Archive for Mei 19th, 2008

Menilik Kekalahan Tim Indonesia di Piala Thomas

Mungkin banyak yang mengira bahwa di atas kertas Korea berada di bawah kita sehingga banyak yang menyayangkan kekalahan tim kita kemarin di semifinal Thomas Cup. Tapi apakah yang sebenarnya memang demikian? Mari kita tilik sebentar catatan para pemain.

Sony vs Park Sung Hwan

Sony berada di peringkat 6 dunia, sedangkan Sung Hwan 8 dunia — atau bisa dikatakan berimbang, karena perbedaan 2 peringkat dapat dikatakan sejajar dalam penampilan. Skor pertemuan mereka berdua berpihak lebih ke Sung Hwan — terakhir mereka bertemu, Sung Hwan pula yang menang. Catatan rebut gelar Sung Hwan juga lebih kinclong daripada Sony. Dia merebut gelar di Kejuaraan Asia tahun ini. Sony di tahun ini belum sempat merebut gelar apa pun. Di atas kertas, Sung Hwan memang di atas Sony.

Markis/Hendra vs Lee Yong Dae/Jung Jae Sung

Jika KinDra berada di peringkat 1 dunia, Lee/Jung mengintai dekat sekali di peringkat 3 dunia. Skor pertemuan mereka pun sangat ketat, 3-2 untuk KinDra sebelum Piala Thomas — tanda bahwa kedua pasangan adalah lawan seimbang. Secara gelar pada tahun ini, KinDra jelas kalah. KinDra “hanya” pernah merebut gelar Malaysia Super Series, sedangkan Lee/Jung belum sampai pertengahan tahun tetapi sudah sukses merebut All England, Swiss Super Series, dan Kejuaraan Asia. DAlam 3 bulan belakangan ini, Lee/Jung sangat konsisten. Mereka selalu berhasil setidaknya lolos sampai semifinal di 5 turnamen bergengsi. Di atas kertas, kedua pasangan sangat berimbang, bahkan favorable lebih mengarah ke Lee/Jung.

Taufik vs Lee Hyun Il

Skor pertemuan adalah 3-2 untuk Taufik, tetapi secara prestasi gelar juara, Hyun Il berada di atas Taufik karena dia menang di Korea Terbuka dan Jerman Terbuka, sedangkan Taufik nihil. Dari data ini saja terlihat bahwa mereka adalah lawan seimbang.

Jadi, kekalahan tim Thomas Indonesia di semifinal kemarin sebenarnya bukanlah sesuatu yang amat sangat mengejutkan. Di atas kertas, mereka adalah lawan sulit. Kita punya kelebihan dari sisi suporter yang jauh lebih banyak; tetapi para pemain Korea ini pun merebut gelar di lahan yang “kurang bersahabat” bagi mereka; jadi dapat dikatakan mental mereka bukan main-main.

Ditambah lagi memang ada trademark pemain Indonesia yang cenderung telat panas…yang tentunya sangat berbahaya karena dengan lawan yang berimbang seperti ini, penyakit “telat panas” dapat mengakibatkan hilangnya momentum, apalagi dengan skor reli yang tidak menyisakan ruang untuk kesalahan sedikit pun.

Secara garis besar, kekalahan Indonesia dapat dimaklumi, dan juga bukan sesuatu yang memalukan seperti yang kita sangka bahwa mereka kalah dari tim “yang lebih lemah”. Ahli strategi Korea terbukti piawai. Sengaja menjadi buntut grup, mereka menilik boks semifinal yang lebih mudah bagi mereka, yakni melawan Denmark. Mereka pun menghindari menjadi juara grup, karena juara grup mereka akan berhadapan dengan China di semifinal. Mereka melihat bahwa akan lebih baik menyimpan stamina dan pemain lapis satu di babak penyisihan (dengan menjadi buntut grup) untuk kemudian melawan Denmark dan Indonesia kemudian, daripada menjadi juara grup dengan “ngotot” (karena harus menang melawan Malaysia dan Inggris yang berada satu grup dengan mereka – keduanya bukan lawan mudah), lalu di semifinal harus ngos-ngosan lagi melawan China untuk ke final.

Korea tidak hanya memiliki atlit yang handal, tetapi juga strategi yang cantik.

Bandingkan dengan Indonesia. Dari awal kita sudah ngotot dengan lapis pertama untuk jadi juara grup, padahal untuk jadi juara grup, kita tidak perlu terlalu ngotot karena lawan “hanyalah” Thailand dan Jerman. Kita bisa me-utilisasi Tommy Sugiarto, misalnya Sony, Simon, Tommy melawan Jerman, dan Taufik, Simon, Tommy (bagaimanapun rekor Taufik vs Boonsak Ponsana lebih baik daripada Sony vs Boonsak) melawan Thailand — sehingga dua tumpuan kita di tunggal putra (Sony dan Taufik) dapat beristirahat lebih. Ganda putra juga sebenarnya dapat diberikan ke Hendra/Joko dan Candra/Nova di kedua pertandingan, sehingga Markis/Hendra dapat menyimpan stamina untuk perempat final dan selanjutnya.

Kemarin yang terjadi adalah, semua tombak utama Indonesia turun dari awal; bahkan Tommy tidak sempat turun sama sekali dan Candra/Nova hanya sempat turun sekali dari total empat pertandingan. Bisa jadi para tombak utama kita yang HARUS BERMAIN (karena – maaf saja – sudah bukan tempat Tommy untuk turun) di semifinal sudah lebih kehabisan stamina dibandingkan para pemain Korea.

Jadi baik dari sisi strategi, stamina, dan track record, dapat dikatakan tim Indonesialah yang berada di bawah angin dan Korealah yang di atas angin.

Setelah melihat catatan ini saya jadi lebih mafhum terhadap kekalahan Indonesia…walaupun tentu saja bukan alasan untuk membenarkan kekalahan. Tetapi kita belajar banyak dari Korea — bahwa dalam turnamen grup seperti ini, strategi tidak cukup hanya sebatas strategi permainan per partai, tetapi juga perlu memikirkan strategi pemain yang turun ke lapangan.

Semoga kekalahan ini dapat menjadi pelajaran yang baik bagi PBSI untuk lebih berpikir panjang dalam meramu strategi.

15 comments 19 Mei 2008


Kategori Artikel

Artikel Terakhir

Komentar Anda

fitri di Maria Kristin, Kembang Imut Be…
aan di Rangking Atlet Indonesia (6 Ag…
INEZZZZ di Ahsan, Putra Kebanggaan P…
Bagjalia agustina {l… di Maria Kristin, Kembang Imut Be…
alpina pamugari di Rangking Atlet Indonesia (6 Ag…

Kalender

Mei 2008
S S R K J S M
« Mar   Jun »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Bulutangkis

Non-Bulutangkis