Archive for Agustus, 2008
Rangking Atlit Indonesia (28 Agustus 2008)
Baru selesainya perhelatan terbesar di dunia, Olimpiade Beijing 2008 membuat ranking bulan ini bergeser terutama hanya bagi mereka yang berlaga di Beijing. Banyak yang naik tingkat setelahnya, dan ada pula yang geming. Tanda (*) di belakang nama/pasangan berarti mereka adalah yang turut berjuang di negeri bambu beberapa saat lalu.
Tunggal Putra
5. Sony Dwi Kuncoro*
9. Taufik Hidayat*
10. Simon Santoso (7) -
28. Andre Kurniawan Tedjono (31) +
51. Tommy Sugiarto (52) +
57. Alamsyah Yunus
62. Ari Yuli Wahyu Hartanto
Sayang sekali melihat Simon kembali harus tergelincir ke buntut Top 10 hanya karena dia tidak diikutkan Olimpiade. Jika dia terbang ke Beijing awal bulan, tentunya ceritanya akan berbeda. Tetapi tidak mengapa, mungkin memang waktunya bukan tahun ini, tetapi 4 tahun lagi di London J. Terus berjuang ya Sony dan Simon yang menjadi tumpuan setelah Taufik.
Tunggal Putri
15. Maria Kristin Yulianti* (21) +
33. Adriyanti Firdasari
39. Maria Elfira Christina
70. Pia Zebadiah Bernadet (67) -
83. Fransisca Ratnasari (84) +
94. Maria Febe Kusumastuti
99. Sylvinna Kurniawan (98) –
Good work, Maria Kristin. Kalau tetap konsisten, pasti bisa masuk Top 10 dalam waktu kurang dari setahun lho
Ayo kejar mimpimu untuk menjadi atlit 10 besar dunia!
Ganda Putra
1. Markis Kido/Hendra Setiawan*
7. Luluk Hadiyanto/Alvent Yulianto* (9) +
14. Tony Gunawan/Candra Wijaya (8) -
19. Yonatan Suryatama Dasuki/Rian Sukmawan (18) -
20. Hendra Gunawan/Joko Riyadi (19) -
26. Fran Kurniawan/Rendra Wijaya (27) +
43. Muhammad Ahsan/Bona Septano (44) +
69. Wifqi Windarto/Afiat Yuris Wirawan (70) +
72. Fernando Kurniawan/Lingga Lie (73) +
85. Albert Saputra Yanu/Rizky Kresnayadi
100. Syarif Syahmie Radhitian/Chrisna Adi Wijaya
Dengan medali emas Olimpiade kemarin, posisi Markis/Hendra sebagai yang terbaik di dunia pun semakin kokoh. Mereka jauh meninggalkan pasangan ganda putra papan atas lainnya di peringkat dunia. Jangan lengah ya, Kindra. Siapa tahu bisa rebut emas Olimpiade lagi nanti di London
.
Ganda Putri
7. Lilyana Natsir/Vita Marissa*
15. Jo Novita/Greysia Polii (16) +
21. Shendy Puspa Irawati/Meiliana Jauhari
22. Rani Mundiastuti/Endang Nursugianti (20) -
28. Nitya Krishinda Maheswari/Lita Nurlita
49. Nathalia Christine Poluakan/Yulianti
66. Nadya Melati/Devi Tika Permatasari (67) +
94. Dewi Komala/Debby Susanto (95) +
Rani/Endang tampaknya semakin meredup. Kali ini bahkan mereka terselip oleh Shendy/Meiliana – atau lebih tepatnya mereka tergelincir sampai terjatuh di bawah Shendy/Mei. Di belakang mereka, Nitya/Lita sudah membuntuti dalam jarak dekat. Apakah ini saatnya Rani/Endang berpisah?
Ganda Campuran
1. Nova Widianto/Lilyana Natsir*
3. Flandy Limpele/Vita Marissa*
23. Devin Lahardi Fitriawan/Lita Nurlita (26) +
31. Fran Kurniawan/Shendy Puspa Irawaty (34) +
32. Muhammad Rizal/Greysia Polii (20) – -
42. Tantowi Akhmad/Yulianti
84. Rendra Wijaya/Meiliana Jauhari
93. Anggun Nugroho/Endang Nursugianti (91) -
Disini juga terlihat redupnya Rizal/Grace. Devin/Lita dan Fran/Shendy sepertinya akan menjadi pelapis Nova/Butet dan Flandy/Vita dalam waktu dekat. Nihilnya prestasi dari Rizal/Grace sepertinya akan berujung pada kemungkinan perombakan untuk peluang yang lebih baik bagi masing-masing dari mereka. Apalagi beberapa saat yang lalu Grace memang bermaksud untuk konsentrasi di ganda putri bersama Jo Novita sehingga pasangan ini sempat terbengkalai.
27 comments 29 Agustus 2008
Sang Tiga Negara Adidaya di Olimpiade
Masih seputar bulutangkis dan olimpiade, kali ini saya mencoba sedikit bereksplorasi menganalisa perolehan medali di cabang olahraga (cabor) ini. Jika dilihat dari tabel 1 di bawah ini, dapat dikatakan bahwa tiga negara adidaya bulutangkis di kancah olimpiade adalah Tiongkok, Indonesia, dan Korea. Denmark dan Malaysia terlalu jauh tertinggal.
Tabel 1: Total Perolehan Medali Olimpiade Cabor Bulutangkis 1992-2008 (5 Negara Terbesar)
|
|
MS |
WS |
MD |
WD |
XD |
|
||||||||||
|
|
· |
· |
· |
· |
· |
· |
· |
· |
· |
· |
· |
· |
· |
· |
· |
|
|
CHN |
2 |
1 |
2 |
3 |
1 |
4 |
|
1 |
1 |
4 |
3 |
4 |
2 |
|
2 |
30 |
|
INA |
2 |
2 |
2 |
1 |
1 |
2 |
3 |
1 |
2 |
|
|
|
|
2 |
|
18 |
|
KOR |
|
1 |
|
1 |
1 |
|
2 |
2 |
2 |
1 |
2 |
2 |
2 |
1 |
|
17 |
|
DEN |
1 |
|
1 |
|
1 |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
1 |
4 |
|
MAS |
|
1 |
1 |
|
|
|
|
1 |
1 |
|
|
|
|
|
|
4 |
Yang menarik adalah bahwa ketiga negara tersebut memiliki peta kekuatan yang berbeda. Tiongkok dominan di partai putri, Indonesia dominan di partai putra, sedangkan Korea dominan di partai ganda (lihat tabel 2 di bawah).
Tabel 2: Jumlah Total Medali dari 5 Olimpiade
|
Negara |
MS |
WS |
MD |
WD |
XD |
|
CHN |
5 |
8 |
2 |
11 |
4 |
|
INA |
6 |
4 |
6 |
- |
2 |
|
KOR |
1 |
2 |
6 |
5 |
3 |
Catatan: di partai ganda putra (MD), Indonesia dan Korea memiliki total medali sama, tetapi secara tingkatan medali, Indonesia menang dengan tiga emas melawan dua emas.
Memang Korea tidak pernah menjadi yang terbaik di salah satu partai, tetapi secara garis besar terlihat bahwa kekuatan mereka ada di ganda. 82% dari total medali mereka didulang dari partai ini.
Sedangkan, terlihat bahwa kekuatan putri Tiongkok tidak tersangkal lagi. Setengah jumlah total medali olimpiade partai putri jatuh ke tangan Tiongkok. Bahkan di ganda putri, jumlahnya lebih heboh, yakni hampir 70% medali di partai ini jatuh ke negeri bambu ini!
Indonesia?
Partai putranya tidak pernah absen menyumbang emas dari awal bulutangkis dipertandingkan di olimpiade. Walaupun bergantian antara tunggal dan gandanya, tetapi data ini membuktikan bahwa tim putra masih menjadi tumpuan harapan merah-putih. Para putra penyumbang emas adalah Alan Budikusuma (MS/1992), Ricky Subagja/Rexy Mainaky (MD/1996), Tony Gunawan/Candra Wijaya (MD/2000), Taufik Hidayat (MS/2004), dan Markis Kido/Hendra Setiawan (MD/2008).
Lalu, kemana Malaysia?
Cerita tentang Malaysia yang “terpental” jauh dari prestasi tiga negara adidaya tersebut menarik untuk disimak. Pasalnya, dari total lima olimpiade, Malaysia hanya pernah mendulang empat medali, itu pun tanpa gelimang emas. Empat medali itu didapat dari tunggal putra (2) dan ganda putra (2) – masing-masing satu perak dan satu perunggu.
Posisi Malaysia dalam perolehan medali bahkan kalah dari Denmark. Memang Denmark juga hanya mengantongi total empat medali, tetapi setidaknya mereka pernah merasakan emas dari atlit tunggal putra legendarisnya, Poul-Erik Hoyer Larsen yang menang di Olimpiade Barcelona 1992.
Penutup
Pengamatan ini hanyalah pengamatan seputar prestasi di olimpiade yang mungkin dapat menjadi landasan kasar mengenai peta persaingan bulutangkis internasional. Tetapi tentunya kita juga perlu mengingat data non-olimpiade yang juga sama pentingnya untuk melengkapi peta persaingan tersebut.
Akhir kata, sebagai insan Indonesia, saya tentunya berharap ke depannya taji Indonesia di cabor ini semakin ganas dan ditakuti. Maju terus Indonesia!
Add comment 20 Agustus 2008
Kenali Gaya Permainan Bulutangkismu
Di permainan tunggal, ada tiga gaya bermain:
1. Gaya menyerang cepat (Penyerang)
Gaya ini banyak melancarkan smes, drop shot dan net yang dikembalikan dengan cepat, lob yang menyerang. Servis pendek lebih sering digunakan dengan dorongan tiba-tiba dari atas net ke arah belakang lawan. Pergerakan badan cepat.
2. Gaya gerak tipu (Pengecoh)
Servis tinggi lebih sering digunakan dan diarahkan ke batas garis belakang lawan. Lob juga lebih dalam dan terarah, sedangkan drop shot dilakukan dengan gerak tipu dan jatuh tipis di dekat net. Pukulan net cenderung tajam dan menipu walaupun tidak dimainkan secepat gaya si Penyerang.
Pertahanan si Pengecoh tergolong lebih baik. Pukulan dorongannya ke belakang lawan terarah dan cenderung mengecoh. Smes tidak banyak dikeluarkan, dan pergerakan pemain dengan gaya ini lebih stabil dan ‘’santai”, dengan penguasaan lapangan yang lebih baik.
3. Gaya sederhana dan bertahan (Penjaga Gawang).
Kebanyakan pukulannya sederhana dan jelas terbaca dibandingkan dengan si Pengecoh. Servisnya kebanyakan servis tinggi dan mengarah ke batas lapangan di belakang. Pukulan netnya sederhana saja walaupun terkadang sering menyeberangkan bola ke sisi lain lapangan. Drop shot-nya tajam tapi tidak secepat si Penyerang. Gaya bermain ini dimaksudkan untuk membuat lawan letih dengan bermain sederhana tapi jarang membuat kesalahan sendiri.
Hampir semua pemain profesional menggunakan kombinasi dua gaya dengan salah satunya lebih dominan. Contohnya, Zhao Jianhua secara apik menggabungkan gaya menyerang dengan gaya tipu, sedangkan Foo Kok Keong dan Ardy Wiranata adalah tipe Penjaga Gawang.
Ada kalanya mereka berlabuh pada gaya menyerang, contohnya Rudy Hartono. P. Gopichand juga terkadang menjadi seorang penyerang walaupun sering pula mengecoh. Susi Susanti adalah seorang Penjaga
Gawang yang sangat mengagumkan.
Pemain muda biasanya akan mengikuti gaya bermain atlit pujaannya. Saat ini, gaya yang sedang ‘ngetren’ adalah gaya menyerang yang diwarnai dengan banyak smes lompat dan serangan-serangan lob. Sangat lumrah bagi pemain muda mengikuti gaya pemain favoritnya atau mengikuti tren yang ada. Tetapi perlu diingat bahwa para juara pun adalah individu yang berbeda-beda, karenanya untuk menjadi seorang juara tetap perlu yakin terhadap keunikan gaya bermain sendiri.
Tanyalah pada diri anda:
Pertanyaan pertama:
• Apakah karakter saya cocok dengan gaya bermain yang saya ikuti ini?
• Apakah karakter saya agresif dan tidak sabaran dan suka mengambil resiko? [Karakter ini cocok dengan gaya menyerang]
• Apakah saya tipe orang sabar dan ulet yang menikmati reli panjang untuk menyingkirkan lawan? [Karakter ini cocok dengan gaya bertahan]
• Apakah saya tipe orang sabar yang senang perminan yang berkualitas dan sangat menikmati dapat mengontrol lawan? [Karakter ini cocok dengan gaya tipu]
Pertanyaan kedua:
• Apakah kondisi fisik saya mumpuni untuk bermain gaya tersebut?
• Apakah stamina saya mencukupi untuk terus-terusan melancarkan smes tajam dan keras?
• Apakah saya terlalu pendek untuk bermain menyerang? Apakah saya butuh waktu untuk menjangkau seluruh bagian lapangan saya dibandingkan dengan para pemain yang walaupun tingkat refleksnya sama dengan saya tetapi berpostur lebih tinggi?
• Bagaimana saya bisa menggunakan stamina fisik dan mental saya yang memadai secara efektif?
Pertanyaan ketiga:
• Apakah saya mampu mengontrol pukulan yang sesuai dengan gaya bermain ini?
• Apakah pukulan saya sederhana, konsisten dan tajam, ataukah mengecoh?
• Manakah pukulan saya yang paling dikuasai? Smes, bertahan, lob, dsb?
Jangan hanya mengikuti tren, tapi temukanlah gaya bermain sendiri sehingga ketika anda mengikuti pemain favorit anda, anda tidak mengikuti secara buta tetapi dapat mempelajari kelebihan gaya bermainnya. Dengan cara demikian, anda dapat meningkatkan kemampuan anda untuk bertarung melawan berbagai macam gaya lawan.
Ditulis oleh: Tan Aik Huang (Malaysia)
Terjemahan oleh: Dania Ciptadi
Add comment 19 Agustus 2008
Sukses Cina Membangun Olahraga: 10 Kebijakan Jadi Pedoman
By Tabloid Bola
Melihat Cina selama berlangsungnya Olimpiade Beijing 2008, para pendatang tak hanya dibuat kagum dengan kemajuan ekonomi negara itu yang mencapai 7 triliun dolar AS pada 2007. Kemajuan itu juga tercermin dalam pembangunan olahraganya.
Hal itu bisa langsung terlihat dari belum tergoyahnya posisi Cina sebagai pengumpul medali emas terbanyak hingga seminggu Olimpiade digelar. Bahkan prestasi yang ditorehkan berasal dari para atlet yang rata-rata masih berusia muda. Salah satunya adalah peraih medali emas angkat besi di kelas 56 kg, Long Qingquan. Pemuda yang tampak bersahaja asal provinsi Hunan ini baru berusia 18 tahun.
Kemajuan olahraga di Cina tak lepas dari 10 kebijakan yang dikeluarkan China State General Sports Administration. Sepuluh kebijakan yang dikeluarkan lembaga yang dipimpin Liu Peng itu merangkum segala hal yang berkaitan dengan pembangunan olahraga di negara yang luasnya 9,5 juta kilometer persegi itu.
“Selama 10 tahun terakhir ini, kemajuan olahraga di Cina mulai terlihat kuat. Hal itu tak lepas dari konsistensi badan olahraga Cina dalam menerapkan program pembangunan dengan arah yang jelas,” ujar Liu Peng dalam konferensi pers yang digelar di Main Press Centre, sehari sebelum pembukaan Olimpiade.
Kehebatan prestasi olahraga Cina punya dasar yang kuat. Dasar itu tumbuh dalam masyarakat. Tak ada lapangan atau taman-taman olahraga yang kosong kegiatan. Mulai dari anak-anak, remaja, hingga dewasa menggunakan taman-taman di seputar apartemen.
Bahkan menurut Adidin Aska, staf lokal KBRI yang tinggal di kompleks apartemen Fangzouyuan, semua apartemen yang dibangun di Cina harus memiliki ruang publik yang luas untuk aktivitas olahraga warganya.
“Para mahasiwa Indonesia yang belajar di sini pasti kalah kalau bertanding basket atau sepakbola dengan mereka. Paru-paru mereka kayak kuda. Kuat sekali. Kegiatan olahraga bagi bangsa Cina sudah menjadi budaya dan hal itu sudah berjalan ratusan tahun. Tak heran jika olahraganya maju,” jelas pria yang sudah 15 tahun berdinas di Beijing itu.
Jika ada ungkapan ‘belajarlah sampai ke negeri Cina’, maka itu jelas-jelas benar adanya. Dengan jumlah penduduk yang juga besar, akankah Indonesia mengikuti jejak mereka?
10 ARAH PEMBANGUNAN OLAHRAGA CINA
————————————————————————-
- Pembangunan kerangka kebijakan olahraga nasional.
- Siapkan reformasi industri olahraga dan penerapan strategi jangka panjang dan menengah.
- Meningkatkan partisipasi dan kesempatan berkegiatan olahraga.
- Merencanakan pengembangan atletik dan mengoordinasikan event olahraga nasional.
- Perang terhadap narkoba dan kecurangan di olahraga.
- Pengawasan pertukaran atlet secara internasional dan kerja sama dengan negara lain.
- Mengorganisasi partisipasi di event olahraga internasional dan membantu jika Cina menjadi tuan rumah sebuah event olahraga.
- Mendukung penelitian dan pembangunan olahraga serta mempromosikan pencapaian-pencapaian tertinggi di olahraga.
- Implementasi kebijakan mengatur industri olahraga, mengembangkan pasar olahraga (sports market), dan memformulasikan kriteria bisnis olahraga.
- Mendorong kinerja induk-induk organisasi olahraga.
1 comment 18 Agustus 2008
1 Emas, 1 Perak, 1 Perunggu bagi Indonesia

Beijing, 17 Agustus 2008 – Hari ini Indonesia menelan dua pil pahit setelah dua pasang ganda campurannya kandas. Diawali dengan kegagalan Flandy Limpele/Vita Marissa merebut medali perunggu, dan disusul dengan Nova Widianto/Lilyana Natsir yang harus puas hanya dengan medali perak. Cabang bulutangkis total menyumbang satu emas, satu perak, dan satu perunggu bagi Indonesia.
Usai pertandingan, Liliyana mengakui bahwa kekalahan mereka lebih banyak disebabkan oleh faktor kelelahan setelah pada pertandingan sebelumnya dipaksa bertarung tiga set yang menguras tenaga. Sementara rekannya Nova Widianto, secara sportif mengakui ketangguhan lawan yang menurutnya tampil luar biasa dan sulit dibendung, meski ia sudah mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya.
“Saya kaget dan tidak menduga kalau pasangan Korea itu ternyata tampil luar biasa dengan smes-smes yang sangat keras dan permainan dengan teknik tinggi,” kata Nova.
Pertandingan final antara Nova/Lilyana melawan Lee Yong Dae/Lee Hyo Jung berlangsung tidak berimbang dan tidak terasa seperti sebuah partai final dari kompetisi terbesar di seluruh dunia. Nova/Lilyana bermain tegang dan terasa sekali berada di bawah tekanan. Sepertinya mereka stres setelah menyaksikan kekalahan sejawatnya.
Kalah di set pertama, banyak pendukung yang mengira mereka masih belum ‘panas’ sehingga tidak terlalu tegang. Memang pemain Indonesia terkenal lambat panas – Nova/Lilyana tidak terkecuali.
Tapi ketika di set kedua mereka masih belum ‘panas’ juga, bahkan terlihat pasangan Korea menekan mereka dengan bermain cepat, jatung para pendukung merah-putih pun mulai berdegup kencang. Apalagi karena Nova/Lilyana sama sekali tidak bisa memimpin skor.
Ketika mereka kalah 21-11, 21-17, Indonesia pun tertegun. Mereka kalah dengan menyakitkan setelah kekalahan terhormat Flandy/Vita.
Pertandingan Flandy/Vita melawan He Hanbin/Yu Yang terasa lebih menggigit dan berbobot. Berlangsung selama 73 menit, tiga set yang berlangsung semuanya sangat mendebarkan.
Dari awal, angka telah berkejaran dan kejutan-kejutan banyak terjadi. Flandy/Vita yang tertinggal 13-18 di set pertama ternyata mampu mengejar sampai 18-18. Disinilah terlihat kepanikan Hanbin/Yang yang seperti ‘kebakaran jenggot’ dan permainannya mulai ‘berlubang’. Dengan peluh dan reli-reli panjang mendebarkan, akhirnya Indonesia menutup set awal 21-19.
Di set kedua, Indonesia tertinggal sampai 0-6 sebelum mulai kembali berkejaran dan menyamai kedudukan. Tiongkok selalu selangkah lebih maju, tetapi Indonesia selalu mampu menyejajarkan kedudukan. Dari 11-14 menjadi 14-14, 14-15 menjadi 15-15; dan semuanya berlangsung dengan reli-reli panjang, smes keras para pemain putra, dan ketelitian tingkat tinggi dari kedua pasangan. Akhirnya Tiongkok pun menyeret Flandy/Vita ke rubber set setelah menang 21-17.
Di set penentuan, angka berkejaran lebih ketat lagi. Perolehan angka sering bergantian, dan menuai satu angka tambahan diperlukan perjuangan yang luar biasa sulitnya. Dari mulai skor 13, angka naik satu kemudian disusul lagi oleh lawan dan begitu terus sampai terjadi deuce!
13-13
14-14
15-15
16-16
17-17
18-18
19-19
Flandy/Vita lah yang pertama mendapat angka 20 sebelum di-deuce oleh Hanbin/Yang, 20-20.
Setelahnya, Hanbin/Yang lah yang lebih dahulu naik ke angka 21, tapi kemudian di-deuce oleh Flandy/Vita, 21-21.
Tetapi akhirnya Indonesia pun harus menerima kekalahannya setelah Hanbin/Yang berteriak histeris setelah mendapat dua angka berikutnya dan menutup set perolehan medali perunggu itu dengan skor 23-21.
Vita yang terlihat letih pun menatap kosong ketika menyalami wasit. Hanbin/Yang langsung berlutut di lapangan dan mengepalkan kedua tinjunya, tanda kepuasan luar biasa untuk sebuah medali perunggu setelah seniornya, Zheng Bo/Gao Ling kandas jauh sebelumnya.
Dengan demikian cabang olahraga bulutangkis total menyumbang satu emas, satu perak, dan satu perunggu bagi Indonesia. Hadiah yang tidak terlalu buruk di kala ulang tahun kemerdekaan negeri.
Terima kasih bagi semua atlit yang telah berjuang, baik yang sukses merebut medali maupun tidak. Perjuangan kalian tentunya sampai ke hati masyarakat Indonesia, apalagi dengan ditayangkannya perjuangan mereka di layar kaca dalam negeri. Semoga cabor ini dapat semakin jaya ke depannya.
Perolehan Medali Bulutangkis di Olimpiade Beijing 2008
|
Partai |
Emas |
Perak |
Perunggu |
|
Tunggal Putra |
Lin Dan (CHN) |
Lee Chong Wei (MAS) |
Chen Jin (CHN) |
|
Tunggal Putri |
Zhang Ning (CHN) |
Xie Xingfang (CHN) |
Maria Kristin Yulianti (INA) |
|
Ganda Putra |
Markis Kido / Hendra Setiawan (INA) |
Fu Haifeng / Cai Yun (CHN) |
Lee Jae Jin / Hwang Ji Man (KOR) |
|
Ganda Putri |
Du Jing / Yu Yang (CHN) |
Lee Hyo Jung / Lee Kyung Won (KOR) |
Wei Yili / Zhang Yawen (CHN) |
|
Ganda Campuran |
Lee Yong Dae / Lee Hyo Jung (KOR) |
Nova Widianto / Lilyana Natsir (INA) |
He Hanbin / Yu Yang (CHN) |
Total Perolehan Medali di Bulutangkis
|
Negara |
Emas |
Perak |
Perunggu |
|
Tiongkok |
3 |
2 |
3 |
|
Indonesia |
1 |
1 |
1 |
|
Korea |
1 |
1 |
1 |
|
Malaysia |
- |
1 |
- |
21 comments 17 Agustus 2008
Markis/Hendra Sumbang Emas Pertama bagi Indonesia

Beijing, 16 Agustus 2008 – Indonesia bersorak girang ketika Markis Kido/Hendra Setiawan menorehkan angka 21 di set penentuan perebutan medali emas ganda putra di Olimpiade Beijing 2008 hari ini. Mereka menghadang pasangan tuan rumah untuk merebut medali emas dari cabang ini. Pasangan tersebut tidak hanya berhasil mewujudkan harapan 130 juta warga Indonesia yang pada Minggu akan merayakan HUT kemerdekaan ke-63, tapi juga akan mendapatkan bonus sebesar Rp1 miliar.
Lawan mereka adalah pasangan nomor tiga dunia, Cai Yun/Fu Haifeng. Rekor pertemuan mereka adalah tiga sama. Terakhir bertemu di Hong Kong Super Series 2007, Markis/Hendra kalah. Fu Haifeng juga adalah pemegang rekor smes bulutangkis tercepat di dunia – 332 km/jam yang diluncurkannya tiga tahun lalu.
Tentu saja catatan di atas sudah membuat suporter Indonesia cukup deg-degan. Apalagi Fu/Cai memiliki keuntungan dalam hal pendukung karena dilangsungkan di negara mereka sendiri.
Set pertama berlangsung begitu saja, seakan hampir tanpa perlawanan sengit dari Markis/Hendra yang kalah 12-21. Di set kedua, gantian Markis/Hendra yang membungkam Fu/Cai, 21-11.
Set ketigalah yang membuat pertandingan ini menegangkan karena kedua perguliran angka berjalan sangat lambat dan menekan. Walaupun pasangan Indonesia memegang pimpinan, tetapi Fu/Cai tidak terlihat patah semangat sedikit pun. Ketika Markis/Hendra mencapai angka 20-12, Fu/Cai malah panen empat angka menjadi 20-16 sebelum partai tersebut tutup tirai setelah skor 21 diguratkan Markis/Hendra.
Tim pelatih Indonesia pun langsung menghambur ke lapangan dan menimpa kedua pemain ini.
“Kami mempersembahkan kemenangan ini bagi Republik Indonesia yang berulang tahun ke-63 besok (Minggu),” kata Markis Kido usai pertandingan.
Medali emas mereka rebut dengan keringat darah. Dan medali itu tidak hanya menjadi hadiah bagi Indonesia yang berulang tahun ke 63 besok, tetapi juga menjadi kado terindah bagi Markis yang berulang tahun tanggal 11 Agustus kemarin, dan Hendra yang berulang tahun tanggal 25 Agustus nanti.
Terima kasih, Markis/Hendra, atas perjuangan dan hadiah terindahnya.
Batal All-Indonesian Final
Harapan untuk all-Indonesian final di partai ganda campuran pupus sudah setelah Flandy Limpele/Vita Marissa kalah dari pasangan Korea, Lee Yong Dae/Lee Hyo Jung, 9-21, 21-12, 17-21.
Walaupun terlihat bahwa secara level permainan, Flandy/Vita berada di atas Lee/Lee, tetapi Lee/Lee “beruntung” karena merasakan second wind dimana Lee Hyo Jung yang sebelumnya sudah terlihat sangat habis stamina dan sudah kewalahan, tiba-tiba seperti mendapat tenaga dan kekuatan baru untuk berjuang.
Kebangkitan kembali Hyo Jung sangat membantu Yong Dae yang dari sananya memang adalah pemain muda berbakat. Yong Dae yang sebelumnya banyak harus meng-cover Hyo Jung akhirnya dapat kembali fokus pada dirinya sendiri. Formasi pasangan Korea ini pun kembali solid – mereka memakai formasi dominan sisi-sisi (side by side).
Sebaliknya, formasi dominan Flandy/Vita yang merupakan formasi depan-belakang membuat lapangan mereka sering kosong di satu sisi – makanan empuk bagi Yong Dae yang agresif dan cepat menyambar pengembalian bola lawan.
Batal all-Indonesian final, besok Flandy/Vita masih tetap harus berjuang untuk merebut perunggu. Jika besok Flandy/Vita menang, maka tim tuan rumah akan nihil dengan medali dari sektor ganda campuran.
Satu-satunya pasangan tuan rumah yang tersisa, yakni He Hanbin/Yu Yang hari ini terjungkal sudah dari Nova Widianto/Lilyana Natsir lewat pertandingan yang luar biasa menegangkan, 15-21, 21-11, 23-21 selama 69 menit.
Besok adalah hari terakhir perhitungan medali untuk Indonesia di cabang bulutangkis. Mari kita sama-sama berharap para pejuang kita akan melakukan penampilan terbaik pada hari kemerdekaan bangsa kita.
Jadwal Tanding Atlit Indonesia, Minggu, 17 Agustus 2008
17:30 Perebutan medali perunggu: Flandy/Vita vs He Hanbin/Yu Yang (CHN/4)
18:30 Perebutan medali emas: Nova/Lilyana vs Lee Yong Dae/Lee Hyo Jung (KOR)
30 comments 16 Agustus 2008
Maria Persembahkan Perunggu bagi Indonesia!

Hadiah ulang tahun terindah dari Maria bagi Ibu Pertiwi
Beijing, 16 Agustus 2008 – Akhirnya harapan pelatih tunggal putri Indonesia, Hendrawan, terhadap Maria untuk merebut medali di Olimpiade Beijing pun terbayar sudah. Walaupun tidak bisa masuk final, tetapi Maria Kristin Yulianti berhasil menggagalkan rencana Tiongkok untuk merebut semua medali dari cabang tunggal putri. Maria merebut perunggu lewat rubber set dan memberikan hadiah ulang tahun mengharukan bagi Indonesia tercinta.
Kalah di set pertama 11-21, Maria tetap bermain tenang dan tidak terbawa emosi. Di set kedua, dia berhasil melepaskan diri dari tekanan setelah angka terus berkejaran sampai 7-6 untuk Maria. Setelah itu Maria pun melesat jauh sampai 14-6. Setelah itu Maria pun tak terbendung lagi. Set kedua ditutup Maria 21-13.
Di rubber set, Maria sempat ketinggalan 0-3 sebelum membalasnya dengan borongan delapan angka sekaligus! Disinilah terlihat mental Lu Lan, unggulan ketiga asal Tiongkok itu mulai goyah. Lu Lan berusaha untuk mengejar, tetapi Maria terus berlari maju tanpa henti.
Begitu di angka 18-8, Indonesia pun mulai bersorak – perbedaan angka itu terlalu jauh untuk dikejar. Tetapi kemudian terjadilah sindrom itu – sindrom angka kritis. Lu Lan mengejar sampai 18-12, dan Indonesia pun kembali terhenyak, menambah menjadi 19-12, Lu Lan kembali menambah tiga angka menjadi 19-15.
Untunglah Maria segera “bangun dari mimpinya.” Dia kembali berjuang mati-matian.
20-15 lalu 21-15! Dan Indonesia pun merebut medali perunggu dari atlitnya yang tidak diunggulkan dan “hanya” menempati peringkat 20-an dunia!
Kuda hitam itu pun menghenyakkan dunia. Susi Susanti yang baru telah lahir. Memang belum sampai pada taraf tersebut, tetapi Maria membuktikan bahwa perkembangannya menuju ke prestasi gemilang seperti yang diperlihatkan Susi dahulu kala.
Selamat Maria. Kamu layak mengalungi medali tersebut.
20 comments 16 Agustus 2008
Maria Terjungkal, Ganda Harapan Terakhir
Beijing, 15 Agustus 2008 – Harapan atlit tunggal putri Indonesia, Maria Kristin Yulianti untuk masuk final di Olimpiade Beijing akhirnya pupus hari ini setelah Zhang Ning menundukkan Maria 21-15, 21-15. Satu-satunya pemain non-unggulan ini akan berebut medali perunggu dengan atlit tunggal putri Tiongkok termuda di Olimpiade ini.
“Saya sering emosional sehingga seringkali pula membuat kesalahan, yang berakibat permainan tidak berkembang dengan baik,” kata Maria Kristin kepada pers mengomentari permainannya, di Beijing University of Technology Gymnasium, Jumat. “Emosi ketika melakukan pertandingan saya masih perlu diperbaiki dan diharapkan akan membaik dalam kesempatan mendatang.”
Pertandingan sebenarnya berjalan cukup alot selama 42 menit dan Maria bahkan dapat mengimbangi permainan Zhang Ning dan angka pun berkejaran di kedua set. Tetapi memang sayang, Zhang Ning cukup sering mendapat “bonus” nilai dari kesalahan Maria sendiri.
Tetapi menjadi semifinalis di pesta olahraga dunia ini tentunya sudah menjadi guratan prestasi tersendiri. Maria yang tidak diunggulkan dan “hanya” berada di peringkat 21 dunia dapat bersanding dengan peringkat 1, 2, dan 7 dunia. Lagipula Maria masih memiliki peluang untuk merebut medali perunggu besok pagi.
“Saya berharap bisa bermain lebih bagus sehingga bisa meraih perunggu,” ujar Maria. Dia akan berhadapan dengan Lu Lan, unggulan ketiga. “Lan Lu juga masih suka emosi ketika bertanding. Semoga saya bisa mengambil kesempatan dari situ.”
Final tunggal putri kali ini kembali menjadi final klasik di partai ini, yakni, antara Xie Xingfang dan Zhang Ning. Kedua “musuh bebuyutan” ini telah bertemu 22 kali dan memiliki skor berimbang 11-11.
Ganda Harapan Terakhir
Walaupun Indonesia harus bersedih karena Maria batal masuk final, tetapi harapan emas masih terbentang di depan dengan lolosnya Markis Kido/Hendra Setiawan ke final setelah mengalahkan Lars Paaske/Jonas Rasmussen (Denmark), 21-19, 21-17. Markis/Hendra selanjutnya akan berhadapan dengan ganda tuan rumah, Cai Yun/Fu Haifeng yang hari ini menumbangkan pasangan Korea, Lee Jae Jin/Hwang Ji Man.
Jika besok Nova Widianto/Lilyana Natsir dan Flandy Limpele/Vita Marissa dari partai ganda campuran sama-sama menang, maka akan terjadi all Indonesian final dimana dengan demikian dipastikan Indonesia akan mendapat satu emas dan satu perak.
Mempertahankan tradisi medali emas Olimpiade Indonesia saat ini hanya tinggal sepelemparan batu. Tentu saja kita berharap yang terbaik, bahwa Indonesia akan mendulang dua emas, satu perak, dan satu perunggu dari cabang olahraga ini.
15 comments 15 Agustus 2008
Sony Terhenti, Indonesia Harapkan Emas dari Ganda

Beijing, 14 Agustus 2008 – Hari ini akhirnya sepak terjang Sony Dwi Kuncoro di Olimpiade Beijing terhenti setelah kalah dua set langsung, 9-21, 11-21, dari unggulan kedua asal negeri jiran, Lee Chong Wei. Permainan Sony tidak berkembang dan seakan menabrak tembok besar nan kokoh. Dengan demikian, harapan Indonesia untuk meneruskan tradisi emas olimpiade dari cabang bulutangkis bertumpu pada tiga pasang ganda tersisa di campuran dan putra.
“Saya sering membuat kesalahan, seperti ragu-ragu dalam menempatkan bola, sehingga bolanya nanggung dan mudah di smes,” kata Sony kepada pers, seusai pertandingan yang digelar di Beijing University of Technology Gymnasium, Kamis. “Penempatan bola-bolanya [Chong Wei – red] bagus, akurat dan cepat, serta sulit di tebak dan keras.”
Prestasi Chong Wei memang konsisten selama setahun belakangan ini. Dari empat kali pertemuannya dengan Sony tahun lalu, Chong Wei menang tiga di antaranya. Selama tahun 2007 sampai 2008, Chong Wei merebut enam gelar juara dan memiliki persentase 55% kemungkinan masuk semifinal. Persentase tersebut tergolong sangat tinggi, apalagi jika dibandingkan dengan persentase Sony yang “hanya” 19% untuk kategori yang sama dalam periode yang sama.
Yang menarik adalah bahwa Chong Wei besok bertemu dengan Lee Hyun Il dari Korea – pemain yang diperkirakan akan terhenti langkahnya hari ini oleh unggulan ketiga asal tuan rumah, Bao Chunlai. Selayaknya Maria Kristin di tunggal putri, Hyun Il adalah kuda hitam di partai tunggal putra kali ini. Selain Chunlai, Hyun Il juga sukses menjegal unggulan kelima dari Denmark, Kenneth Jonassen, di babak awal – 32 besar.
Besok akan kita lihat apakah si kuda hitam dari negeri ginseng ini akan kembali melakukan kejutan.
Partai Ganda, Partai Harapan
Dan di olimpiade kali ini, partai ganda menjadi partai andalan Indonesia untuk merebut medali emas. Setelah kemenangan gemilang Nova Widianto/Lilyana Natsir atas andalan Thailand, Sudket Prapakamol/Saralee Thoungthongkam, Indonesia juga dipastikan mendapat kursi semifinal ganda campuran lainnya dari kemenangan Flandy Limpele/Vita Marissa atas Thomas Laybourn/Kamilla Rytter-Juhl.
Pertandingan antara Flandy/Vita melawan pasangan Denmark berlangsung sangat seru dan menegangkan. Dengan trademark “lambat panas”, Flandy/Vita ketinggalan jauh 6-11 di set pertama. Tetapi tiba-tiba mereka berlari kencang dan menutup set pertama 21-17.
Set kedua kembali terjadi hal sama. Indonesia tertinggal 2-7. Para pendukung merah-putih pun tidak terlalu “jantungan” karena merasa di set pertama pun terjadi hal demikian dan toh berhasil menyusul. Memang berhasil disusul 11-11, tetapi kemudian Flandy/Vita seret di angka 14. Dari memimpin 14-12, akhirnya tertinggal 14-18, dan kalah 15-21.
Di set penentuan, Denmark melakukan pertahanan luar biasa. Kedua pasangan menenun 5 skor pertama mereka dengan peluh deras dan reli-reli panjang yang menegangkan sebelum akhirnya Indonesia berhasil lepas dari tekanan dan melesat jauh 15-5.
Ketika para pendukung merah-putih sudah mulai merasa lega karena skor Flandy/Vita sudah 20-11, pasangan ini kembali membuat jantungan para suporter karena Denmark tiba-tiba memborong enam angka sekaligus menjadi 20-17. Tiba-tiba pemikiran “aman” pun berubah menjadi ketakutan akan terjadi deuce.
Untunglah sindrom skor 20 ini akhirnya selesai di angka 21-17 dan Indonesia pun memastikan perolehan medali dari partai ganda campuran di pesta olahraga internasional ini.
Tentu saja diharapkan final ganda campuran hari Minggu akan terjadi antara kedua pasangan merah-putih ini. Tetapi sebelum itu, Nova/Lilyana harus melangkahi He Hanbin/Yu Yang (CHN/4) dahulu, sedangkan Flandy/Vita melewati Lee Yong Dae/Lee Hyo Jung (Korea).
(CAW/ANT)
Jadwal Tanding Atlit Indonesia Jumat, 15 Agustus 2008 (WIB)
09:00 Markis Kido/Hendra Setiawan vs Jonas Rasmussen/Lars Paaske (DEN)
11:00 Maris Kristin Yulianti vs Zhang Ning (CHN/2)
12 comments 14 Agustus 2008
Markis/Hendra Susul Maria ke Semifinal

Kali Pertama Markis/Hendra Menang atas Koo/Tan
Beijing, 13 Agustus 2008 – Ganda putra nomor satu Indonesia, Markis Kido/Hendra Setiawan sekali lagi mengukuhkan posisinya sebagai pasangan terbaik dunia dengan menyisihkan Koo Kien Keat/Tan Boon Heong (Malaysia) dengan dua set langsung, 21-16, 21-18. Inilah kali pertama, Markis/Hendra menang atas Koo/Tan setelah kekalahan beruntun empat kali di semua pertemuan mereka sebelumnya.
Tahun lalu, kedua pasangan bertemu di empat turnamen papan atas, termasuk Indonesia Terbuka. Sayang, di semua kesempatan tersebut, Markis/Hendra tidak pernah sukses melampaui pasangan Malaysia yang penuh sensasi ini.
Pertemuan mereka hari ini tentunya ditunggu oleh banyak kalangan karena hasilnya tidak mudah diketahui. Walaupun selalu kalah sebelumnya, tetapi prestasi Koo/Tan tergelincir belakangan ini, terutama setelah pelatih ganda Malaysia, Rexy Mainaky melarang Koo untuk mengikuti beberapa pertandingan karena arogansi Koo.
Kemenangan gemilang ini tentunya menjadi dorongan positif tersendiri bagi Markis/Hendra yang keduanya berulang tahun bulan ini. Lusa mereka akan bertemu dengan Lars Paaske/Jonas Rasmussen (Denmark) yang bergulat hebat dengan pasangan Polandia, Michal Logosz/Robert Mateusiak lewat tiga set, 17-21, 21-11, 21-15.
Dengan demikian Indonesia telah memiliki dua wakil di semifinal, yakni di ganda putra atas nama Markis/Hendra dan di tunggal putri atas nama Maria Kristin Yulianti.
Tiga wakil lainnya besok akan bertanding untuk menambah jatah Indonesia di kursi semifinal. Mereka adalah dua pasang ganda campuran, Nova Widianto/Lilyana Natsir dan Flandy Limpele/Vita Marissa, serta atlit tunggal putra, Sony Dwi Kuncoro.
Jadwal Tanding Atlit Indonesia Besok, Kamis, 14 Agustus 2008
10:30 Sony Dwi Kuncoro vs Lee Chong Wei (MAS/2)
11:15 Nova/Lilyana vs Sudket Prapakamol/Saralee Thoungthongkam (THA)
19:45 Flandy/Vita vs Thomas Laybourn/Kamilla Rytter-Juhl (DEN)
5 comments 13 Agustus 2008