari situ dan menang 21-9, 21-11 untuk bertemu dengan Lydia Cheah asal Malaysia di final.
Walaupun Indonesia harus merelakan kemungkinan merebut gelar di tunggal putri, tetapi merah-putih tetap berkibar di final empat partai lainnya.
Unggulan pertama tunggal putra, Simon Santoso terus melaju tak terbendung. Hari ini dia akan berjibaku dengan Roslin Hashim, unggulan ketujuh asal Malaysia yang menundukkan ujung tombak Vietnam, Tien Minh Nguyen.
“Besok saya tidak boleh lengah, penampilan dia juga sedang bagus,” ujar Simon mengenai pertemuannya dengan Roslin.
Kali ini Simon tentunya akan berusaha sekuat tenaga untuk mendobrak sebutan “Langganan Runner-Up” yang bersarang di bahunya. Tahun ini Simon tiga kali masuk final, termasuk di Taipei Terbuka. Dia dua kesempatan sebelumnya, dia cukup mengenyam gelar runner-up, baik di Singapura Terbuka maupun di Indonesia Terbuka.
Tiga pasang ganda lainnya juga tentunya akan bertarung sebaik-baiknya.
Dua pasang ganda Indonesia yang cukup mengejutkan adalah pasangan campuran Devin Lahardi/Lita Nurlita, unggulan ketujuh yang menyerakkan unggulan kedua, Robert Blair/Imogen Bankier di babak perempat final, dan pasangan ganda putri anyar tapi kenyang pengalaman, Jo Novita/Rani Mundiastuti. Kedua pasangan ini akan berhadapan dengan pasangan tuan rumah yang didukung oleh gegap gempita penonton Taipei.
Pasangan terakhir adalah pasangan veteran unik dan masih membuat banyak decak kagum: Unggulan kedua, Candra Wijaya/Tony Gunawan. Tinggal di dua negara berbeda dan berlatih bersama hanya beberapa saat menjelang pertandingan tetapi penampilan mereka selalu konsisten tentu saja membuat banyak penggemar olahraga tepok bulu ini kagum dengan mereka. Mereka akan berhadapan dengan satu-satunya finalis Denmark, Mathias Boe/Carsten Mogensen, hari ini.
Kita tunggu saja hasil kejutan pertandingan hari ini.
Urutan Pertandingan Final Taipei Terbuka 2008
1. Ganda Campuran: Devin/Lita (INA) vs Fang/Chen (TPE)
2. Tunggal Putri: Lydia Cheah (MAS) vs Saina Nehwal (IND)
3. Tunggal Putra: Simon Santoso (INA) vs Roslin Hashim (MAS)
4. Ganda Putri: Jo/Rani (INA) vs Cheng/Chien (TPE)
5. Ganda Putra: Candra/Tony (INA/USA) vs Boe/Mogensen (DEN)
1 comment 14 September 2008
Mereka yang Berlaga di Taipei
Tunggal Putra
Simon Santoso (1), Indra Bagus Ade Chandra, Alamsyah Yunus, Tommy Sugiarto
Tunggal Putri
Maria Kristin Yulianti (3), Adriyanti Firdasari (8), Fransisca Ratnasari, Aprillia Yuswandari, Pia Zebadiah Bernadet
Ganda Putra
Tony Gunawan/Candra Wijaya (2), Rian Sukmawan/Yonatan Suryatama Dasuki (3), Hendra Gunawan/Joko Riyadi (4), Fernando Kurniawan/Lingga Lie, Muhammad Ahsan/Bona Septano
Ganda Putri
Greysia Polii/Nitya Krishinda Maheswari, Lita Nurlita/Endang Nursugianti, Jo Novita/Rani Mundiastuti, Nadya Melati/Natalia Poluakan, dan Yulianti/Devi Tika Permatasari
Ganda Campuran
Devin Lahardi Fitriawan/Lita Nurlita (7), Tantowi Akhmad/Yulianti, Anggun Nugroho/Endang Nursugianti
Lebih Lanjut Mengenai Perombakan Ganda Putri
Dari kelima pasangan baru – yang tidak lagi menyertakan Vita Marissa, mungkin karena faktor umur atau permintaan khusus dari Vita sendiri – yang paling menarik perhatian adalah Greysia Polii/Nitya Krishinda Maheswari. Grace adalah pemain agresif bak bola bekel yang berlompatan kesana kemari tanpa lelah, sedangkan Nitya adalah pemain dengan konsentrasi tinggi yang mampu meng-cover pasangannya dengan pengembalian yang penuh perhitungan. Jika mereka dapat berkomunikasi dengan baik, rasanya pasangan ini akan menjadi pasangan yang seharusnya mampu membuat kejutan di Taipei nanti.
Empat pasangan ‘anyar’ lainnya (saya beri tanda ‘’ karena mereka sebenarnya awak lama, hanya saja dengan kombinasi baru) adalah Lita Nurlita/Endang Nursugianti, Jo Novita/Rani Mundiastuti, Nadya Melati/Natalia Poluakan, dan Yulianti/Devi Tika Permatasari.
Ini bukan kali pertama PBSI melakukan perombakan pasangan di sektor ini. Sebenarnya ‘permainan’ musical chair ini sudah terjadi sejak beberapa tahun yang lalu demi mencari pelapis Jo Novita/Greysia Polii yang kala itu terbengkalai karena Jo cedera, sedangkan Endang/Rani masih nihil prestasi. Lita, Nadya, Natalia, Yulianti, dan Devi adalah pemain-pemain yang hampir pernah dipasangkan satu sama lain selama masa-masa ini tapi kala itu mereka masih belum terlalu berbuah manis.
Terdesak, akhirnya PBSI memasangkan Vita Marissa dan Lilyana Natsir (setelah Vita dipasangkan dengan Grace selama Jo sakit) yang ternyata langsung menciptakan hasil instan – tentu saja ini dapat dimaklumi karena keduanya adalah pemain kawakan yang sudah kenyang asam garam di turnamen internasional; ini tidak dapat dibandingkan dengan kelima atlit ‘yunior’ lainnya yang notabene baru seliweran di turnamen ‘kelas dua’.
Di Taipei nanti, empat pasangan berada di satu boks final yang sama sehingga dari boks ini hanya akan ada maksimal satu pasang finalis merah-putih. Hanya Grace/Nitya yang terpental ke boks final berbeda dan kemungkinan akan berhadapan dengan unggulan pertama asal tuan rumah untuk memperebutkan tiket final – dengan catatan Grace/Nitya melaju sampai ke semifinal.
Tentu saja kejutan lain juga diharapkan dari pasangan lainnya. Siapa yang tahu kalau-kalau akan terjadi all-Indonesian final di Taipei nanti dan turnamen ini akan menjadi titik balik perubahan positif di sektor ganda putri tanah air?
4 comments 7 September 2008