Archive for Mei, 2008

Peringkat Atlit Indonesia Top 100 (22 Mei 2008)

Tunggal Putra

6. Sony Dwi Kuncoro
7. Taufik Hidayat
12. Simon Santoso
40. Andre Kurniawan Tedjono
50. Tommy Sugiarto
71. Ari Yuli Wahyu Hartanto
97. Yunus Alamsyah

Tunggal Putri

31. Maria Kristin Yulianti
33. Adriyanti Firdasari
65. Maria Elfira Christina
78. Pia Zebadiah Bernadet
91. Fransisca Ratnasari
97. Sylvina Kurniawan

Ganda Putra

1. Markis Kido/Hendra Setiawan
7. Luluk Hadiyanto/Alvent Yulianto
11. Tony Gunawan/Candra Wijaya
19. Hendra Gunawan/Joko Riyadi
20. Yonatan Surayatama Dasuki/Rian Sukmawan
40. Fran Kurniawan/Rendra Wijaya
52. Muhammad Ahsan/Bona Septano
63. Wifqi Windarto/Afiat Yuris Wirawan

(113) Nova Widianto/Candra Wijaya

Ganda Putri

9. Lilyana Natsir/Vita Marissa
15. Jo Novita/Greysia Polii
19. Rani Mundiastuti/Endang Nursugianti
29. Nitya Krishinda Maheswari/Lita Nurlita
35. Shendy Puspa Irawaty/Meiliana Jauhari
58. Puspita Richi Dili/Yulianti
71. Nathalia Christina Poluakan/Yulianti
87. Nadya Melati/Devi Tika Permatasari

Ganda Campuran

1. Nova Widianto/Lilyana Natsir
4. Flandy Limpele/Vita Marissa
23. Devin Lahardi/Lita urlita
29. Muhammad Rizal/Greysia Polii
32. Tantowi Akhmad/Yulianti
64. Fran Kurniawan/Shendy Puspa Irawaty
98. Yonatan Suryatama Dasuki/Meiliana Jauhari

Sekilas Berita

Sepertinya kedigdayaan pentolan ganda putra negeri bambu mulai runtuh. Jika dulu Fu Haifeng/Cai Yung bertengger lama di peringkat satu dunia, mereka tahun ini tersepak oleh ganda putra Indonesia, Markis Kido/Hendra Setiawan. Minggu ini, mereka kembali tersepak. Kali ini turun dari peringkat 2 ke peringkat 3, bertukar “tahta” dengan ganda putra terbaik negeri ginseng, Lee Yong Dae/Jung Jae Sung. Dapat dikatakan Lee/Jung dengan prestasinya yang konsisten, saat ini telah menjadi ancaman ebrarti bagi pasangan ganda putra mana pun!

25 comments 23 Mei 2008

Menilik Kekalahan Tim Indonesia di Piala Thomas

Mungkin banyak yang mengira bahwa di atas kertas Korea berada di bawah kita sehingga banyak yang menyayangkan kekalahan tim kita kemarin di semifinal Thomas Cup. Tapi apakah yang sebenarnya memang demikian? Mari kita tilik sebentar catatan para pemain.

Sony vs Park Sung Hwan

Sony berada di peringkat 6 dunia, sedangkan Sung Hwan 8 dunia — atau bisa dikatakan berimbang, karena perbedaan 2 peringkat dapat dikatakan sejajar dalam penampilan. Skor pertemuan mereka berdua berpihak lebih ke Sung Hwan — terakhir mereka bertemu, Sung Hwan pula yang menang. Catatan rebut gelar Sung Hwan juga lebih kinclong daripada Sony. Dia merebut gelar di Kejuaraan Asia tahun ini. Sony di tahun ini belum sempat merebut gelar apa pun. Di atas kertas, Sung Hwan memang di atas Sony.

Markis/Hendra vs Lee Yong Dae/Jung Jae Sung

Jika KinDra berada di peringkat 1 dunia, Lee/Jung mengintai dekat sekali di peringkat 3 dunia. Skor pertemuan mereka pun sangat ketat, 3-2 untuk KinDra sebelum Piala Thomas — tanda bahwa kedua pasangan adalah lawan seimbang. Secara gelar pada tahun ini, KinDra jelas kalah. KinDra “hanya” pernah merebut gelar Malaysia Super Series, sedangkan Lee/Jung belum sampai pertengahan tahun tetapi sudah sukses merebut All England, Swiss Super Series, dan Kejuaraan Asia. DAlam 3 bulan belakangan ini, Lee/Jung sangat konsisten. Mereka selalu berhasil setidaknya lolos sampai semifinal di 5 turnamen bergengsi. Di atas kertas, kedua pasangan sangat berimbang, bahkan favorable lebih mengarah ke Lee/Jung.

Taufik vs Lee Hyun Il

Skor pertemuan adalah 3-2 untuk Taufik, tetapi secara prestasi gelar juara, Hyun Il berada di atas Taufik karena dia menang di Korea Terbuka dan Jerman Terbuka, sedangkan Taufik nihil. Dari data ini saja terlihat bahwa mereka adalah lawan seimbang.

Jadi, kekalahan tim Thomas Indonesia di semifinal kemarin sebenarnya bukanlah sesuatu yang amat sangat mengejutkan. Di atas kertas, mereka adalah lawan sulit. Kita punya kelebihan dari sisi suporter yang jauh lebih banyak; tetapi para pemain Korea ini pun merebut gelar di lahan yang “kurang bersahabat” bagi mereka; jadi dapat dikatakan mental mereka bukan main-main.

Ditambah lagi memang ada trademark pemain Indonesia yang cenderung telat panas…yang tentunya sangat berbahaya karena dengan lawan yang berimbang seperti ini, penyakit “telat panas” dapat mengakibatkan hilangnya momentum, apalagi dengan skor reli yang tidak menyisakan ruang untuk kesalahan sedikit pun.

Secara garis besar, kekalahan Indonesia dapat dimaklumi, dan juga bukan sesuatu yang memalukan seperti yang kita sangka bahwa mereka kalah dari tim “yang lebih lemah”. Ahli strategi Korea terbukti piawai. Sengaja menjadi buntut grup, mereka menilik boks semifinal yang lebih mudah bagi mereka, yakni melawan Denmark. Mereka pun menghindari menjadi juara grup, karena juara grup mereka akan berhadapan dengan China di semifinal. Mereka melihat bahwa akan lebih baik menyimpan stamina dan pemain lapis satu di babak penyisihan (dengan menjadi buntut grup) untuk kemudian melawan Denmark dan Indonesia kemudian, daripada menjadi juara grup dengan “ngotot” (karena harus menang melawan Malaysia dan Inggris yang berada satu grup dengan mereka – keduanya bukan lawan mudah), lalu di semifinal harus ngos-ngosan lagi melawan China untuk ke final.

Korea tidak hanya memiliki atlit yang handal, tetapi juga strategi yang cantik.

Bandingkan dengan Indonesia. Dari awal kita sudah ngotot dengan lapis pertama untuk jadi juara grup, padahal untuk jadi juara grup, kita tidak perlu terlalu ngotot karena lawan “hanyalah” Thailand dan Jerman. Kita bisa me-utilisasi Tommy Sugiarto, misalnya Sony, Simon, Tommy melawan Jerman, dan Taufik, Simon, Tommy (bagaimanapun rekor Taufik vs Boonsak Ponsana lebih baik daripada Sony vs Boonsak) melawan Thailand — sehingga dua tumpuan kita di tunggal putra (Sony dan Taufik) dapat beristirahat lebih. Ganda putra juga sebenarnya dapat diberikan ke Hendra/Joko dan Candra/Nova di kedua pertandingan, sehingga Markis/Hendra dapat menyimpan stamina untuk perempat final dan selanjutnya.

Kemarin yang terjadi adalah, semua tombak utama Indonesia turun dari awal; bahkan Tommy tidak sempat turun sama sekali dan Candra/Nova hanya sempat turun sekali dari total empat pertandingan. Bisa jadi para tombak utama kita yang HARUS BERMAIN (karena – maaf saja – sudah bukan tempat Tommy untuk turun) di semifinal sudah lebih kehabisan stamina dibandingkan para pemain Korea.

Jadi baik dari sisi strategi, stamina, dan track record, dapat dikatakan tim Indonesialah yang berada di bawah angin dan Korealah yang di atas angin.

Setelah melihat catatan ini saya jadi lebih mafhum terhadap kekalahan Indonesia…walaupun tentu saja bukan alasan untuk membenarkan kekalahan. Tetapi kita belajar banyak dari Korea — bahwa dalam turnamen grup seperti ini, strategi tidak cukup hanya sebatas strategi permainan per partai, tetapi juga perlu memikirkan strategi pemain yang turun ke lapangan.

Semoga kekalahan ini dapat menjadi pelajaran yang baik bagi PBSI untuk lebih berpikir panjang dalam meramu strategi.

15 comments 19 Mei 2008

Kalah = Malu-Maluin?

Jika kita telah berjuang sekerasnya dan memberikan yang terbaik, kenapa harus malu?

Saya menonton semifinal Thomas Cup Indonesia melawan Korea. Banyak yang merasa “malu” karena kita kalah oleh Korea yang “underdog”. Saya mau tidak mau harus menyanggah hal ini.

Mungkin pelatih Korea menyebut timnya the underdog, tetapi di atas kertas mereka sama sekali bukan underdog. Ganda putra mereka hebat bin solid. Ganda putra pertama mereka, Lee Yong Dae/Jung Jae Sung, adalah nomor tiga dunia — dapat dikatakan sejajar dengan Markis/Hendra. Tahun ini saja, Lee/Jung sukses merebut gelar di All England, Swiss Super Series, dan Kejuaraan Asia. Mereka juga sejajar dengan ganda utama China, Cai Yun/Fu Haifeng — dan juga pernah mengalahkan mereka.

Tunggal mereka pun sama sekali bukan underdog. Park Sung Hwan dan Lee Hyun Il adalah pemain top 10 dunia. Sung Hwan juga menemani Lee/Jung merebut gelar Kejuaraan Asia tahun ini. Sedangkan, Hyun Il sukses di Korea Super Series dan Jerman Terbuka tahun ini. Sama sekali bukan lawan mudah.

Saya melihat Sony bermain dengan amat sangat baik sekali ketika melawan Sung Hwan, tetapi apa daya jika keberuntungan berpihak ke Sung Hwan. Banyak permainan bibir net Sung Hwan sukses melewati net, tetapi bola permainan bibir net Sony seakan enggan turun di lapangan lawan. Begitu jug yang terjadi pada Taufik ketika melawan Hyun Il. Markis/Hendra pun bukannya bermain buruk; mereka hanya kehilangan momentum.

Dan untuk semua jerih payah dan semangat juang para atlit kita — walaupun harus mengaku kalah — sudah seharusnya kita tetap berada di belakang mereka, menepuk pundak mereka, dan mengucapkan: “Terima Kasih!” Terima kasih untuk perjuangan mereka bagi negeri kita. Terima kasih karena di bawah tekanan yang besar, mereka telah melakukan yang terbaik. Dan, terima kasih karena mereka memberikan jerih terbaik di atas lapangan itu.

Dan jika akhirnya tim Uber kita harus puas dengan hanya menjadi finalis…kenapa juga kita harus bersedih? Nyatanya mereka telah memberikan LEBIH daripada yang kita kira. Tim Uber kita diperkirakan hanya bertahan sampai perempat final, atau mentok sampai semifinal. Mereka bisa lolos sampai ke final, itu sudah lebih daripada yang diperkirakan. Kita seharusnya bangga dan bahagia untuk prestasi yang mereka capai ini.

Tim putri kita berhasil menundukkan Jepang yang di atas kertas berada di atas kita. Dan mereka juga berhasil lolos ke final dan berhadapan dengan China — yang tentunya tidak diperkirakan sama sekali oleh siapa pun, bahkan oleh China dan kita sendiri.

Memang tidak pada tempatnya kita berpuas diri karena nyatanya memang masih banyak PR yang belum dikerjakan, baik oleh atlit, pelatih, PBSI, pelatnas, pemerintah, dan bahkan oleh masyarakat kita sendiri untuk mengembangkan olahraga ini kembali menjadi kembang negara kita.

Tetapi satu hal yang pasti membahagiakan adalah melihat bahwa bibit-bibit generasi baru itu telah mulai berkembang dan mulai mekar.

Tunggulah sampai mekar sempurna, dan kita akan melihat bulutangkis Indonesia merebut kembali kejayaannya!

BRAVO BULUTANGKIS INDONESIA!

7 comments 17 Mei 2008

Atlit Bulutangkis Indonesia: Yang Harum Yang Terselubung

Di tengah “hiruk-pikuk” ajang Piala Thomas/Uber yang berlangsung di Jakarta minggu ini, saya iseng bertanya pada atau bertukar pikiran dengan beberapa orang yang ada di sekitar saya – dari yang saya kenal baik, kurang kenal, sampai yang tidak saya kenal sama sekali. Saya mengangkat topik mengenai perbulutangkisan Indonesia. Betapa saya sedih bahwa ternyata banyak dari mereka yang urung mengikuti perkembangan bulutangkis Indonesia (dan para atlitnya) karena alasan ini:

”…habisnya kita kalah melulu.”

Sedih dan miris, dengan hati-hati dan berdasar banyak fakta, saya mengumandangkan prestasi anak negeri yang SERING MENANG dan pun membanggakan kepada mereka! Fakta yang sering saya pakai di antaranya:

· Banyak atlit kita dari yunior sampai senior yang menang di turnamen internasional, tetapi pemberitaannya amat sangat minim di dalam negeri; tapi kalau kalah, beritanya kemana-mana. Tidak heran rakyat kita sendiri tahunya atlit kita kalah terus, tidak pernah menang

· Saat ini ganda putra dan ganda campuran kita menempati RANGKING SATU DUNIA

· Ganda putri kita dianggap ancaman serius oleh si negeri bambu, karena China pernah kecolongan gelar di negerinya sendiri pada saat China Super Series 2007. Gelar itu jatuh ke tangan Lilyana Natsir/Vita Marissa. Padahal China sudah bertahun-tahun menyimpan gelar itu rapi di negaranya sendiri

Dan saya percaya pasti masih banyak lagi yang dapat dibanggakan dari prestasi bulutangkis anak-anak negeri kita ini.

Setelah saya membeberkan beragam fakta tersebut dengan antusias, mereka terperangah, terkejut, dan tidak menyangka sama sekali – bukti bahwa kabut gelap yang menutupi mata mereka ketika memandang atlit bulutangkis Indonesia sedikit-sedikit mulai menguap.

Betapa saya ingin mengumandangkan ke seluruh negeri ini bahwa anak-anak negeri ini dipandang serius dan ditakuti di negara-negara lain ketika mereka turun ke lapangan dengan berbekal sebuah raket!

Tidak ada lagi nama Indonesia yang tercemar karena isu-isu dan tindakan-tindakan negatif. Yang ada hanya perjuangan keringat dan air mata mereka yang disoraki oleh penonton yang bahkan bukan berkebangsaan Indonesia!

Tentunya tindakan patriotik dan mengangkat martabat Indonesia ini adalah berita dan cerita yang layak tulis dan layak sebar ke penjuru negeri. Kebanggaan ini tentunya akan berlipat ganda jika perjuangan dan prestasi mereka ini diketahui dan didukung penuh oleh segenap bangsanya sendiri.

Teruslah berjuang para pejuang Indonesia!

34 comments 13 Mei 2008

Thomas/Uber Cup 2008

Putaran Final Piala Thomas dan Uber 2008
Istora Senayan, Gelora Bung Karno
Jakarta, Indonesia

11-18 Mei 2008

JADWAL

11 Mei 2008

8 a.m. THO Jerman vs Thailand; THO China vs Nigeria; UBE China vs AS; UBE Malaysia vs Selandia Baru
1 p.m. THO Denmark vs Selandia Baru; THO Malaysia vs Inggris (TV); UBE Jepang vs Indonesia (TV); UBE Korea vs Rusia
6 p.m. THO Indonesia vs Thailand (TV); THO Kanada vs Nigeria; UBE Denmark vs Selandia Baru (TV); UBE Jerman vs AS

12 Mei 2008

8 a.m. THO Jepang vs Selandia Baru; UBE Jepang vs Belanda; THO Korea vs Inggris; UBE Hong Kong vs Rusia
1 p.m. THO China vs Kanada; THO Indonesia vs Jerman (TV); UBE China vs Jerman (TV); UBE Malasyia vs Denmark
6 p.m. UBE Korea vs Hong Kong; UBE Indonesia vs Belanda (TV); THO Denmark vs Jepang (TV); THO Malaysia vs Korea

13 Mei 2008: Perempat final mulai dari pukul 13:00

14 Mei 2008: Perempat final mulai dari pukul 13:00

15 Mei 2008: Semifinal Piala Uber mulai dari pukul 13:00

16 Mei 2008: Semifinal Piala Thomas mulai dari pukul 13:00

17 Mei 2008: Final Piala Uber mulai dari pukul 18:00

18 Mei 2008: Final Piala Thomas mulai dari pukul 18:00

Tiket dapat dibeli langsung di Istora Senayan atau dengan menggunakan kartu kredit atau debet BRI dapat membeli di BRI cabang-cabang utama (Sudirman, Mall Artha Gading, Kelapa Gading, dan loket BRi Istora Senayan) dan mendapatkan bonus buy 1 get 1 dengan maksimal pembelian tiga tiket (berarti total enam tiket).

Untuk tiket pensyisihan tanggal 11-12 Mei, sudah mulai dapat dibeli dari satu hari sebelumnya. Untuk tiket 13-18 Mei, tiket dapat dibeli pada hari H mulai dari pukul 10 pagi.

Harga Tiket

Babak Penyisihan (11-12 Mei): Rp 20.000 (Kelas 1); Rp 50.000 (VIP)
Babak perempat final sampai final (13-18 Mei): Rp 75.000 (kelas 1); Rp 150.000 (VIP)

INI KANDANG KITA, BUNG!

13 comments 9 Mei 2008


Kategori Artikel

Artikel Terakhir

Komentar Anda

selma di Butet: Muda, Keren, dan B…
ika.kusumawardani di Maria Kristin, Kembang Imut Be…
Agus Tular di TV dan “Masalahnya…
taufik fajar prasety… di Rangking Atlet Indonesia (6 Ag…
zoe di Ahsan, Putra Kebanggaan P…

Kalender

Mei 2008
S S R K J S M
« Mar   Jun »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Bulutangkis

Non-Bulutangkis