Archive for Juli, 2008

Jelang Olimpiade, Taufik Sakit DB

Menjelang hebohnya Olimpiade Beijing yang akan dibuka tanggal 8 Agustus 2008 mendatang, atlit tunggal putra Indonesia, Taufik Hidayat jatuh sakit. Demam 39 derajat Celcius membuatnya harus diboyong ke Rumah Sakit Pondok Indah hari Selasa, 22 Juli lalu. Setelah masa inkubasi 3-5 hari, tim dokter menyatakan bahwa Taufik positif terkena demam berdarah.

“Taufik positif terkena demam berdarah, trombositnya rendah,” jelas Wakil Kepala Biro Media dan Humas Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Firmansyah Gindo, Jumat (25/7) di Jakarta.

PBSI dan KONI pun langsung bertemu untuk mendiskusikan keikutsertaan Taufik di Olimpiade. Tentu saja ini pilihan sulit karena Olimpiade akan dimulai dalam waktu 11 hari, sedangkan selama masa itu, belum tentu Taufik telah pulih total. Apalagi tim bulutangkis merah-putih akan bertolak dari Jakarta tanggal 4 Agustus; satu minggu dari sekarang.

Taufik sendiri tentunya secara pribadi memiliki keinginan untuk memeprtahankan gelar Juara Olimpiadenya yang direbut empat tahun lalu di Athena.

Jadi, apakah Taufik akan ke Beijing?

Kita doakan saja bersama-sama bahwa dia akan cepat sembuh, pulih, dan semoga pada tanggal 9 Agustus ketika bulutangkis mulai dipertandingkan, dia sudah kembali menjadi Super Taufik.

Cepat sembuh ya, Fik!

Foto: Taufik dirawat di Rumah Sakit menjelang Olimpiade Beijing (Erly Bahtiar/BOLA)

Update: 29 July 2008

Taufik sudah mulai berlatih kembali di pelatnas. Walaupun sempat mencemaskan karena trombositnya turun dan didakwa terkena demam berdarah (DB) tetapi kemarin trombositnya sudah naik lagi, karenanya Taufik sudah dapat kembali berlatih untuk mempertahankan gelar supremasinya di Beijing nanti.

Taufik memastikan bahwa dirinya akan tetap berangkat ke Beijing.

2 comments 28 Juli 2008

Ranking Atlit Indonesia (24 Juli 2008)

Tunggal Putra

5. Sony Dwi Kuncoro
7. Simon Santoso (8) +
9. Taufik Hidayat (7) -
31. Andre Kurniawan Tedjono (33) +
52. Tommy Sugiarto (46) -
57. Alamsyah Yunus (79) + + + +
62. Ari Yuli Wahyu Hartanto (55) – -

Kali ini Simon berhasil melangkahi sang senior, Taufik Hidayat dengan mengambil alih peringkat Taufik bulan lalu. Walaupun Simon belum berhasil merebut gelar bergengsi apa pun, tetapi kiprahnya mulai patut diperhitungkan oleh para atlit papan atas dari seluruh dunia. Yang perlu diperhatikan lebih serius adalah gap yang ada antara lapis pertama dan kedua pelatnas (Tommy dan Alam). Diharapkan perkembangan pesat Alam dapat terus konsisten; dan semoga ini juga dapat menjadi cambuk persaingan positif bagi Tommy untuk mmpercepat larinya guna menjadi pelapis mumpuni dari Sony dan Simon dalam waktu dekat.

Tunggal Putri

21. Maria Kristin Yulianti (23) +
33. Adriyanti Firdasari (29) -
39. Maria Elfira Christina (47) + +
67. Pia Zebadiah Bernadet (60) – -
84. Fransisca Ratnasari (92) + +
94. Maria Febe Kusumastuti (91) -
98. Sylvinna Kurniawan (97) -

Fransisca Ratnasari kembali terlihat pergulatannya setelah sempat vakum beberapa lama. “Kembalinya” Nana tentunya akan semakin memperkuat tim meratunggal putri merah-putih. Apalagi Elfira juga memperlihatkan perkembangan yang positif, dan bahkan dia sekarang berada di level yang sama dengan Firda dan Pia.

Ganda Putra

1. Markis Kido/Hendra Setiawan
8. Tony Gunawan/Candra Wijaya (7) -
9. Luluk Hadiyanto/Alvent Yulianto (8) -
18. Yonatan Suryatama Dasuki/Rian Sukmawan (20) +
19. Hendra Gunawan/Joko Riyadi
27. Fran Kurniawan/Rendra Wijaya (30) +
44. Muhammad Ahsan/Bona Septano (47) +
70. Wifqi Windarto/Afiat Yuris Wirawan (67) -
73. Fernando Kurniawan/Lingga Lie (79) +
85. Albert Saputra Yanu/Rizky Kresnayadi (86) +
100. Syarif Syahmie Radhitian/Chrisna Adi Wijaya (NEW!)

Selamat datang kepada pasangan muda merah-putih yang semakin memperkuat pasukan ganda putra kita. Pada lapis pertama ktia maklumi “kemerosotan” dalam rangking, karena setelah Indonesia Open, mereka istirahat dari turnamen dan berfokus pada pelatihan untuk Olimpiade Beijing (kecuali Tony/Candra). Hendra/Joko juga perlu disorot karena walaupun umur seangkatan dengan Markis/Hendra, tetapi mereka terasa mentok dan bahkan tersalip oleh Rian/Yonatan yang sejak awal tahun tidak berhenti menoreh prestasi, meningkatkan peringkat mereka.

Ganda Putri

7. Lilyana Natsir/Vita Marissa (6) -
16. Jo Novita/Greysia Polii (14) -
20. Rani Mundiastuti/Endang Nursugianti
22. Shendy Puspa Irawati/Meiliana Jauhari (24) +
28. Nitya Krishinda Maheswari/Lita Nurlita
49. Nathalia Christine Poluakan/Yulianti (53) +
67. Nadya Melati/Devi Tika Permatasari (80) + + +
95. Dewi Komala/Debby Susanto (NEW!)

Sepertinya pelatnas perlu sedikit putar otak bagaimana caranya agar Rani dan Endang dapat lebih berprestasi. Stagnasi mereka terlihat dari tahun lalu ketika mereka menjadi ganda putri pertama Indonesia karena Jo/Grace saat itu sedang diistirahatkan karena Jo baru pulih dari cedera dan belum sepenuhnya kembali ke form awal, dan Vita/Butet juga peringkatnya masih ‘ngambang’. Sedangkan mereka sekarang bukannya semakin naik tetapi semakin turun, bahkan terselip oleh Vita/Butet dan Jo/Grace. Mungkin itu sebabnya pelatnas mencoba peruntungan dengan memasangkan Endang dengan Anggun Nugroho di ganda campuran – yang bisa berbuah baik atau buruk, kita masih belum tahu. Yang pasti, dengan umur Endang/Rani yang sudah tidak remaja lagi, masing-masing dari mereka juga harus mulai putar otak.

Ganda Campuran

1. Nova Widianto/Lilyana Natsir
3. Flandy Limpele/Vita Marissa (4) +
20. Muhammad Rijal/Greysia Polii
26. Devin Lahardi Fitriawan/Lita Nurlita (23) -
34. Fran Kurniawan/Shendy Puspa Irawaty (35) +
42. Tantowi Akhmad/Yulianti (41) -
84. Rendra Wijaya/Meiliana Jauhari (95) + +
91. Anggun Nugroho/Endang Nursugianti (96) +

Rendra/Meiliana melesat super cepat. Keduanya “tancap gas” tidak hanya di partai campuran, tetapi juga di ganda putra dan putri dimana mereka juga turut turun lapangan. Dalam waktu kurang lebih dua tahun mendatang, seharusnya mereka sudah akan menjadi salah satu tombak tajam di turnamen papan atas.

17 comments 28 Juli 2008

Confirmed, TVRI Tayangkan Olimpiade Beijing 2008

http://www.mascotas.org/wp-content/uploads/2008-olympic.jpg

Indonesia akhirnya boleh berlega dan bersenang hati karena TVRI telah mengumumkan bahwa Olimpiade Beijing akan ditayangkan di stasiun TV milik pemerintah tersebut. Inilah bukti komitmen TVRI yang tahun lalu mengatakan bahwa dirinya akan mencari mitra untuk dapat menyiarkan perjuangan anak bangsa tersebut. Perjanjian penyiaran program Olimpiade yang dilakukan antara TVRI dengan Asian Broadcasting Union (ABU) itu telah dilakukan kemarin, Selasa, 15 Juli 2008.

“Bagus sekali. Semoga seluruh negeri menonton dan dapat memberikan dukungan moril kepada kami semua saat bertanding,” ujar atlit bulutangkis ganda putra, Markis Kido setelah mendengar berita ditayangkannya ajang Olimpiade di layar kaca masyarakat Indonesia.

Tidak hanya Markis yang senang. Atlit olimpiade lainnya, Suryo Agung Wibowo yang akan berlaga di atas jalur lari atletik juga senang karena keluarganya akan dapat menonton perjuangannya di Beijing. Suryo merebut medali emas di SEA Games tahun lalu di nomor 100 dan 200 meter.

TVRI akan menayangkan total 132 jam siaran, di antaranya siaran langsung pagi, siang dan sore, ditambah dengan jurnal olimpiade pada malam harinya. Total lima personil TVRI dikirim ke Beijing untuk keperluan peliputan langsung. TVRI juga akan menyiarkan langsung upacara pembukaan dan penutupan Olimpiade Beijing.

“Upacara pembukaan akan disiarkan 8 Agustus pukul 19.30-22.30 WIB,” ujar Yon Anwar, Direktur Program dan Berita, TVRI.

Inilah happy ending dari drama “Olimpiade: Tayang atau Tidak Tayang” yang berlangsung selama beberapa minggu belakangan ini.

Indonesia mengirim total 24 atlit yang berlaga di tujuh cabang olahraga di Olimpiade Beijing – 11 di antaranya atlit bulutangkis – yang akan berlangsung tanggal 8-24 Agustus mendatang. Dan Indonesia akan dapat mengikuti perjuangan atlit pembawa sang saka merah putih!

Semangat! Pejuang merah-putih!

97 comments 16 Juli 2008

Dukung Tim Indonesia di Olimpiade

Olimpiade semakin dekat…
8 Agustus itu akan segera menyapa kita…

Kurang dari sebulan…
Atlit kita akan berlaga…
Menguras peluh…
Demi Indonesia tercinta…

Dan dengan segala doa kami panjatkan
Untuk kesehatan dan kebugaran terbaik
Bagi kalian semua, atlit merah-putih
Raih yang terbaik yang kalian bisa

Atlit Bulutangkis yang Berlaga

Indonesia's Sony Dwi Kuncoro hits a return to Singapore's Ronald Susilo during their men's singles match at the Djarum Indonesia Super Series 2008 badminton championships in Jakarta June 20, 2008. From Reuters Pictures by REUTERS. Indonesia's Taufik Hidayat reaches for the shuttlecock against Vietnam's Tien Minh Nguyen during their badminton men's semifinal match at the 24th Southeast Asian Games (SEA Games) in Korat, 13 December 2007. From Getty Images by AFP/Getty Images.

Indonesia's Maria Kristin plays a shot against Hongkong's Yip Pui Yin during their quarterfinal at the Uber Cup badminton championships in Jakarta May 14, 2008. From Reuters Pictures by REUTERS.

Indonesia's mens doubles pair Markis Kido (L) and Hendra Setiawan return a shot against doubles pair Indonesian Candra Wijaya and US shuttler Tony Gunawan during their semifinals match at the Malaysia Open badminton tournament in Kuala Lumpur, 19 January 2008. The Indonesian pair won 21-11, 21-17. From Getty Images by AFP/Getty Images. Indonesia's Alvent Chandra (R) and Luluk Hadiyanto compete against their compatriots Markis Kido and Hendra Setiawan during their men's double semi-finals match of the Japan Open badminton tournament in Tokyo September 15, 2007.    REUTERS/Kim Kyung-Hoon From Reuters Pictures by REUTERS. Indonesia's Vita Marissa, left, and Liliyana Natsir show their prize check after the women's doubles final of Djarum Indonesia Open badminton championship at Istora stadium in Jakarta, Indonesia, Sunday, June 22, 2008. The Indonesian team defeated Chinese teams 21-15, 21-14. From AP Photo by Achmad Ibrahim. Indonesia's Nova Widianto (top) and Lilyana Natsir return a shot against China's Zheng Bo and Gao Ling during their mixed doubles final match at the Japan Open Super Series badminton tournament in Tokyo September 16, 2007.    REUTERS/Kim Kyung-Hoon From Reuters Pictures by REUTERS. Indonesia's mixed doubles pair Vita Marissa (bottom) and Flandy Limpele eyes the shuttle during their quarterfinals match against England's Gail Emms and Nathan Robertson at the World Badminton Championships in Kuala Lumpur, 17 August 2007. The Indonesian pair won 21-13, 21-16 From Getty Images by AFP/Getty Images.

(Tunggal Putra) Sony Dwi Kuncoro, Taufik Hidayat; (Tunggal Putri) Maria Kristin Yulianti; (Ganda Putra) Markis Kido / Hendra Setiawan, Luluk Hadiyanto / Alvent Yulianto; (Ganda Putri) Lilyana Natsir / Vita Marissa; (Ganda Campuran) Nova Widianto / Lilyana Natsir, Flandy Limpele / Vita Marissa.

Dan inilah dukungan kami …

“…semangat yah di Olimpiade!” (Anzchi)

“Aku doain biar bisa menang dan sukses di Olimpiade Beijing” (Lia, Chevy)

“Salam buat atlet Indonesia yang mau berjuang di Olimpiade Beijing. Semangat dan pantang menyerah!” (Aprilia)

“…buat semuanya yang main di Olimpiade, jangan mau kalah!” (Puput)

“Ayo kalahin China di Olimpiade Beijing!” (Zha)

“Olimpiade Beijing menunggumu…kami semua pasti mendukungmu…jangan lupa untuk berlatih sebaik-baiknya..chayo!” (Yanna CT)

“Jadi makin jatuh cinta aja nih sama para atlit bulutangkis negri kita. Terus berjuang di Olimpiade 2008 ya! INDONESIA BISA!” (Eno)

“Sony, tetap bersemangat…yakinkan dirimu kalau kamu pasti bisa melewati Olimpiade tersebut dengan baik.” (Nanda)

“Kak Maria…semoga di Olimpiade Beijing 2008 kakak bisa dapat medali emas untuk Indonesia…GOOD LUCK!!!” (Salma, Ethy)

“…aku akan doa supaya Kido sama Hendra menang di Olimpiade Beijing…” (Wiwied) “Salam buat Vita/Butet…semoga bisa dapat medali emas di Olimpiade Beijing…di sektor ganda maupun campuran” (Tiffany)

“…Semoga menang di Olimpiade Beijing…aku pasti dukung Kak Butet dan pemain Indonesia yang lain…” (Rohma)

(Komentar dari mereka yang mengirim dukungannya lewat blog ini)

BERJUANGLAH INDONESIA!

http://www.guardianfx.com/flags2/australasia/id-flag1.gif

33 comments 10 Juli 2008

Olimpiade vs PON dan Siaran TV

http://www.mascotas.org/wp-content/uploads/2008-olympic.jpg

Atlit bulutangkis yang akan berlaga di Olimpiade Beijing 2008 ternyata diminta khusus oleh KONI (Komite Olahraga Nasional Indonesia) untuk tidak turut bertanding di Pekan Olahraga Nasional (PON) yang sedang berlangsung di Samarinda. KONI tidak ingin mereka sampai cedera sebelum Olimpiade.

“Nomor satukan kepentingan negara di atas kepentingan provinsi,” ujar Mimi Irawan dari PBSI.

Memang atlit Olimpiade kita lebih baik beristirahat. Banyak dari mereka yang mengalami cedera, dari tingkat ringan sampai serius. Di Indonesia Open kemarin, terlihat Vita Marissa (atlit ganda putri dan campuran) “berplester” panjang di bagian betis kanannya. Maria Kristin juga menahan sakit dari cedera di lututnya. Sony pun memiliki sejarah kelam cedera pinggang yang membuatnya harus puasa tanding pada tahun 2006.

Tidak heran jika KONI meminta mereka secara resmi untuk absen dari PON yang baru berakhir tanggal 17 Juli, karena mereka sudah harus terbang ke Beijing tanggal 25 Juli.

“Kalau sampai cedera di PON, tidak cukup waktu untuk pemulihan,” tambah Mimi.

Mereka yang absen membela provinsinya untuk kepentingan negara adalah Taufik Hidayat, Sony Dwi Kuncoro, Maria Kristin Yulianti, Nova Widinato, Lilyana Natsir, Flandy Limpele, Vita Marissa, Markis Kido, Hendra Setiawan, Luluk Hadiyanto, dan Alvent Yulianto.

Seputar Cabor Bulutangkis di Olimpiade

Di Olimpiade sebelumnya, jumlah negara yang ikut cabor ini “hanya” 33 negara. Tapi tahun ini jumlahnya melonjak menjadi 50 negara. Inilah bukti bahwa bulutangkis mulai mendunia. Jika dulu hanya terpusat di beberapa kantong di Asia dan Eropa, sekarang kiprahnya sudah merambah ke banyak negara lainnya, termasuk benua Afrika.

Undian untuk cabor bulutangkis di Olimpiade Beijing nanti akan dilakukan pada tanggal 26 Juli 2008 – maju dari rencana sebelumnya, 4 Agustus 2008. Satu negara hanya boleh mengirim maksimum dua wakil per partai, dengan catatan kedua wakil berada di peringkat yang terkualifikasi untuk Olimpiade. Pengecualian diberikan kepada negara yang di satu partai memiliki lebih dari dua atlit yang berada di peringkat LIMA BESAR. Negara tersebut boleh mengirim tiga wakil yang berada di lima besar tersebut.

Dan negara “pengecualian” tersebut adalah Tiongkok. Dari total maksimum 10 kursi per negara di lima partai, Tiongkok berhasil mendapat 13 kursi – tiga kursi tambahan dari tunggal putra dan putri serta ganda putri. Total di lima partai, Tiongkok memiliki 13 wakil. Bandingkan dengan Indonesia (8 wakil di 5 partai), Malaysia (6 wakil di 4 partai), Korea (9 wakil di 5 partai), Denmark (7 wakil di 5 partai), dan Inggris (5 wakil di 4 partai).

Inilah juga fakta yang perlu diperhatikan baik oleh para atlit kita supaya mereka lebih fokus dan berkonsentrasi untuk hasil terindah bagi Ibu Pertiwi – salah satunya dengan harus melewatkan PON.

Ayo Indonesia bisa!

http://www.guardianfx.com/flags2/australasia/id-flag1.gif

Dilema TV Lokal

Sayangnya, ada kemungkinan aksi atlit kita di Olimpiade tidak akan terlihat di layar kaca kita di rumah. Pasalnya, bayaran hak siarnya terlalu mahal dan menurut stasiun TV kita, sulit mencari sponsor.

“Kita sempat ditegur International Olympics Committee (IOC) karena tidak menyiarkan Olimpiade Athena 2004,” ujar Rosihan Arsyad, Sekretaris Jenderal KONI. “Bukan tidak mungkin kritik lebih keras akan datang jika lagi-lagi tidak disiarkan.”

KONI sudah menawarkannya kepada TV-TV lokal, tetapi ditolak karena harga mahal. Irwan Hendramin dari RCTI sendirim engatakan bahwa harga siar Rp 15 miliar itu tidak masuk akal apalagi dengan rating olahraga yang masih rendah di Indonesia.

Lah, Bung, bagaimana masyarakatnya akan semakin bersemangat dengan olahraga (dan rating olahraga mau naik) kalau media massanya juga tidak menayangkan?

Lah, Bung, kalau bilang rating olahraga rendah, kok kemarin Piala Eropa bisa hebohnya begitu? Atau jangan-jangan Piala Eropa tidak masuk kategori siaran olahraga?

Dan benarkah tidak ada sponsor yang tertarik? Mengingat bulutangkis sekarang lagi sangat populer dan bahkan para atlitnya sudah mulai seperti selebritis?

Lah?

25 comments 7 Juli 2008

Tan Joe Hok Difilmkan

Nama ini pasti tidak asing lagi di telinga para pecinta dan pengamat bulutangkis. Riwayat hidup kelahiran Bandung, 71 tahun silam ini rencananya akan naik ke layar lebar tahun depan pada saat Hari Kebangkitan Nasional. Film ini dimaksudkan untuk dapat mengobarkan kembali semangat nasionalisme di tengah masyarakat Indonesia yang mulai terkikis semangat nasionalismenya.

Tan Joe Hok sendiri tidak perlu dipertanyakan nasionalismenya. Dialah putera tanah air pertama yang mengusung Sang Saka untuk pertama kalinya di All England (1959) dan medali emas di Asian Games (1962). Walaupun sempat meninggalkan bangku sekolah untuk serius di bulutangkis, dirinya akhirnya berhasil menjadi sarjana Kimia & Biologi dari Universitas Baylor, Amerika Serikat. Saat itu dia sepenuhnya membiayai pendidikannya sendiri. Bahkan ketika Bung Karno ingin membantunya dengan memberikan cek sebesar US$1.000 (jumlah besar pada saat itu tentunya), Joe Hok dengan halus menolaknya.

Setelah lulus sarjana, ia pulang ke Indonesia dan mendirikan bisnis Pest Control seraya terus turut membangun bulutangkis dalam negeri dengan menjadi pelatih di pelatnas maupun PB Djarum. Beliaulah yang menjadi project manager PB Djarum cabang Jakarta.

Tema bulutangkis dipilih karena sumbangannya yang besar dalam mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional. Dan Joe Hok dipilih karena kontribusinya yang signifikan di dunia ini dan nasionalismenya yang tinggi. Walaupun awalnya beliau sempat sungkan, tetapi akhirnya mengiyakan karena berfikiran film ini dapat bermanfaat bagi banyak orang.

“Tapi saya minta agar film itu tidak menggambarkan saya sebagai seorang pahlawan atau mengkultuskan diri saya,” ujarnya.

Dengan Olivia Zalianty bersama Raden Kholid Ahmad sebagai produser film, serta Salman Aristo sebagai penulis naskah, syuting yang baru akan dimulai Januari 2009 ini diharapkan dapat selesai dan naik tayang pada hari Kebangkitan Nasional. Casting untuk mencari pemeran Joe Hok juga akan dilakukan dalam waktu dekat di pulau Jawa.

“Kami mencari aktor yang bisa bermain bulutangkis atau mungkin pemain bulutangkis yang bisa akting. Pokoknya kami akan mencari yang terbaik untuk berperan sebagai Tan Joe Hok,” ujar Olivia.

Tertarik daftar untuk menjadi Tan Joe Hok?

11 comments 6 Juli 2008

Tonton Bulutangkis dengan Modal Internet

Kita tentunya perlu berterima kasih dengan TransCorp karena mulai cukup aktif menayangkan turnamen bulutangkis (walaupun masih dalam tahap turnamen dalam negeri – bahkan hanya turnamen yang di Jakarta) di layar kaca masyarakat Indonesia. Ini tentunya peningkatan positif dibandingkan dulu ketika turanmen bahkan yang dalam negeri pun tidak disiarkan.

Tetapi bagi mereka yang ingin terus mengikuti jalannya turnamen bulutangkis internasional, tidak dapat bergantung semata pada TV lokal kita – setidaknya tidak untuk saat ini. Dan alternatif yang ada saat ini berada di layar kaca lainnya, yakni layar monitor komputer yang tercolok Internet kecepatan tinggi.

“Nonton Siaran Langsung”

Untuk turnamen-turnamen yang berlangsung di Asia, biasanya akan ada TV lokal atau wilayah di sekitarnya yang menyiarkan langsung. Saat TV lokal kita tidak menyiarkannya, kita bisa menontonnya lewat TV-TV luar negeri tersebut. Yang paling sering menyiarkan di antaranya adalah Astro Sport dan RTM-1 (Malaysia), CCTV 5 dan GDTV atau Guangdong TV (Tiongkok).

Kebanyakan masyarakat Indonesia tidak memiliki akses menonton TV-TV ini. Tapi dengan bertambah baiknya kapasitas dan kecepatan Internet dalam negeri, kita sekarang dapat menikmati nonton langsung lewat Live Streaming.

Live Streaming ini dapat diibaratkan nonton TV langsung (real-time) lewat Internet. Tinggal “setel” masuk ke saluran, misalnya, GDTV, langsung deh bisa nonton.

Yang perlu dilakukan adalah meng-install software untuk Live Streaming tersebut ke dalam komputer Anda yang tercolok Internet cepat. Setelah meng-installnya, Anda dapat melihat daftar (dan mencari) saluran-saluran TV yang tersedia lewat software tersebut. Pilih saluran yang Anda mau, tunggu sebentar untuk software terhubung ke saluran TV tersebut, kemudian tidak lama kemudian akan muncul “TV” mini di layar komputer Anda.

Software yang bisa Anda pakai di antaranya adalah Sopcast dan TVAnts. Anda dapat mengunduhnya lewat situs ini: www.sopcast.com (untuk Sopcast) atau http://tvants.en.softonic.com/download (untuk TVAnts). Perhatian! Software ini bersifat peer-to-peer (alias “sharing” antar pengguna), jadi pastikan antivirus Anda selalu ter-update sebelum Anda mengunduh software Live Streaming ini dan juga selama memakainya.

Perhatian! Untuk menikmati layanan ini Anda membutuhkan koneksi Internet cepat. Kalau tidak, gambar akan terputus-putus atau bahkan tidak muncul sama sekali. Sebagai contoh, saya menggunakan Internet kabel kecepatan 768 kbps (shared), hasilnya walaupun kualitas gambar tidak 100% baik, tetapi pergerakan gambar tidak terganggu.

Untuk RTM-1, seringkali RTM menaruh Live Streaming di websitenya www.rtm.net.my.

Tidak Ada di TV Lokal, Kecepatan Internet tidak Memadai?

Jika kecepatan Internet Anda belum memadai untuk Live Streaming dengan kualitas yang baik, jangan sedih. Anda tetap dapat mengikuti jalannya pertandingan atlit merah-putih di www.tournamentsoftware.com.

Memang bukan “TV”, Anda hanya akan menonton pergerakan angka. Tetapi lebih baik daripada tidak tahu sama sekali. Pergerakan angka ini berlangsung real-time juga, dan bahkan aplikasi Live Scoring terbaru Tournament Software sekarang sudah lebih cantik. Kita dapat melihat statistik, seperti atlit A skornya 15 – enam angka dari clear, tiga angka dari permainan net, lima angka dari smes, dan satu angka dari Other (atau biasanya dari kesalahan lawan). Kita juga bisa menyaksikan kedudukan perkejaran angka kedua belah pihak yang sedang bermain.

Karena ini system web-based atau berbasis Website, Anda dapat lebih bernafas lega karena virus tidak segentayangan seperti layaknya di software peer-to-peer seperti Sopcast dan TVAnts.

Jadi?

Jadi, marilah kita terus dukung atlit merah-putih kita dengan menyaksikan perjuangan mereka di tanah air maupun di luar negeri lewat medium yang dapat kita gunakan!

(Pssst, kalau TV lokal kita tidak bergerak cepat sedangkan Internet semakin memadai di Indonesia, bisa-bisa TV lokal kita kalah pamor dalam hal tontonan bulutangkis!)

10 comments 5 Juli 2008


Kategori Artikel

Artikel Terakhir

Komentar Anda

Agus Tular di TV dan “Masalahnya…
taufik fajar prasety… di Rangking Atlet Indonesia (6 Ag…
zoe di Ahsan, Putra Kebanggaan P…
triyana di Jadwal Turnamen Mei/Juni …
diyah sweet.........… di Atlit Bulutangkis Indonesia: Y…

Kalender

Juli 2008
S S R K J S M
« Jun   Agu »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Bulutangkis

Non-Bulutangkis