Archive for Juni 23rd, 2008

Thailand Open GP Gold 2008

Thailand Open Grand Prix (GP) Gold
Bangkok, Thailand
24-29 Juni 2009

Total Hadiah: US$120.000

Sekilas Berita: Anehnya China, di laga kelas GP Gold mereka malah mengirimkan banyak pemain kelas satunya yang berada di top 10, di antaranya: Lin Dan (#1 dunia), Xie Xingfang (#1 dunia), Lu Lan (#2 dunia), Fu Haifeng/Cai Yun (#3 dunia), Guo Zhendong/Xie Zhongbo (#8 dunia), Yang Wei/Zhang Jiewen (#1 dunia), Du Jing/Yu Yang (#2 dunia), He Hanbin/Yu Yang (#3 dunia), Xie Zhongbo/Zhang Yawen (#5 dunia). Total: 9 wakil di 5 partai.

Sedangkan di Indonesia Super Series, mereka “hanya” mengirim Bao Chunlai (#3 dunia), Zheng Bo/Gao Ling (#2 dunia), Zhu Lin (#4 dunia), Zhang Ning (#7 dunia), dan Zhang Yawen/Wei Yili (#3 dunia). Total hanya 5 wakil di 4 partai.

Apa yang sedang direncanakan China?

DAFTAR ATLIT INDONESIA

Tunggal Putra

1. Alamsyah Yunus

2. Tommy Sugiarto

3. Andre Kurniawan Tedjono

4. Andreas Adityawarman

5. Ari Yuli Wahyu Hartanto

Tunggal Putri

1. Aprillia Yuswandari (Q)

2. Fransisca Ratnasari

3. Maria Elfira Christina

Ganda Putra

1. Devin Lahardi/Anggun Nugroho (Q)

2. Fernando Kurniawan/Lingga Lie

3. Muhammad Ahsan/Bona Septano

4. Fran Kurniawan/Rendra Wijaya

5. Yonatan Surayatama Dasuki/Rian Sukmawan (5)

Ganda Putri

1. Nitya Krishinda Maheswari/Lita Nurlita

2. Nadya Melati/Devi Tika Permatasari

3. Shendy Puspa Irawati/Meiliana Jauhari (8)

4. Nathalia Christine Poluakan/Yulianti

5. Rani Mundiastuti/Endang Nursugianti (6)

Ganda Campuran

1. Rendra Wijaya/Meiliana Jauhari

2. Fran Kurniawan/Shendy Puspa Irawati (7)

3. Tantowi Akhmad/Yulianti

4. Lingga Lie/Devi Tika Permatasari

5. Devin Lahardi/Lita Nurlita

6. Anggun Nugroho/Endang Nursugianti

8 comments 23 Juni 2008

Catatan Pinggir Lapangan Indonesia Open 2008 (2)

http://img62.imageshack.us/img62/4050/14669jo7.jpg

Kucing Pun Pengen Nonton Final IOSS’08

Tidak lupa dengan kehadiran kucing yang juga tidak mau melewatkan serunya final antara … lupa deh. Tiba-tiba ada kucing nyelonong masuk dan nyaris berlari ke dalam lapangan yang sedang tengah bertanding. Untungnya kehadiran si kucing dapat dicegat gesit oleh hakim garis tengah sehingga si kucing tidak sampai masuk ke dalam lapangan. Sekuriti yang berusaha mengejar si kucing pun agak kewalahan karena ternyata si kucing ngumpet di dalam papan segitiga iklan Djarum yang ada di pinggir lapangan. Ketika sekuriti pada ngintip ke dalam segitiganya, ternyata si kucing sudah lolos keluar. Gesit benar sang kucing. Sampai-sampai wakil BWF harus langsung turun tangan untuk mengusir sang kucing…meong!

http://pico.bo.astro.it/~massimo/OABO/images/sorry

Jidat Balas Jidat

Pada pertandingan ganda putri, jidat Lilyana Natsir alias Butet sempat kena cium kok sambaran pasangan Jepang, Miyuki Maeda/Satoko Suetsuna. Butet pun keliyengan dan terduduk sambil mengusap-usap jidatnya. Setelah mulai “sadar” kembali, Butet pun berdiri dan Vita mengambil kok dengan raket dan melayangkannya ke tim Jepang. Tak disengaja, ternyata pemberian kok Vita pun mendarat di jidat Satoko Suetsuna! Sontak Istora ramai dengan gelak tawa – bahkan sang wasit pun terkekeh-kekeh. Pertandingan pun “terhenti” selama kurang lebih 2-3 menit karena kedua pasangan itu saling meminta maaf dan mengatakan bahwa mereka tidak sengaja.

Bao Chunlai Grogi?

Pada semifinal kemarin, entah grogi, entah kurang tidur, entah tidak mendengar teriakan sang announcer, Bao Chunlai masuk dengan gagah ke dalam Istora dan segera menaruh tasnya di lapangan yang salah! Panitia pun langsung berlarian ke arahnya dan “menuntunnya” ke jalan yang benar…

Pendukung Dua Muka

http://www.yonexusa.com/images/badminton/bao_chunlai_full.jpg http://www.badmintonottawa.com/WC-2007-pic/ina_sony_20_bwc07.jpg

Kembali mengenai fanatisme Bao Chunlai. Terdapat gerombolan pecinta Bao Chunlai yang berbasis di Indonesia dan datang dan duduk teratur di daerah VIP dekat lapangan pertandingan. Gerombolan ini membawa spanduk besar bertuliskan aksara Mandarin, “Bao Chunlai Jia You!” (Berjuanglah Bao Chunlai!), yang ternyata di bagian belakang spanduk itu bertuliskan, “Ayo! Indonesia Bisa!”

Selama pertandingan semifinal antara Sony Dwi Kuncoro vs Chunlai, gerombolan tersebut selalu meneriakkan “IN-DO-NE-SIA!” dan “AYO SONYYYY!!!” Tetapi setiap kali bola jatuh dan Chunlai menyeka keringat dengan menghadap ke arah gerombolan tersebut, mereka langsung, “AAAKKHHHH!!!!! BAO CHUNLAAAAIIIIII!!!!!” Duh…

Sumber: badminton-indonesia.com

16 comments 23 Juni 2008

Maria Kristin, Kembang Imut Berpotensi Besar

Tentunya sudah banyak yang mendengar tentang Maria Kristin Yulianti. Atlit tunggal putri merah-putih ini mengejutkan banyak orang ketika dia lolos ke final Indonesia Open Super Series 2008 dengan melewati Yao Jie, Zhou Mi, dan Zhang Ning – semuanya lawan sulit. Tentu saja ini menjadi hadiah berarti bagi dirinya yang akan berulang tahun tanggal 25 Juni nanti.

“Sudah lama tidak ada pemain tunggal putri kita yang mumpuni – dan tentunya juga cute dalam hal tampang,” ujar salah satu pembaca blog ini.

Srikandi kelahiran Tuban, Jawa Tengah ini memang menarik perhatian. Selain mukanya yang seperti masih SMP ini (padahal sudah berumur 23 tahun), permainan Kristin memukau banyak orang. Walaupun mukanya tampak seperti “tidak berpengharapan”, tetapi gayanya diklaim banyak orang mirip dengan salah satu legenda bulutangkis tunggal putri, Susi Susanti.

Bola dia arahkan ke depan, belakang, kiri, kanan – dan semuanya menyilang dan tipis di dekat net atau garis batas. Para pemain kelas atas pun walaupun menang secara teknis, tetap saja kewalahan mengejar semua bola Kristin yang menguras tenaga itu.

Mulai bermain bulutangkis secara serius sejak umur 10 tahun, Kristin masuk ke PB Djarum pada tahun 1998 dan tidak lama setelah Fransisca Ratnasari mulai mandeg, Maria Kristin secara tidak resmi didaulat menjadi pemain utama pelatnas. Tetapi waktu itu terlihat kelemahan stamina Kristin. Walaupun permainannya apik, tetapi staminanya tidak mendukung, sehingga dia pun banyak mengalami kekalahan dari lawan-lawan berperingkat di bawahnya.

Pelatnas pun sigap. Kristin mendapat pelatihan stamina secara khusus. Dan hasilnya, terlihat perbedaan besar antara Kristin di Indonesia Terbuka tahun lalu dan tahun ini. Bahkan stamina Kristin terlihat lebih mumpuni dibandingkan atlit-atlit Tiongkok. Hanya sayang, cedera lututnya lah yang “menghianatinya” kemarin.

“Cape sih, tapi biasa saja, nggak sampai bagaimana,” jelas Kristin tentang kurasan energi setelah melawan Zhu Lin kemarin. “Yang terasa mengganggu adalah sakit di lutut.”

Foto: Antara

Cita-citanya adalah masuk ke 10 besar dunia, dan tentu saja merebut gelar juara di Olimpiade.

Cepat sembuh ya, Kristin. Kita akan terus mendukungmu!

Catatan Prestasi Turnamen “Papan Atas” Kristin

2008 Indonesia Open: runner-up

Piala Uber: finalis (tim)

Jerman Open: perempat final

2007 Taipei Open: perempat final

Indonesia Open: perempat final

83 comments 23 Juni 2008

Balas Kekalahan Campuran dengan Gelar Juara Ganda Putri

Kalah di semifinal ganda campuran, Vita Marissa/Lilyana Natsir balas dendam dengan rebut gelar ganda putri

Senayan, Jakarta, 22 Juni 2008, badminton-indonesia.com – Di final Djarum Indonesia Super Series 2008 hari ini Indonesia merebut dua gelar dari tunggal putra yang all-Indonesian final dan ganda putri. Sony Dwi Kuncoro masih unggul atas Simon Santoso, sedangkan kemenangan Vita Marissa/Lilyana Natsir di piala Uber kemarin terjadi kembali atas Miyuki Maeda/Satoko Suetsuna (Jepang).

Bisa jadi kekalahan Vita Marissa dan Lilyana Natsir di semifinal partai ganda campuran kemarin menjadi cambuk yang baik bagi mereka untuk fokus dan menuai gelar di ganda putri.

“Final” sesungguhnya bagi Vita/Lilyana tampak nyata di semifinal kemarin ketika mereka berhadapan dengan Zhang Yawen/Wei Yili, unggulan pertama, peringkat tiga dunia. Di semifinal ini mereka harus berjuang lewat tiga set selama 67 menit.

“Lebih berat saat di semifinal,” kilah Butet, panggilan akrab Lilyana Natsir.

“Walaupun stamina terkuras juga hari ini [di final – red] tetapi pertandingan kemarin [semifinal – red] lebih puas karena kami menghadapi unggulan pertama dari Tiongkok,” tambah Vita.

Menghadapi Miyuki/Satoko di final sebenarnya hari ini, Vita/Butet terlihat bermain lebih “santai” dan mantap. Pertahanan Miyuki/Satoko pun kacau balau diserang bertubi-tubi oleh pasangan srikandi Indonesia ini sehingga pasangan Jepang ini pun tidak mampu mengembangkan permainannya; mereka terlihat frustrasi menghadapi Vita/Butet. Pertandingan dua set itu pun berjalan cukup cepat untuk sebuah partai final, yakni, 38 menit.

Dari partai tunggal putra antara dua pemuda Indonesia, Sony Dwi Kuncoro dan Simon Santoso, Sony masih terlihat lebih menguasai lapangan dan matang. Pelatih keduanya, Hendrawan, memilih untuk tidak berpihak dan menonton dari jauh saja. Keduanya bertanding atas prakarsa strategi masing-masing.

Simon yang bergaya lebih agresif sempat membuat Sony mandeg di awal pertandingan dan Simon pun mampu merebut set pertama. Tetapi kematangan Sony membawanya memimpin jalannya pertandingan di set kedua dan ketiga. Sony banyak memanfaatkan kelambatan footwork Simon dengan melayangkan pukulan ke segala titik lapangan sehingga Simon sering mati langkah atau terlambat menjemput bola.

Dan ketika gelar tunggal putra itu pun jatuh ke tangan Sony, Sony pun berteriak, mengepalkan tinjunya sambil terlentang di atas lapangan. Ia berhak atas hadiah tunai sebesar US$18.750, sedangkan Simon memperoleh US$7.500.

Total Indonesia memperoleh dua gelar juara. Tiongkok memperoleh gelar dari tunggal putri, Zhu Lin, dan ganda campuran, Zheng Bo/Gao Ling, sedangkan ganda putra jatuh ke tangan Malaysia lewat Fairuzizuan Tazari/Zakry Abdul Latif yang menang atas Candra Wijaya/Tony Gunawan.

Foto Mereka yang Masuk Final

(Sumber: DayLife, dari berbagai sumber)

Maria Kristin Yulianti

Maria Kristin Yulianti of Indonesia returns the shuttlecock against Lin Zhu of China during the women single final match of the Indonesia Open 2008 Super Series badminton tournament in Jakarta on June 22, 2008. Lin defeated Yulianti 21-18, 17-21, 21-14. From Getty Images by AFP/Getty Images.
Simon Santoso
Indonesia's Simon Santoso plays a shot to compatriot Sony Dwi Kuncoro during their men's singles final match at the Djarum Indonesia Super Series 2008 badminton championships in Jakarta June 22, 2008. From Reuters Pictures by REUTERS.
Sony Dwi Kuncoro
Indonesia's Sony Dwi Kuncoro reacts after defeating compatriot Simon Santoso in their men's single final of Djarum Indonesia Open badminton championship in Jakarta, Indonesia, Sunday, June 22, 2008. Sony Dwi Kuncoro won 19- 21, 21-14,21-9. From AP Photo by Achmad Ibrahim.
Vita Marissa/Lilyana Natsir
Indonesia's Vita Marissa, left, and Liliyana Natsir show their prize check after the women's doubles final of Djarum Indonesia Open badminton championship at Istora stadium in Jakarta, Indonesia, Sunday, June 22, 2008. The Indonesian team defeated Chinese teams 21-15, 21-14. From AP Photo by Achmad Ibrahim.
Candra Wijaya/Tony Gunawan
Indonesia's Chandra Wijaya (R) and Tony Gunawan of the U.S. play against Malaysia's Ong Soon Hock and Hoon Thien How during their men's double match at the Djarum Indonesia Super Series 2008 badminton championships in Jakarta June 21, 2008. From Reuters Pictures by REUTERS.

35 comments 23 Juni 2008

Prestasi Terbaik Maria: Sebuah Kekalahan Terhormat

Senayan, Jakarta, 22 Juni 2008, badminton-indonesia.com – Walaupun Maria Kristin Yulianti hari ini gagal menghentikan Zhu Lin (China) di partai final Indonesia Super Series 2008, tetapi Maria tetap menuai pujian luar biasa. Permainannya yang apik dan menyasar segala titik di lapangan lawan membuat Zhu Lin kewalahan sejak dari set pertama. Inilah perjalanan terjauh Maria di turnamen kelas Super Series.

Zhu Lin sudah terlihat mulai terengah-engah di pertengahan set pertama. Dia bahkan sering mengulur waktu, baik untuk menarik nafas maupun mencuri pengarahan dari pelatihnya; perbuatan yang berbuah kartu kuning di set kedua. Di set kedua, stamina Zhu Lin terlihat semakin hancur; mukanya pucat dan keringat mengalir deras di wajahnya.

Maria berhasil merebut set kedua dan menarik Zhu Lin masuk ke set ketiga. Tetapi sayangnya, kalau Zhu Lin hancur stamina, Maria hancur lutut kanannya.

“Dari set kedua lutut saya sudah mulai terasa sakit,” terang Maria setelah pertandingan. “Kalau kemarin-kemarin saya masih bisa tahan badan dengan paha, hari ini seluruh badan sudah kecapaian dan tidak mampu menopang badan lagi.”

Di rubber set, tidak jarang Maria jatuh terduduk atau split lalu sulit bangkit berdiri kembali. Dan Zhu Lin yang mendapat second wind itu pun memanfaatkannya dengan memosisikan bola jauh di luar jangkauan Maria, sampai akhirnya set ketiga itu pun jatuh ke tangan Zhu Lin, 21-14.

Walaupun kalah, penonton di Istora tetap menyoraki Maria, salut atas perjuangan luar biasanya. Di turnamen ini dia bersua dengan lawan sulit sejak dari babak awal. Selain Pia Zebadiah yang dihadapinya di babak pertama, Maria setelahnya juga menundukkan Yao Jie (Perancis), Zhou Mi (Hong Kong, unggulan ketujuh), dan Zhang Ning (Tiongkok, unggulan kedua), sebelum bersua Zhu Lin (Tiongkok, unggulan pertama).

Melawan Zhou Mi dan Zhang Ning, Maria mengerahkan seluruh tenaga dan staminanya untuk menang; dan dia menangi keduanya lewat tiga set selama satu jam. “Siap capai saja kalau ketemu Tiongkok,” kilahnya dua hari lalu setelah menang atas Zhou Mi.

Maria mengatakan secara teknis sebenarnya dia mampu mengimbangi Tiongkok, hanya saja dia masih memiliki PR (pekerjaan rumah) untuk melatih stamina dan kekuatannya. Maria bahkan berpikiran positif dan optimis mengenai Olimpiade Beijing 2008.

Malam ini Maria layak mendapatkan istirahat terbaiknya. Dia telah berjuang keras dan memberikan yang terbaik di turnamen ini. Selamat, Maria. Kita tunggu gelar juara darimu di masa depan!

10 comments 23 Juni 2008


Kategori Artikel

Artikel Terakhir

Komentar Anda

aininalkh di Profil
aininalkh di Mengenai Bultang
nidia ardiani di Balas Kekalahan Campuran denga…
alpina pamugari di Rangking Atlet Indonesia (6 Ag…
selma di Butet: Muda, Keren, dan B…

Kalender

Juni 2008
S S R K J S M
« Mei   Jul »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Bulutangkis

Non-Bulutangkis