Archive for Juni, 2008
Butet: Muda, Keren, dan Berprestasi

Tentunya banyak yang sudah tahu pemain bulutangkis putri yang satu ini. Lilyana Natsir yang biasa dipanggil Butet (atau Yana) ini adalah idola pria dan wanita segala usia di seluruh Indonesia bahkan dunia. Mukanya yang manis tapi cool dan tomboy ini banyak membuat gemas masyarakat.
Ketika ikut di acara Empat Mata, dia banyak menunduk dan bermain-main dengan kakinya ala laki-laki, tetapi dengan ekspresi malu-malu ala kaum Hawa. Dia juga jarang ikut wawancara media dengan alasan yang sama.
Lahir di Manado, 9 September 1985, hanya berbekal lulus SD, Butet nekat “kabur” ke Jawa dengan tekad menjadi pebulutangkis handal. Di Jakarta dia berhasil menggapai impiannya dengan masuk ke klub Tangkas dan lalu ditarik masuk ke pelatnas.
Ketika baru berusia 18 tahun, Butet sudah dipercaya untuk ikut menguatkan tim Indonesia di Piala Sudirman tahun 2003. Dua tahun kemudian, Butet menjadi Juara Dunia bersama Nova Widianto di partai ganda campuran. Gelar itu direbutnya kembali pada tahun 2007.
Selain itu, Butet juga berjaya di kandang “macan” aka Tiongkok. Pada tahun 2007, dia menang di tiga turnamen yang diadakan di Tiongkok dan “pecahannya” dengan menjuarai ganda campuran di China Super Series dan Hong Kong Super Series, dan juara ganda putri bersama Vita Marissa di China Masters.
Butet juga salah satu atlit putri Indonesia yang tomboy dan pantang memakai rok olahraga. “Daripada mainnya jadi tidak konsen…lebih enak pakai celana,” tukasnya.
Dengan usianya yang masih muda – 22 tahun ini – Butet telah menjadi pemain yang disegani di dunia bulutangkis internasional dengan menjadi pemain ganda campuran nomor satu dunia dan pemain ganda putri nomor enam dunia.
Butet tentu saja bermaksud untuk memberikan yang terbaik di kedua partai – ganda campuran dan putri – pada saat Olimpiade Beijing 2008 Agustus nanti.
“Sebenarnya saya lebih fokus ke ganda campuran,” tukasnya sesaat setelah merebut gelar juara di Indonesia Open 2008. “Tapi dengan adanya hasil ini [juara ganda putri Indonesia Open 2008 – red] mudah-mudahan di Olimpiade saya juga bisa sumbang medali dari ganda putri.”
Kita tunggu kabar baiknya ya, Na =)
61 comments 30 Juni 2008
Pelajar Indonesia Berpeluang Rebut Semua Gelar Ganda
Manila, Filipina, 28 Juni 2008 – Di Kejuaraan Bulutangkis ASEAN Antar-Sekolah yang berlangsung di Manila, Filipina, Indonesia berpeluang merebut tiga medali emas di sektor ganda, tetapi semuanya harus melewati para pelajar Thailand terlebih dahulu. Thailand di kejuaraan ini memiliki wakil di semua lima partai. Muhammad Ulinuha dan Della Destiara Haris adalah dua unggulan merah-putih. Keduanya bermain rangkap, di ganda campuran dan ganda putra/putri dan sama-sama melaju ke final. Mereka berdua hari ini berhadapan dengan Bodin Isara/Nuttaya Sanlekanun.
Dari ganda putra, Ulinuha berpasangan dengan Rendy Sugiarto untuk berjibaku melawan Sarayuth Seatung dan Sermsin Wongyaprom, sedangkan di ganda putri, Della yang berpasangan dengan Ni Made Claudia Ayu Wijaya akan berusaha melewati Artima Serithamarak/Chayanit Chaladchalam.
Walaupun bukan prestasi buruk, tetapi pelatnas perlu berhati-hati dan menyalakan lampu kuning. Pasalnya, hanya satu dari enam pelajar kiriman pelatnas yang berhasil lolos ke final – Rendy Sugiarto. Lima lainnya gugur, dan lima pelajar finalis lainnya datang dari berbagai klub bulutangkis Djarum dan Jaya Raya.
Apalagi turnamen ini juga dapat dijadikan sketsa kasar peta persaingan bulutangkis ASEAN 5-7 tahun mendatang. Diperuntukkan hanya bagi mereka yang berusia maksimum 17 tahun, ternyata Thailand yang paling sukses meloloskan finalis. Rasio pelajar Thailand masuk ke final adalah 50% atau satu dari dua wakilnya di tiap partai melaju ke final – setiap negara hanya dapat mengirimkan maksimal dua wakil di tiap partai.
Tentu saja rasio tersebut mengejutkan karena selama ini yang biasanya mendominasi kursi final ASEAN adalah Indonesia atau Malaysia. Di Filipina kali ini, rasio Indonesia ternyata hanya 30%, dimana “hanya” tiga dari total 10 wakil yang melaju ke final, sedangkan Malaysia 20%.
Jadi jika dirangkum, kekuatan ganda Indonesia masih akan digdaya sampai kurang lebih 5-7 tahun ke depan di kawasan ASEAN. Tetapi dari sisi partai tunggal, Indonesia masih perlu berbenah. Ini berbeda dengan Malaysia yang tunggalnya terlihat lebih mumpuni, padahal selama ini kekuatan Malaysia juga ada di partai ganda. Boleh disinyalir bahwa Malaysia selangkah lebih maju dalam mempersiapkan tunas muda partai tunggal dibandingkan Indonesia.
Dan kekuatan Thailand di masa depan perlu diantisipasi. Thailand lima tahun belakangan ini mengalami pertumbuhan signifikan – walaupun masih tergolong lebih lambat dibandingkan India – dalam hal prestasi bulutangkis. Dimulai dari sang “senior”, Boonsak Ponsana (tunggal putra) dan Sudket Prapakamol/Saralee Thoungthongkam (ganda campuran), saat ini Thailadn sudah memiliki lapis dua yang lebih tebal dan juga teilang berprestasi. Jika sekarang tunas mudanya seperti yang terlihat di Filipina ini, maka tidak berlebihan jika Thailand lima tahun lagi akan memiliki lapis yang lebih tebal lagi dan menjadi salah satu negara Asia yang perlu dianggap sebagai lawan serius dalam bulutangkis!
Inilah lampu kuning bagi pelatnas. Perlu diingat bahwa peta persaingan ini belum mencakup beberapa negara adidaya bulutangkis lainnya, seperti Tiongkok dan lepasannya (Hong Kong dan Taipei), Denmark, dan Inggris – dan India yang belakangan ini sangat gencar dan masal dalam pembibitan bulutangkis, dan sedikit-sedikit mulai terlihat sodokannya.
Bersiaplah, Indonesia!
Yang Belajar, Yang Bersaing
Catatan: dalam kurung adalah asal klub/pelatnas, dan yang ebrcetak tebal adalah finalis
Putra: Fernaldi (Tangkas)
Evert Sukamta (Tangkas)
Alrie Gunadarma (Mutiara)
Wahyu Nayaka (Ratih)
Kevin Atonius (Pelatnas)
Angga Pratama (Pelatnas)
Rendy Sugiarto (Pelatnas)
Moh. Ulinuha (Djarum)
Putri: Febby Angguni (Pelatnas)
Siti Anida (Pelatnas)
Ana Rovita (Djarum)
Tiara Rosalia (Mutiara)
Aurien Hudiono (Suryanaga)
Anneke Fenya (Pelatnas)
Ni Made Claudia Ayu Wijaya (Jaya Raya)
Della Destiara Haris (Jaya Raya)
1 comment 28 Juni 2008
Sony, si Kalem Menghanyutkan dari Jawa Timur

Akan segera berulang tahun pada tanggal 7 Juli nanti, tunggal putra nomor satu pelatnas yang merebut gelar di Indonesia Open kemarin ini “dibesarkan” oleh klub Suryanaga Surabaya sebelum masuk ke pelatnas pada tahun 2001.
Prestasi tertingginya tentu saja bukanlah gelar Indonesia Open tersebut. Empat tahun lalu, Sony berhasil menyumbangkan satu medali perunggu untuk Indonesia di Olimpiade Athena 2004 dimana tak lama setelahnya rangkingnya membumbung tinggi menjadi rangking tiga dunia.
Selain itu, Sony juga menjadi runner-up di Kejuaraan Dunia Bulutangkis 2007 dimana dia saat itu kalah terhormat dari macan tunggal putra, Lin Dan. Kala itu, bahkan pelatih senior Tiongkok, Li Yongbo mendatangi Sony langsung dan memberinya salaman dan senyuman, bukti bahwa Sony adalah insan yang perlu diperhitungkan.
Sayangnya dia mengalami cedera di pertengahan tahun 2006, membuat prestasinya merosot. Tentu saja yang paling miris adalah ketika dia harus melewatkan Indonesia Open 2006 yang diadakan di tanah kelahirannya, Surabaya.
Tetapi seperti dikatakan oleh pelatihnya saat ini, Hendrawan, “Saya senang dengan Sony yang matang pemikirannya,” Sony selalu punya motivasi untuk tetap berkembang.
“Setelah sekitar tiga bulan absen (saat itu, tahun 2006 – red), saya pun mampu menemukan penampilan terbaik walau hanya sampai perempat final Hong Kong Open (2006 – red),” tutur Sony tahun lalu setelah menjadi runner-up Kejuaraan Dunia.
Bahkan Sony ketika mengalami transisi pelatih dari Joko Supriyanto ke Hendrawan, dia berpikir positif dan berhati besar.
“Keduanya hebat. Saya ambil kelebihan keduanya untuk menyempurnakan permainan saya,” jelas Sony. “Saya rasa permainan saya masih bisa ditingkatkan.”
Walaupun banyak yang berkata Sony bermain lambat dan kurang agresif, tetapi mental dan pemikirannya luar biasa matang dan dewasa. Hendrawan pun menerima anak didiknya itu apa adanya dan berusaha memaksimalkan Sony dengan karakter miliknya sendiri.
“Kalau dia bisa mendapatkan skor dan menang tanpa harus agresif, kenapa tidak?” Tukas Hendrawan pada saat Indonesia Open 2008 kemarin.
Target selanjutnya tentu saja Olimpiade Beijing 2008. Kemenangannya di Indonesia Open kemarin tentunya menjadi cambuk positif tersendiri bagi harapan penerus Taufik Hidayat ini.
Berjuanglah Sony. Kami terus mendukungmu!

18 comments 27 Juni 2008
Rangking Atlit Indonesia Top 100 (26 Juni 2008)
Indonesia Open telah berakhir. Indonesia boleh berpuas diri untuk sementara. Hasil rangking yang memasukkan poin dari Indonesia Open terbkti mendongkrak banyak atlit kita. Kabar terbaik adalah semakin kuatnya sektor putri kita yang selama bertahun-tahun dianggap tidak ada harapan dan dipandang sebelah mata.
Sebaliknya, sektor putra kita – terutama tunggal – perlu segera berbenah diri. Tongkat estafet itu masih belum dapat diserahkan kepada yang ‘muda’.
Inilah rangking atlit Indonesia di 100 besar dunia.
Catatan: perbandingan dalam kurung adalah dengan rangking 22 Mei 2008
Tunggal Putra
5. Sony Dwi Kuncoro (6) +
7. Taufik Hidayat
8. Simon Santoso (12) +
33. Andre Kurniawan Tedjono (40) + +
46. Tommy Sugiarto (50) +
55. Ari Yuli Wahyu Hartanto (70) + + +
79. Alamsyah Yunus (97) + + +
Semua atlit 100 besar kita di tunggal putra mengalami kenaikan peringkat yang cukup signifikan. Kabar baik pelatnas tentunya datang dari Sony yang masuk ke lima besar, Simon yang masuk ke 10 besar, dan lonjakan drastis Alamsyah. Yang perlu dicermati adalah jurang yang masih sangat renggang antara lapis pertama (Sony, Taufik, Simon) dengan lapis kedua pelatnas (Tommy dan Alam).
Tunggal Putri
23. Maria Kristin Yulianti (31) + +
29. Adriyanti Firdasari (33) +
47. Maria Elfira Christina (65) + + +
60. Pia Zebadiah Bernadet (78) + + +
91. Maria Febe Kusumastuti (106) + + +
92. Fransisca Ratnasari (91) -
97. Sylvinna Kurniawan
Perjuangan srikandi kita luar biasa dari Indonesia Open. Buahnya manis. Mereka yang turun di ajang ini mengalami peningkatan luar biasa. Kristin yang sempat disalip Firda di pertengahan bulan ini kembali merebut posisinya menjadi pemain nomor satu pelatnas. Elfira, Pia, dan Febe juga tampak cepat mengejar posisi para “seniornya”.
Ganda Putra
1. Markis Kido/Hendra Setiawan
7. Candra Wijaya/Tony Gunawan (11) +
8. Luluk Hadiyanto/Alvent Yulianto (7) -
19. Hendra Gunawan/Joko Riyadi
20. Yonatan Suryatama Dasuki/Rian Sukmawan
30. Fran Kurniawan/Rendra Wijaya (40) + +
47. Muhammad Ahsan/Bona Septano (52) +
67. Wifqi Windarto/Afiat Yuris Wirawan (63) -
79. Fernando Kurniawan/Lingga Lie (136) + + + + + >>>
86. Albert Saputra Yanu/Rizky Kresnayadi (127) + + + + + >>>
Walaupun cenderung stabil, tetapi kita perlu bersenang hati dengan hadirnya Fernando/Lingga dan Albert/Rizky di daftar 100 besar dunia yang semakin memperkuat amunisi sektor ini. Kedua pasangan ini tentu saja mengejutkan karena hanya dalam waktu sebulan mereka melompati lebih dari 40 peringkat!
Ganda Putri
6. Vita Marissa/Lilyana Natsir (9) +
14. Jo Novita/Greysia Polii (15) +
20. Rani Mundiastuti/Endang Nursugianti (19) -
24. Shendy Puspa Irawati/Meiliana Jauhari (35) + +
28. Nitya Krishinda Maheswari/Lita Nurlita (29) +
53. Nathalia Christine Poluakan/Yulianti (71) + + +
80. Nadya Melati/Devi Tika Permatasari (87) + +
97. Puspita Richi Dili/Yulianti (58) – - – - – >>>
Penyebaran kekuatan lapisan di sektor ini semakin tangguh saja. Tahun lalu, Indonesia hanya dapat bergantung pada Vita/Lilyana karena Jo waktu itu masih baru pulih dari cederanya sehingga belum dapat bermain maksimal; sedangkan Endang/Rani stagnan. Tetapi tahun ini, Indonesia perlu bergembira! Jurang pemisah antara pelapis satu dan dua semakin sempit saja, dan dalam helat saya, akhir tahun ini para lapis dua sudah dapat menjadi penopang mumpuni bagi lapis satu.
Ganda Campuran
1. Nova Widianto/Lilyana Natsir
4. Flandy Limpele/Vita Marissa
20. Muhammad Rizal/Greysia Polii (29) + +
23. Devin Lahardi Fitriawan/Lita Nurlita
35. Fran Kurniawan/Shendy Puspa Irawati (64) + + + + +
41. Tantowi Akhmad/Yulianti (32) – -
95. Rendra Wijaya/Meiliana Jauhari (baru) WOW!
96. Anggun Nugroho/Endang Nursugianti (121) + + + + +
97. Yonatan Suryatama Dasuki/Meiliana Jauhari (98) +
Kekuatan tim Djarum luar biasa di sektor ini. Fran/Shendy dan Rendra/Meiliana benar-benar mengejutkan massa. Walaupun Indonesia boleh bersenang, tetapi pelatnas perlu menanggapi serius – jangan sampai pasangan asuhan mereka perkembangannya kalah dari Djarum.
45 comments 26 Juni 2008
Thailand Open GP Gold 2008
Thailand Open Grand Prix (GP) Gold
Bangkok, Thailand
24-29 Juni 2009
Total Hadiah: US$120.000
Sekilas Berita: Anehnya China, di laga kelas GP Gold mereka malah mengirimkan banyak pemain kelas satunya yang berada di top 10, di antaranya: Lin Dan (#1 dunia), Xie Xingfang (#1 dunia), Lu Lan (#2 dunia), Fu Haifeng/Cai Yun (#3 dunia), Guo Zhendong/Xie Zhongbo (#8 dunia), Yang Wei/Zhang Jiewen (#1 dunia), Du Jing/Yu Yang (#2 dunia), He Hanbin/Yu Yang (#3 dunia), Xie Zhongbo/Zhang Yawen (#5 dunia). Total: 9 wakil di 5 partai.
Sedangkan di Indonesia Super Series, mereka “hanya” mengirim Bao Chunlai (#3 dunia), Zheng Bo/Gao Ling (#2 dunia), Zhu Lin (#4 dunia), Zhang Ning (#7 dunia), dan Zhang Yawen/Wei Yili (#3 dunia). Total hanya 5 wakil di 4 partai.
Apa yang sedang direncanakan China?
DAFTAR ATLIT INDONESIA
Tunggal Putra
1. Alamsyah Yunus
2. Tommy Sugiarto
3. Andre Kurniawan Tedjono
4. Andreas Adityawarman
5. Ari Yuli Wahyu Hartanto
Tunggal Putri
1. Aprillia Yuswandari (Q)
2. Fransisca Ratnasari
3. Maria Elfira Christina
Ganda Putra
1. Devin Lahardi/Anggun Nugroho (Q)
2. Fernando Kurniawan/Lingga Lie
3. Muhammad Ahsan/Bona Septano
4. Fran Kurniawan/Rendra Wijaya
5. Yonatan Surayatama Dasuki/Rian Sukmawan (5)
Ganda Putri
1. Nitya Krishinda Maheswari/Lita Nurlita
2. Nadya Melati/Devi Tika Permatasari
3. Shendy Puspa Irawati/Meiliana Jauhari (8)
4. Nathalia Christine Poluakan/Yulianti
5. Rani Mundiastuti/Endang Nursugianti (6)
Ganda Campuran
1. Rendra Wijaya/Meiliana Jauhari
2. Fran Kurniawan/Shendy Puspa Irawati (7)
3. Tantowi Akhmad/Yulianti
4. Lingga Lie/Devi Tika Permatasari
5. Devin Lahardi/Lita Nurlita
6. Anggun Nugroho/Endang Nursugianti
8 comments 23 Juni 2008
Catatan Pinggir Lapangan Indonesia Open 2008 (2)

Kucing Pun Pengen Nonton Final IOSS’08
Tidak lupa dengan kehadiran kucing yang juga tidak mau melewatkan serunya final antara … lupa deh. Tiba-tiba ada kucing nyelonong masuk dan nyaris berlari ke dalam lapangan yang sedang tengah bertanding. Untungnya kehadiran si kucing dapat dicegat gesit oleh hakim garis tengah sehingga si kucing tidak sampai masuk ke dalam lapangan. Sekuriti yang berusaha mengejar si kucing pun agak kewalahan karena ternyata si kucing ngumpet di dalam papan segitiga iklan Djarum yang ada di pinggir lapangan. Ketika sekuriti pada ngintip ke dalam segitiganya, ternyata si kucing sudah lolos keluar. Gesit benar sang kucing. Sampai-sampai wakil BWF harus langsung turun tangan untuk mengusir sang kucing…meong!
Jidat Balas Jidat
Pada pertandingan ganda putri, jidat Lilyana Natsir alias Butet sempat kena cium kok sambaran pasangan Jepang, Miyuki Maeda/Satoko Suetsuna. Butet pun keliyengan dan terduduk sambil mengusap-usap jidatnya. Setelah mulai “sadar” kembali, Butet pun berdiri dan Vita mengambil kok dengan raket dan melayangkannya ke tim Jepang. Tak disengaja, ternyata pemberian kok Vita pun mendarat di jidat Satoko Suetsuna! Sontak Istora ramai dengan gelak tawa – bahkan sang wasit pun terkekeh-kekeh. Pertandingan pun “terhenti” selama kurang lebih 2-3 menit karena kedua pasangan itu saling meminta maaf dan mengatakan bahwa mereka tidak sengaja.
Bao Chunlai Grogi?
Pada semifinal kemarin, entah grogi, entah kurang tidur, entah tidak mendengar teriakan sang announcer, Bao Chunlai masuk dengan gagah ke dalam Istora dan segera menaruh tasnya di lapangan yang salah! Panitia pun langsung berlarian ke arahnya dan “menuntunnya” ke jalan yang benar…
Pendukung Dua Muka

Kembali mengenai fanatisme Bao Chunlai. Terdapat gerombolan pecinta Bao Chunlai yang berbasis di Indonesia dan datang dan duduk teratur di daerah VIP dekat lapangan pertandingan. Gerombolan ini membawa spanduk besar bertuliskan aksara Mandarin, “Bao Chunlai Jia You!” (Berjuanglah Bao Chunlai!), yang ternyata di bagian belakang spanduk itu bertuliskan, “Ayo! Indonesia Bisa!”
Selama pertandingan semifinal antara Sony Dwi Kuncoro vs Chunlai, gerombolan tersebut selalu meneriakkan “IN-DO-NE-SIA!” dan “AYO SONYYYY!!!” Tetapi setiap kali bola jatuh dan Chunlai menyeka keringat dengan menghadap ke arah gerombolan tersebut, mereka langsung, “AAAKKHHHH!!!!! BAO CHUNLAAAAIIIIII!!!!!” Duh…
Sumber: badminton-indonesia.com
16 comments 23 Juni 2008
Maria Kristin, Kembang Imut Berpotensi Besar
Tentunya sudah banyak yang mendengar tentang Maria Kristin Yulianti. Atlit tunggal putri merah-putih ini mengejutkan banyak orang ketika dia lolos ke final Indonesia Open Super Series 2008 dengan melewati Yao Jie, Zhou Mi, dan Zhang Ning – semuanya lawan sulit. Tentu saja ini menjadi hadiah berarti bagi dirinya yang akan berulang tahun tanggal 25 Juni nanti.
“Sudah lama tidak ada pemain tunggal putri kita yang mumpuni – dan tentunya juga cute dalam hal tampang,” ujar salah satu pembaca blog ini.
Srikandi kelahiran Tuban, Jawa Tengah ini memang menarik perhatian. Selain mukanya yang seperti masih SMP ini (padahal sudah berumur 23 tahun), permainan Kristin memukau banyak orang. Walaupun mukanya tampak seperti “tidak berpengharapan”, tetapi gayanya diklaim banyak orang mirip dengan salah satu legenda bulutangkis tunggal putri, Susi Susanti.
Bola dia arahkan ke depan, belakang, kiri, kanan – dan semuanya menyilang dan tipis di dekat net atau garis batas. Para pemain kelas atas pun walaupun menang secara teknis, tetap saja kewalahan mengejar semua bola Kristin yang menguras tenaga itu.
Mulai bermain bulutangkis secara serius sejak umur 10 tahun, Kristin masuk ke PB Djarum pada tahun 1998 dan tidak lama setelah Fransisca Ratnasari mulai mandeg, Maria Kristin secara tidak resmi didaulat menjadi pemain utama pelatnas. Tetapi waktu itu terlihat kelemahan stamina Kristin. Walaupun permainannya apik, tetapi staminanya tidak mendukung, sehingga dia pun banyak mengalami kekalahan dari lawan-lawan berperingkat di bawahnya.
Pelatnas pun sigap. Kristin mendapat pelatihan stamina secara khusus. Dan hasilnya, terlihat perbedaan besar antara Kristin di Indonesia Terbuka tahun lalu dan tahun ini. Bahkan stamina Kristin terlihat lebih mumpuni dibandingkan atlit-atlit Tiongkok. Hanya sayang, cedera lututnya lah yang “menghianatinya” kemarin.
“Cape sih, tapi biasa saja, nggak sampai bagaimana,” jelas Kristin tentang kurasan energi setelah melawan Zhu Lin kemarin. “Yang terasa mengganggu adalah sakit di lutut.”
Foto: Antara
Cita-citanya adalah masuk ke 10 besar dunia, dan tentu saja merebut gelar juara di Olimpiade.
Cepat sembuh ya, Kristin. Kita akan terus mendukungmu!
Catatan Prestasi Turnamen “Papan Atas” Kristin
2008 Indonesia Open: runner-up
Piala Uber: finalis (tim)
Jerman Open: perempat final
2007 Taipei Open: perempat final
Indonesia Open: perempat final
85 comments 23 Juni 2008
Balas Kekalahan Campuran dengan Gelar Juara Ganda Putri

Kalah di semifinal ganda campuran, Vita Marissa/Lilyana Natsir balas dendam dengan rebut gelar ganda putri
Senayan, Jakarta, 22 Juni 2008, badminton-indonesia.com – Di final Djarum Indonesia Super Series 2008 hari ini Indonesia merebut dua gelar dari tunggal putra yang all-Indonesian final dan ganda putri. Sony Dwi Kuncoro masih unggul atas Simon Santoso, sedangkan kemenangan Vita Marissa/Lilyana Natsir di piala Uber kemarin terjadi kembali atas Miyuki Maeda/Satoko Suetsuna (Jepang).
Bisa jadi kekalahan Vita Marissa dan Lilyana Natsir di semifinal partai ganda campuran kemarin menjadi cambuk yang baik bagi mereka untuk fokus dan menuai gelar di ganda putri.
“Final” sesungguhnya bagi Vita/Lilyana tampak nyata di semifinal kemarin ketika mereka berhadapan dengan Zhang Yawen/Wei Yili, unggulan pertama, peringkat tiga dunia. Di semifinal ini mereka harus berjuang lewat tiga set selama 67 menit.
“Lebih berat saat di semifinal,” kilah Butet, panggilan akrab Lilyana Natsir.
“Walaupun stamina terkuras juga hari ini [di final – red] tetapi pertandingan kemarin [semifinal – red] lebih puas karena kami menghadapi unggulan pertama dari Tiongkok,” tambah Vita.
Menghadapi Miyuki/Satoko di final sebenarnya hari ini, Vita/Butet terlihat bermain lebih “santai” dan mantap. Pertahanan Miyuki/Satoko pun kacau balau diserang bertubi-tubi oleh pasangan srikandi Indonesia ini sehingga pasangan Jepang ini pun tidak mampu mengembangkan permainannya; mereka terlihat frustrasi menghadapi Vita/Butet. Pertandingan dua set itu pun berjalan cukup cepat untuk sebuah partai final, yakni, 38 menit.
Dari partai tunggal putra antara dua pemuda Indonesia, Sony Dwi Kuncoro dan Simon Santoso, Sony masih terlihat lebih menguasai lapangan dan matang. Pelatih keduanya, Hendrawan, memilih untuk tidak berpihak dan menonton dari jauh saja. Keduanya bertanding atas prakarsa strategi masing-masing.
Simon yang bergaya lebih agresif sempat membuat Sony mandeg di awal pertandingan dan Simon pun mampu merebut set pertama. Tetapi kematangan Sony membawanya memimpin jalannya pertandingan di set kedua dan ketiga. Sony banyak memanfaatkan kelambatan footwork Simon dengan melayangkan pukulan ke segala titik lapangan sehingga Simon sering mati langkah atau terlambat menjemput bola.
Dan ketika gelar tunggal putra itu pun jatuh ke tangan Sony, Sony pun berteriak, mengepalkan tinjunya sambil terlentang di atas lapangan. Ia berhak atas hadiah tunai sebesar US$18.750, sedangkan Simon memperoleh US$7.500.
Total Indonesia memperoleh dua gelar juara. Tiongkok memperoleh gelar dari tunggal putri, Zhu Lin, dan ganda campuran, Zheng Bo/Gao Ling, sedangkan ganda putra jatuh ke tangan Malaysia lewat Fairuzizuan Tazari/Zakry Abdul Latif yang menang atas Candra Wijaya/Tony Gunawan.
Foto Mereka yang Masuk Final
(Sumber: DayLife, dari berbagai sumber)
Maria Kristin Yulianti





35 comments 23 Juni 2008
Prestasi Terbaik Maria: Sebuah Kekalahan Terhormat

Senayan, Jakarta, 22 Juni 2008, badminton-indonesia.com – Walaupun Maria Kristin Yulianti hari ini gagal menghentikan Zhu Lin (China) di partai final Indonesia Super Series 2008, tetapi Maria tetap menuai pujian luar biasa. Permainannya yang apik dan menyasar segala titik di lapangan lawan membuat Zhu Lin kewalahan sejak dari set pertama. Inilah perjalanan terjauh Maria di turnamen kelas Super Series.
Zhu Lin sudah terlihat mulai terengah-engah di pertengahan set pertama. Dia bahkan sering mengulur waktu, baik untuk menarik nafas maupun mencuri pengarahan dari pelatihnya; perbuatan yang berbuah kartu kuning di set kedua. Di set kedua, stamina Zhu Lin terlihat semakin hancur; mukanya pucat dan keringat mengalir deras di wajahnya.
Maria berhasil merebut set kedua dan menarik Zhu Lin masuk ke set ketiga. Tetapi sayangnya, kalau Zhu Lin hancur stamina, Maria hancur lutut kanannya.
“Dari set kedua lutut saya sudah mulai terasa sakit,” terang Maria setelah pertandingan. “Kalau kemarin-kemarin saya masih bisa tahan badan dengan paha, hari ini seluruh badan sudah kecapaian dan tidak mampu menopang badan lagi.”
Di rubber set, tidak jarang Maria jatuh terduduk atau split lalu sulit bangkit berdiri kembali. Dan Zhu Lin yang mendapat second wind itu pun memanfaatkannya dengan memosisikan bola jauh di luar jangkauan Maria, sampai akhirnya set ketiga itu pun jatuh ke tangan Zhu Lin, 21-14.
Walaupun kalah, penonton di Istora tetap menyoraki Maria, salut atas perjuangan luar biasanya. Di turnamen ini dia bersua dengan lawan sulit sejak dari babak awal. Selain Pia Zebadiah yang dihadapinya di babak pertama, Maria setelahnya juga menundukkan Yao Jie (Perancis), Zhou Mi (Hong Kong, unggulan ketujuh), dan Zhang Ning (Tiongkok, unggulan kedua), sebelum bersua Zhu Lin (Tiongkok, unggulan pertama).
Melawan Zhou Mi dan Zhang Ning, Maria mengerahkan seluruh tenaga dan staminanya untuk menang; dan dia menangi keduanya lewat tiga set selama satu jam. “Siap capai saja kalau ketemu Tiongkok,” kilahnya dua hari lalu setelah menang atas Zhou Mi.
Maria mengatakan secara teknis sebenarnya dia mampu mengimbangi Tiongkok, hanya saja dia masih memiliki PR (pekerjaan rumah) untuk melatih stamina dan kekuatannya. Maria bahkan berpikiran positif dan optimis mengenai Olimpiade Beijing 2008.
Malam ini Maria layak mendapatkan istirahat terbaiknya. Dia telah berjuang keras dan memberikan yang terbaik di turnamen ini. Selamat, Maria. Kita tunggu gelar juara darimu di masa depan!
10 comments 23 Juni 2008
Hendrawan: Sempat Berantem dengan Simon


Senayan, Jakarta, 21 Juni 2008, badminton-indonesia.com – Pelatih tunggal putra pelatnas Indonesia, Hendrawan, mengakui bahwa dia sempat bersitegang dengan Simon Santoso, atlit tunggal putra ketiga Indonesia tatkala dirinya memutuskan untuk “mengandangkan” Simon selama tiga bulan sebelum Piala Thomas 2008 untuk pelatihan dan pematangan.
“Yah waktu itu dapat dikatakan Simon dan saya sempat berkelahi,” jelas Hendrawan kala wawancara setelah Simon menang melawan Kenichi Tago di semifinal Indonesia Open hari ini. “Simon saat itu tidak terima tidak diberangkatkan ke tur Eropa.”
Simon saat itu absen turnamen dari Februari hingga awal April. Dia tidak diberangkatkan ke dua turnamen kelas atas Eropa, All England dan Swiss Open Super Series, dan baru mulai muncul kembali di Kejuaraan Asia pada pertengahan April dimana langkahnya terhenti di babak ketiga oleh Chen Jin (CHN).
“Indonesia Open Super Series ini dapat dikatakan adalah pembuktian Simon atas kerja kerasnya selama tiga bulan tersebut,” lanjut Hendrawan. “Perjuangannya patut dihargai.”
Bocah Tegal ini memang patut didukung. Dia kembali menjadi finalis turnamen Super Series setelah sebelumnya menjadi finalis Swiss Super Series 2007 dan Singapura Super Series 2008 bulan ini. Dalam kancah Super Series, prestasi ini lebih baik dari Sony Dwi Kuncoro, top gun pelatnas saat ini yang sebelumnya tidak pernah masuk final ajang Super Series apa pun. Bahkan Taufik Hidayat pun hanya pernah sekali menjadi finalis Super Series, yakni di Jepang Super Series 2007.
Pertandingan esok akan menjadi menarik karena kita akan disuguhi dua gaya permainan yang berbeda antara Sony yang bergaya lambat dan berhati-hati dan Simon yang lebih agresif dan pantang mundur.
“Tidak ada saya menyarankan siapa harus mengalah terhadap siapa,” tanggap Hendrawan terhadap pertanyaan wartawan mengenai apakah akan ada yang disuruh mengalah di all-Indonesian final tunggal putra esok hari. “Saya bukan pelatih semacam itu.”
Ya! Tentu saja! Indonesia tidak butuh kemudahan! Indonesia akan berjuang sepenuh hati sampai titik darah penghabisan!
Berjuanglah tim merah-putih!
31 comments 22 Juni 2008