Sang Tiga Negara Adidaya di Olimpiade

20 Agustus 2008

Masih seputar bulutangkis dan olimpiade, kali ini saya mencoba sedikit bereksplorasi menganalisa perolehan medali di cabang olahraga (cabor) ini. Jika dilihat dari tabel 1 di bawah ini, dapat dikatakan bahwa tiga negara adidaya bulutangkis di kancah olimpiade adalah Tiongkok, Indonesia, dan Korea. Denmark dan Malaysia terlalu jauh tertinggal.

Tabel 1: Total Perolehan Medali Olimpiade Cabor Bulutangkis 1992-2008 (5 Negara Terbesar)

MS

WS

MD

WD

XD

·

·

·

·

·

·

·

·

·

·

·

·

·

·

·

CHN

2

1

2

3

1

4

1

1

4

3

4

2

2

30

INA

2

2

2

1

1

2

3

1

2

2

18

KOR

1

1

1

2

2

2

1

2

2

2

1

17

DEN

1

1

1

1

4

MAS

1

1

1

1

4

Yang menarik adalah bahwa ketiga negara tersebut memiliki peta kekuatan yang berbeda. Tiongkok dominan di partai putri, Indonesia dominan di partai putra, sedangkan Korea dominan di partai ganda (lihat tabel 2 di bawah).

Tabel 2: Jumlah Total Medali dari 5 Olimpiade

Negara

MS

WS

MD

WD

XD

CHN

5

8

2

11

4

INA

6

4

6

-

2

KOR

1

2

6

5

3

Catatan: di partai ganda putra (MD), Indonesia dan Korea memiliki total medali sama, tetapi secara tingkatan medali, Indonesia menang dengan tiga emas melawan dua emas.

Memang Korea tidak pernah menjadi yang terbaik di salah satu partai, tetapi secara garis besar terlihat bahwa kekuatan mereka ada di ganda. 82% dari total medali mereka didulang dari partai ini.

Sedangkan, terlihat bahwa kekuatan putri Tiongkok tidak tersangkal lagi. Setengah jumlah total medali olimpiade partai putri jatuh ke tangan Tiongkok. Bahkan di ganda putri, jumlahnya lebih heboh, yakni hampir 70% medali di partai ini jatuh ke negeri bambu ini!

Indonesia?

Partai putranya tidak pernah absen menyumbang emas dari awal bulutangkis dipertandingkan di olimpiade. Walaupun bergantian antara tunggal dan gandanya, tetapi data ini membuktikan bahwa tim putra masih menjadi tumpuan harapan merah-putih. Para putra penyumbang emas adalah Alan Budikusuma (MS/1992), Ricky Subagja/Rexy Mainaky (MD/1996), Tony Gunawan/Candra Wijaya (MD/2000), Taufik Hidayat (MS/2004), dan Markis Kido/Hendra Setiawan (MD/2008).

Lalu, kemana Malaysia?

Cerita tentang Malaysia yang “terpental” jauh dari prestasi tiga negara adidaya tersebut menarik untuk disimak. Pasalnya, dari total lima olimpiade, Malaysia hanya pernah mendulang empat medali, itu pun tanpa gelimang emas. Empat medali itu didapat dari tunggal putra (2) dan ganda putra (2) – masing-masing satu perak dan satu perunggu.

Posisi Malaysia dalam perolehan medali bahkan kalah dari Denmark. Memang Denmark juga hanya mengantongi total empat medali, tetapi setidaknya mereka pernah merasakan emas dari atlit tunggal putra legendarisnya, Poul-Erik Hoyer Larsen yang menang di Olimpiade Barcelona 1992.

Penutup

Pengamatan ini hanyalah pengamatan seputar prestasi di olimpiade yang mungkin dapat menjadi landasan kasar mengenai peta persaingan bulutangkis internasional. Tetapi tentunya kita juga perlu mengingat data non-olimpiade yang juga sama pentingnya untuk melengkapi peta persaingan tersebut.

Akhir kata, sebagai insan Indonesia, saya tentunya berharap ke depannya taji Indonesia di cabor ini semakin ganas dan ditakuti. Maju terus Indonesia!

Entry Filed under: Opini, Turnamen. Tag: , , , , , , , , , , , , , , .

Leave a Comment

Required

Required, hidden

Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kategori Artikel

Artikel Terakhir

Komentar Anda

Nadya haerany veroni… di Markis/Hendra, Yang Diam Yang…
firda f.r di Atlit Bulutangkis Indonesia: Y…
indah di Markis/Hendra Sumbang Emas Per…
indah di Markis/Hendra Sumbang Emas Per…
noph - noph di Kado Tahun Baru dari Nova…

Kalender

Agustus 2008
S S R K J S M
« Jul   Sep »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Bulutangkis

Non-Bulutangkis